read this carefully. mentioning of depressions.
Depresi mungkin bagi beberapa orang terdengar sangat menakutkan. Sedih yang berkepanjangan, perubahan mood yang menyebalkan, merasa sendiri dan tidak bahagia udah lebih dari cukup untuk membuat hari-hari berjalan seperti neraka.
Pengidapnya cenderung diam dan memendam semuanya, merasa bisa melaluinya sendirian, enggan berbagi karena mereka takut untuk menerima pandangan meremehkan bahkan lebih sakitnya lagi, takut menghadapi diri sendiri.
Takut pada sesuatu yang selalu menganggu keseharian, takut pada semua suara yang tiba-tiba berisik di dalam kepala, takut kehilangan diri sendiri.
Yang paling mereka butuhkan adalah dukungan dari lingkungan dan sekitar terutama keluarga untuk tetap bertahan dan bangkit bukan tatapan simpati yang justru bikin kita semakin merasa tidak berguna, seolah depresi adalah hal yang paling hina dan tidak bisa disembuhkan.
Alasan itu yang bikin Mark lebih banyak diamnya tentang apa yang dia alami saat ini. Rasanya lidahnya kelu, nggak sanggup ngasih tau mama ataupun keluarga yang lain tentang apa yang dia alami.
Awalnya sih dari kesibukan yang bikin dia nggak bisa istirahat dengan proper, sampai akhirnya dia mengalami gangguan tidur yang disertai kecemasan berlebihan, hal yang bikin dia cenderung menarik diri dari banyak acara.
Manajernya bukan nggak notis tapi dia nggak mau maksa, sejak awal sikap artisnya mulai berubah, dia udah tau ada yang nggak beres tapi dia menunggu sampai Mark mau jujur tentang apa yang dia rasakan.
"Jadi?"
"Gue juga nggak tau bang." Otaknya terasa kosong, bener-bener hampa di tengah bising yang bergemuruh di backstage salah satu acara yang harus dihadiri hari ini.
"Dibatalin aja?"
"Iya, gue nggak bisa. Maaf ya, Bang."
"It's okay, not your fault."
Kepalanya menunduk, rasa sesak yang tiba-tiba hadir bikin dia rasanya pengen teriak, bingung harus meluapkan kemana, tidak tau harus mengatasinya seperti apa.
"Gue ketemu panpel dulu buat ngasih tau kalo lu ngga bisa lanjut ya."
"Maaf banget ya, Bang."
"Santai, kesehatan lu jauh lebih penting."
***
Bohong kalo Jarvis bilang nggak kaget liat postingan salah satu fanpage kakaknya di Instagram kalo acara festival yang harusnya dihadiri Mark malam ini terpaksa batal karena kakaknya dalam kondisi yang kurang baik.
Tatapannya mengarah pada sang ibu yang sedang sibuk bermain dengan kelinci Shanin, keponakannya itu mendadak pengen melihara hewan karena semua temannya punya.
Dia yakin seratus persen, pasti mamanya nggak tau gimana kondisi si anak nomer dua.
"Kenapa lu? Gitu amat mukanya?"
"Kak Ty," panggilnya pada kakak ipar yang baru aja duduk di sebelahnya.
"Menurut lu, mama tau ngga kalo abang sakit?"
"Hah? Abang siapa?"
"Nggak mungkin suami lu lah kak, si Mark."
"Oh. Sakit apa dia?"
Ponselnya disodorkan, Tya membaca artikel yang baru aja dipublikasikan beberapa menit lalu dengan serius.
"Kok nggak bilang dia?"
"Menurut lu, kasih tau mama nggak?"
Pandangan wanita itu terangkat, menatap mertuanya yang masih bermain dengan sang anak, kemudian berganti ke arah Jarvis yang masih menunggu jawabannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nine Wine-Wine
FanfictionHevy, Sarjana Psikologi yang sekarang menjadi guru konseling di TK kalangan atas. Si Buta Nada, baginya musik itu hanya ada bagus, bagus aja sama bagus banget. Bertemu dengan Mark, idol top yang lagunya selalu nangkring di Top #1 under the Moonlight...
