Note: Hai Geng's!! Cerita ini sedang dijual di KK, buat yang mau baca cepat silakan baca berbayar di KK. Nama akunnya sama, Vanadium Zoe.
Terima kasih untuk segala dukungnnya
👑 Zoe
=======================================================================================================================================================
Lambung kosong lalu diterpa segelas kopi dingin, bikin lambung Sera bergejolak, perlahan-lahan merangkak naik sampai berhenti di ujung tenggorok. Secara mengejutkan Sera mendadak mual sejak duduk satu meja dengan Dante dan Mariane. Dua orang paling brengsek dalam hidupnya, kadang dia berpikir kapan keduanya mati dan membusuk di neraka.
Penjelasan panjang Elena pada Dante tentang konsep pemotretan tidak satu pun nyangkut di kepala Sera, dia jengkel melihat senyum Dante yang terang-terangan mengejeknya. Ditambah Mariane bersikap sok tidak saling kenal, rasanya Sera kepingin membalikkan meja, menendang kedua orang ini keluar dari ruang meeting sekarang juga.
"Satria, bagaimana menurutmu? Sera, apa kau ada ide lain?"
Pertanyaan Elena menyadarkan Sera dari rencana psikopat yang bersarang di pikiran, buru-buru mengumpulkan konsentrasi yang terlanjur tercecer. Sera berdehem, meskipun otaknya kosong dia mencoba mendengarkan lagi rapat yang panjang itu.
"Untuk saat ini semuanya sudah sempurna, tapi jika nanti aku menemukan ide lain akan segera kuberitahu." Satria menjawab lebih dulu, dia melirik Sera yang masih mematung.
"Oh, konsep kita kali ini sangat sesuai dengan image model. Benar begitukan, Dante?" tambah Sera pada Dante.
Dante tersenyum, tampak sangat memikat dan kelewat tampan. Tidak ada seorangpun yng bisa menyangkal betapa rupawan wajah Dante Virendra, terpahat nyaris tanpa cela. Sayang, sosok tampan itu tidak lagi berdampak pada Sera yang kini jelas-jelas memutar bola mata, jengah.
"Aku suka konsepnya, kurasa ini akan semakin memperkuat karakterku dimata penggemar. Aku sungguh tersanjung," ujar Dante, sopan dan santun.
Elena tertawa kecil sebagai bentuk balasan atas apresiasi Dante, Mariane setuju dengan konsep yang telah dijelaskan Elena. Namun suasana hangat tercoreng, sebab kalimat pendek Sera yang diucapkan kelewat gamblang.
"Astaga, aku mual," gumam Sera kelewat jelas. "Maaf, saya izin ke toilet. Ms Elena, saya permisi sebentar."
"Butuh staf menemanimu?" tanya Elena khawatir, seraya memegangi lengan Sera.
"Tidak usah, cuma mual sedikit. Permisi," tukas Sera.
Sera bergegas menjauh. Sesampainya di toilet mualnya hilang, Sera berdiri bingung depan kaca wastafel. Dia mencuci tangan berlama-lama, berharap Dante dan Mariane cepat hilang karena sekarang dia malah kepingin makan. Tanpa sengaja pandangannya berhenti pada cincin ungu di jari manis, cincin pernikahan yang otomatis membuatnya tersenyum dan kepingin mendengar suara James.
"Astaga, otakmu kenapa Sera?" Dia bicara pada diri sendiri, mengingatkan, James menikahinya hanya karena kasihan pada wanita hamil yang ditinggalkan.
Sera memukul kepalanya, akhir-akhir ini suasana hati sulit ditebak dan dikendalikan. Sebentar kepingin marah, sebentar ingin menangis, sebentar kepingin melihat James tapi lain waktu dia kepingin pulang ke rumah supaya bisa berada jauh dari suaminya. Baru dua hari pernikahan, tapi perasannya sudah nano-nano.
Sera pikir, suasana hatinya sedikit jungkir-balik semenjak James mengajaknya menikah lalu dia dan jabang bayinya diberi status jelas tanpa mengusik masa lalunya. Mereka tinggal bersama di apartemen James, tapi sejak awal James telah memberinya ruang privasi tanpa menyentuhnya. Sera tahu alasan James pasti karena dia sedang hamil, namun Sera merasa ada saat-saat James melindunginya dengan sangat tulus dan nyata. Setidaknya, itu yang Sera rasakan untuk saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
DARK MOON
RomansaDark Moon, kisah pengacara hukum bisnis yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri dan patah hati, didatangi oleh teman lamanya untuk perkara yang tengah melanda perusahaan minyak milik negara, BruteMax Oil. Pengacara James Adhiwangsa, disewa ole...
