"Hai, Seraphina!"
Sapaan ramah dari sosok gadis cantik bersurai panjang bergelombang sewarna madu, tidak serta merta membuat Sera senang. Dia nyaris menutup pintu tapi gadis itu keburu masuk ke rumah tanpa permisi, menghenyakan diri di sofa setelah memberi tatapan menilai untuk ruang tamu sempit yang jauh dari ekspektasi.
"Tidak kusangka kau sebangkrut ini. Kenapa tidak memberitahuku, aku bisa membantu. Kita masih berteman, 'kan?"
"Aku sedang tidak ingin berdebat, Mariane. Pulanglah," kata Sera, berdiri bertolak pingang di dekat sofa.
"Sera, aku ini temanmu tapi kau tidak memberitahu alamat rumah barumu. Untung saja Ibumu sangat baik," celoteh Mariane, tidak ambil pusing dengan tatapan muak Sera padanya.
"Kau mau apa, sih?" Sera mengumpulkan sisa-sisa kesabaran, sebab ibunya ada di dapur.
"Aku bosan." Mariane bersandar di sofa, tanpa merasa tergangu oleh sambutan Sera yang jelas tidak bersahabat. "Sejak Dante punya pacar official, fansite kita sepi. Aku sudah menghabiskan 20 juta untuk menaikkan hastag dukungan, tapi fans kalangan Idol tetap tidak terima. Dante diminta keluar dari grup, padahal grupnya saja hiatus."
"Itu bukan urusanku lagi."
"Sera, ayolah, sampai kapan kau mau marah padaku dan Dante?" Mariane menarik lembaran kertas dari tas tangan DIOR sewarna tembaga, lalu memberikannya pada Sera.
"Ini—" manik mata Sera membulat, melihat foto dirinya di mobil bersama Dante saat berada di depan kantor James tempo hari.
Mariane bangkit dari sofa, mengedarkan pandang ke sekeliling ruang, bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa padahal Sera sudah kaku di belakangnya.
"Sera, apa aku boleh melihat kamarmu? Ah, foto itu dari kenalan ayahku, katanya seharga 200 juta." Mariane mengambil jeda, menunggu reaksi Sera tapi Sera tidak berkata apa-apa jadi dia melanjutkan. "Kau tenang saja, demi sahabatku 200 juta tidak ada artinya."
Mariane tersenyum anggun, mengedikkan bahu, tertawa kecil saat Sera menatapnya tajam dan bermusuhan.
"Jadi, aku boleh melihat kamarmu sekarang?—Ah, Bibi Mishil, Halo!" tambahnya ramah, saat Mishil yang muncul dari ruang tengah.
"Mariane, apa kabar? Lama sekali Bibi tidak melihatmu." Mishil menyerahkan segelas teh hijau hangat pada Mariane. "Sering-sering kemari, biar Sera tidak kesepian."
"Iya, Bibi, aku pasti akan sering ke sini. Terima kasih tehnya," Mariane menghidu wangi teh dengan gembira. "Ini dari merek teh kesukaanku, ya?"
Mishil mengangguk senang melihat Mariane menjawab sopan, gadis itu tersenyum lebar sampai Mishil meninggalkan mereka.
"Sera, waktuku tidak banyak." Mariane kembali lagi pada Sera, kali ini dengan senyuman datar yang membuat sahabatnya langsung berjalan ke kamar di bagian belakang.
Nada ancaman terlalu mudah dipahami Sera, dia harus menuruti keinginan Mariane atau foto-foto itu akan tersebar luas dalam semalam.
"Apa kau benar-benar bisa tidur di kamar sekecil ini?" tanya Mariane. "Hanya sebesar kamar mandi di rumahmu yang lama, benar?"
Sambil menyesap tehnya, Mariane mengamati ruangan tempatnya duduk. Dia tidak pernah membayangkan Sera akan tinggal di rumah sewaan yang sangat kecil untuk standar hidup keduanya, meski sejujurnya rumah yang disewa Sera seluas hampir 200sqm, semi furnished, dua kamar tidur, teras samping dan belakang. Sewanya juga tidak murah, 15 juta per bulan.
"Kau benar, sejujurnya aku tidak betah tinggal di sini." Akhirnya Sera lelah tidak meladeni Mariane, dia duduk di kursi depan meja riasnya yang penuh dengan makeup dan skincare.
KAMU SEDANG MEMBACA
DARK MOON
RomanceDark Moon, kisah pengacara hukum bisnis yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri dan patah hati, didatangi oleh teman lamanya untuk perkara yang tengah melanda perusahaan minyak milik negara, BruteMax Oil. Pengacara James Adhiwangsa, disewa ole...
