Keputusan pertunangan dadakan di hari itu mengubah dunia James. Dia menyesal menemani Sera makan tteokbokki, efeknya Sera jadi salah paham akan perhatian itu dan mengubah Sera jadi hantu gentayangan, muncul dan menghantui di mana pun; menelepon, mengirim pesan, mengejar sampai ke kantor, berprilaku seperti dia benar-benar tunangannya.
James menghela napas begitu berdiri menunggu lift, menjeda diri sebentar sebelum kembali pada pekerjaan yang menunggu di lantai atas. Ponselnya bergetar, nomor baru menyapa di seberang.
"Halo?"
"Kak Jim!"
Satu sapaan sudah cukup membuat James tahu siapa yang meneleponnya, selama ini tidak ada yang memanggilnya begitu. Dia tidak suka pada suasana sok akrab yang tengah dibangun orang asing yang tengah meneleponnya ini.
Ya, asing, sebab James tidak ingat pernah mengenal Seraphina sewaktu mereka kecil bertahun-tahun lalu, mengabaikan fakta kalau gadis itu kini telah menjadi tunangannya.
"Iya—?" James pura-pura tidak mengenali suara Sera, dia memang tidak menyimpan nomor Sera di ponselnya.
"Ini aku, Sera. Kau belum menyimpan nomorku?" jawab gadis itu dengan gembira. "Apa aku mengganggumu?"
"Iya, sangat mengganggu."
"Oh—" Suara Sera meredup sampai ke titik terbawah, menjeda senyap tetapi James tak acuh.
"Maaf, kalau begitu aku tutup teleponnya."
"Hhmm...." James menggenggam ponsel tanpa menekan tombol merah, membiarkan Sera yang memutus sambungan telepon.
James melirik layar ponsel masih menyala, lewat lima detik telepon tetap tersambung dan Sera tidak menyadarinya sama sekali. Akhirnya James memutus sambungan telepon, saat asistennya muncul dari arah lobi kantor yang penuh. Dia menahan pintu lift agar bisa naik sama-sama, tapi Kirana malah mengajaknya ngopi dulu di kafe lobi karena asistennya itu belum sempat sarapan.
"Jim, sepertinya aku tidak bisa menemani ke acara ulang tahun Jay." Kirana menyesap kopinya santai, melirik James yang tampak gelisah.
"Kenapa tidak bisa, Zeha melarangmu?" James mengambil jeda, menoleh ke ponsel yang tiba-tiba berdering dari nomor Sera tapi buru-buru dia tolak.
"Bukan melarang tapi Ibunya Zeha di rumah kami. Kau sedang menelepon orang?" tanya Kirana, mendengus kelewat jelas. "Selesaikan dulu baik-baik meski kau tidak menyukai kehadirannya, jangan diabaikan begitu. Kasihan 'kan?"
James mengernyit, menatap Kirana penuh kecurigaan.
"Firasatku mengatakan, kau sedang berusaha mengabaikan gadis yang menyukaimu."
"Bagaimana kau bisa tahu?" James tidak menutupi-nutupi keterkejutannya, memicing curiga pada Kirana. "Ralat, dia tidak menyukaiku, dia cuma ingin aku membantu kasusnya," tukas James dengan suara pelan,
"Dijodohin?" tanya Kirana, melompati basa basi. "Kenapa ditolak? Harusnya dijalani saja dulu selama dia cantik."
"Dibayar berapa sama Ibuku?" James menyeringai. "Ibu memintamu menjadi perantara antara aku dan Sera?"
"Oh, namanya Sera?" ucap Kirana. "Betul sekali, Tante Shinta memintaku sedikit membantu, kupikir tidak ada salahnya dicoba."
"Dia bukan tipeku, lagi pula dia masih terlalu—kecil."
"Ibumu bilang dia sudah lulus kuliah. Eh, beneran dia anak almarhum aktor Angelo?"
"Iya dan aku tidak mau membahas gadis itu lagi," putus James.
KAMU SEDANG MEMBACA
DARK MOON
RomanceDark Moon, kisah pengacara hukum bisnis yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri dan patah hati, didatangi oleh teman lamanya untuk perkara yang tengah melanda perusahaan minyak milik negara, BruteMax Oil. Pengacara James Adhiwangsa, disewa ole...
