10

1.7K 240 59
                                        


Di antara banyak tamu yang datang, Luna telah menjadi pusat perhatian sejak datang bersama Dante. Orang-orang memberi ucapan selamat untuk film perdana yang mereka bintangi berdua, sekaligus ucapan selamat berulang pada hubungan keduanya yang direstui penggemar.

Luna mengitari pandangan, tatapannya berhenti lurus pada James yang berselang tujuh meja. Mereka sempat bersitatap tapi James pura-pura tidak melihat, sibuk ngobrol dengan pacar baru yang bertingkah kelewat tidak peduli sebelum menjauhi meja. Entah pergi kemana gadis itu.

Luna ingin sekali berasumsi hubungan James dan Seraphina palsu, mereka tak memiliki kemistri dan gelagat James kentara sedang menyetir gadis itu. Ditambah lagi, Sera terlalu pendek untuk James, kurus, jauh dari tipe ideal James yang lebih menyukai perempuan sintal dan semampai.

Luna menyambar gelas di meja dan meminumnya hingga tandas, mengabaikan tatapan heran dari asistennya di seberang meja. Tidak pernah terlintas sekali pun dalam pikiran Luna, kalau hari ini James benar-benar datang dan membawa pasangan, James tidak suka acara keartisan apalagi sambil membawa gandengan. Kalau pun datang, James biasanya membawa Kirana.

James risih sorot kamera apa lagi pertanyaan orang-orang yang penasaran pada privasi sang konglomerat. Nama James selalu disebut sebagai pewaris yang menolak menerima warisan, memilih merintis karir sebagai pengacara dari nol sampai menjadi salah satu pengacara dengan bayaran termahal dan James muak sekali dengan berita semacam itu.

"Luna, kemana Dante?" tanya Yuli dari balik kacamata marun yang trendi, dia dan Luna duduk berdua di meja mereka setelah terbebas dari pada model. "Dia sudah trending sejak tadi, para wartawan menunggu untuk wawancara eksklusif."

"Aku tidak mau membahasnya," jawab Luna. "Tanya saja ke manager atau asistennya."

"Bagaimana mungkin tidak ingin membahas? Jelas-jelas kalian sedang punya hubungan dekat dan nama kalian sedang sangat popular di situs pencarian."

"Dia ke toilet, kau puas?" kata Luna ketus, dia kembali mengarahkan pandang pada meja James dan bergegas berdiri begitu dia melihat James meninggalkan meja.

"Aku juga perlu ke toilet," kata Luna lalu segera berlalu dari asistennya.

Sementara itu, James berjalan di antara kerumunan untuk mencari Sera yang belum kembali dari toilet, dia menyapa orang sembari lewat. James baru hendak berbelok ke lorong panjang menuju toilet, tapi kesialan datang terlalu cepat, sewaktu dia justru berpapasan dengan Luna.

"James, kita perlu bicara." Tanpa disangka-sangka Luna menarik James melewati pintu samping, menuju ruang terbuka, menyusuri selasar dengan pilar-pilar berukir rumit, terang benderang.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" kata James, menjeda langkah dan jarak demi kekuatan hati.

James sadar Luna masih berefek sangat kuat kalau mereka tengah berhadapan. Berdua, tanpa seseorang yang bisa mengingatkan James bahwa dia harus menyerah pada mantan kekasihnya.

Dia telah mengurai perasaan terhadap Luna sejak hubungan mereka kandas, meyakinkan diri sendiri melanjutkan hidup dan merelakan semua hal yang terlanjur terjadi. James tidak ingin menyakiti hatinya dengan sengaja, sebab kalah dari sosok yang pernah dia cintai, tidak akan lagi memperjuangkan seseorang yang menolak untuk dia perjuangkan.

"Jadi, kau benar-benar serius dengan gadis itu demi untuk membalasku?" kata Luna, melirik jari kanan James yang tersemat cincin. "Padahal jelas-jelas aku sudah bilang, kalau aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Dante."

"Dan kau tidak mengatakannya sejak awal," sela James. "Kau memilih menghancurkan hari itu tanpa aba-aba, kau pikir aku benda mati yang tidak punya perasaan?"

DARK MOONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang