Nine Wine-Wine #22

1.2K 249 9
                                        

Hevy nggak tau harus menghadapi Mark kayak gimana setelah semalem menggemparkan penggemar setianya dengan merilis lagu di laman soundcloud.

Jana bilang biasa aja dan Hevy pun berencana demikian, tapi gimana dia bisa bersikap biasa aja kalo sepanjang malam yang dia liatin cuma inisial H di description box dan lirik lagu yang begitu romantis.

"Kalo lu canggung atau tegang gitu, bakal keliatan jelas tau, Vy."

"Terus gimana dong?"

"Kalo berani yang tanyain aja, lagunya buat siapa?"

"YANG BENER AJE LU."

Tawa Jana terdengar mengisi ruang guru yang lumayan sepi, maklum hanya tersisa mereka juga tiga staf tata usaha yang merapikan berkas.

"Ini dijemput jam berapa?"

"Udah otw sih katanya."

Hevy emang janji mau nemenin Mark konsultasi, mau tau sejauh mana perkembangannya selama kurang lebih tujuh bulan bolak-balik ke psikolog.

Jumlah obat yang harus dia konsumsi juga berkurang drastis, Hevy bangga banget dengan progress yang cowok itu tunjukkan.

Walaupun di sisi lain, dia agak sedih karena waktu berpisah dengan penyanyi itu semakin dekat.

"Gimana sama cowok yang match kemarin sama lu?"

"Lupain aja. Dia ngilang."

"Anjir, di ghosting?"

Jana ngangguk kecil, nyemilin kue bawang yang dikasih salah satu orang tua muridnya tadi.

"Beneran mau gue tanyain ke Mark nggak?"

"Bebas, kalo lu berani atau kurang topik perbincangan, silakan jual nama gue."

Kali ini gantian Hevy yang ketawa.

"Jarvis ya?"

"Yoi."

Obrolan mereka diinterupsi dering ponsel Hevy, menampilkan nama Mark sebagai pemanggil di sana.

Tatapan kedua gadis itu bersinggungan, Jana ngangguk kecil ngebuat Hevy ngeraih tasnya di atas meja dan segera keluar.

Langkahnya terasa lebih berat daripada sebelumnya, jantungnya berdetak jauh lebih kencang dari sebelumnya saat dia membuka pintu penumpang dan disambut dengan senyum cerah pria itu.

"Hi!"

"Nunggu lama ya?"

"Nggak sama sekali."

Mark masih sama.

Nggak ada perubahan mencolok darinya, seolah semalem nggak bikin dia ketar-ketir karena takut terlalu percaya diri.

"Mau makan dulu nggak, Vy?"

"Hmm, boleh."

"Suka seafood nggak? Aku tiba-tiba kepengen cumi sambal matahnya Remboelan."

"Boleh aja kok."

"Yang di GI aja deh kayaknya lebih deket."

"Iya, Mark."

Tangan pria itu terampil memutar setir, sesekali ngitung lagu-lagu Sheila On 7 yang terputar di radio.

Hevy melarikan pandangan ke luar mobil, pada jalanan Jakarta yang semakin padat. Nggak heran kalo ibukota negara akan dipindahkan, soalnya kondisi Jakarta saat ini emang agak memprihatinkan.

"Vy?"

"Hmm?"

"Are you mad?"

"Nggak? Kenapa mikir gitu?"

Nine Wine-WineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang