3

1.7K 225 37
                                        


Aliran lalu lintas pagi ini lebih padat dari hari sebelumnya, hujan tak terduga turun pagi ini dan membuat jalanan agak licin. James mengendarai mobilnya sembari mendengarkan perakiraan cuaca, hujan diperkirakan baru berakhir besok dengan kabut dan berangin.

Ponselnya bergetar dan pesan ibunya muncul, mengingatkan dia untuk mencarikan pengacara yang bisa membantu keluarga Sera. Setelah itu barulah James ingat, seharusnya dia menemui salah satu rekan pengacara dan menawarkan kasus Sera tapi dia lupa.

James memakirkan mobil di pelataran gedung pengadilan untuk sidang perceraian Jay Arculeta, dia melangkah buru-buru di bawah gerimis kecil. Hari ini Jay akan menyampaikan pernyataan dan juga sanggahan dari pernyataan Camelia yang menyudutkan Jay. Dukungan publik bagi Camelia semakin banyak. Beruntung reputasi Jay selama ini sangat baik, punya penggemar loyal, sehingga berita-berita itu bisa sedikit ditahan.

"Duh, akhirnya datang juga." Kirana menyambut James yang muncul di depan pintu ruang tunggu pengadilan dengan wajah tegang.

"Tuan Jay sudah datang?"

"Belum," jawab Kirana, keduanya duduk di ruang tunggu. "Tumben, biasa kau selalu datang lebih cepat."

"Jalanan terlalu macet dan aku salah ambil jalan."

Ponsel Kirana bergetar, satu pesan membuat kecerahan wajahnya meredup.

"Dante menolak bersaksi. Pihak agensinya tidak mengizinkan, katanya riskan kalau dia muncul di publik untuk kasus perceraian yang bermasalah. Publik sedang mendukung Camelia," tukas Kirana.

"Ah, Anjing!" umpat James, keduanya menoleh ke pintu yang diketuk dan sosok yang mereka tunggu muncul.

"Halo, Pengacara Jim," sapa Jay. "Manager Dante memberitahuku, Dante tidak bisa ikut bersaksi."

"Ya, dia sudah menghubungiku, tidak masalah, jangan khawatir." James berkata. "Lupakan dia. Kita masih punya Stefan, kalau terdesak kita bisa memberikan laporan psikis Nyonya Camelia."

"Aku benar-benar tidak bisa menyakitinya dengan cara seperti ini." Jay menghela napas berat dan panjang. "Ini semua salahku," tukasnya, samar.

"Tuan Jay, ini demi kebaikan kedua anakmu. Kalau kau melindungi Camelia, maka anakmu bisa kena imbasnya. Putramu akan hidup bersama Ibu yang punya gangguan ledakan emosi, sudah barang tentu akan mempengaruhi perkembangan psikis kedua putramu."

Camelia didiagnosa menderita Intermittent Explosive Disorder atau gangguan ledakan amarah dan kekerasan, tidak terencana, tidak beralasan, setiap kali terpicu oleh provokasi yang biasany sangat remeh. Gangguan kejiwaan muncul setelah Camelia mengalami masa berat selama hamil, sampai ke proses persalinan yang sulit dan berlanjut baby blues.

Camelia merasa hidupnya menderita semenjak dia mengandung, stress berat, kesal tiap kali orang menghakimi pakai kalimat 'harusnya kau bersyukur atas anugrah Tuhan, menikmati kehamilanmu' atau 'Ibu macam apa yang stress karena kehamilan, kau hanya terlalu banyak mengeluh'.

Informasi tentang kesehataan kejiwaan sangat diperlukan demi memangkas pikiran semacam itu, kondisi setiap manusia berbeda dan tidak bisa disamaratakan. Sayang sekali, pendapat sosial tidak mengenal hal itu, padahal mereka juga sama-sama perempuan.

Bukan berarti jika kehamilanmu lancar, maka perempuan lain juga merasakan hal yang sama. Kau mungkin kuat, tapi belum tentu wanita lain sekuat dirimu. Kau tidak mengerti tentang baby blues, bukan berarti ibu-ibu yang mengalami dianggap sekedar kelakar berlebihan guna minta perhatian.

Semua mengendap dalam pikiran dan mempengaruhi psikis Camelia, lamat-lamat mendatangkan ledakan emosi yang terlambat dideteksi. Jay menyesal tidak menyadarinya lebih awal, dia terlalu sibuk di sepanjang masa kehamilan Camelia.

DARK MOONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang