Note : Don't forget to click the like and comment buttons on this chapter.
___
"Hujan tak mampu menyimpan air mata, tapi ia tahu cara menemani tanpa bertanya."
___
Pagi itu, Nazeea memasuki studio dengan langkah mantap, mengenakan mantel tebal dan sepatu hak tinggi yang membuat langkahnya menggema di sepanjang koridor. Beberapa hari setelah gala dinner malam itu, tawaran kerja sama terus mengalir, membawa keuntungan besar. Iklan-iklan besar, pemotretan untuk majalah ternama, dan proyek-proyek baru menumpuk di mejanya, menunjukkan bahwa kariernya semakin gemilang.
Namun, di balik semua itu, beban semakin terasa berat. Setiap pekerjaan baru datang dengan tuntutan yang lebih tinggi, dan Nazeea tahu betul bahwa dunia modeling tak memberi ruang untuk kegagalan. Setiap detail penampilannya harus sempurna, karena bahkan kesalahan sekecil apapun bisa merusak reputasi yang telah dibangunnya dengan susah payah. Dan Nazeea tak akan membiarkan itu terjadi. Tak akan pernah.
Ketika ia melangkah lebih jauh, manajer produksi, Tessa, menghampirinya dengan kesal. "Nazeea, kamu terlambat lima menit," tegurnya, suara Tessa agak keras, mengagetkan Nazeea karenanya.
Nazeea melepaskan mantel dengan tenang, menyerahkannya kepada asistennya. Walau sedikit takut karena melihat kemarahan di wajah Tessa. "Maafkan saya, di tengah perjalanan ada kecelakaan kendaraan. Terpaksa harus putar arah."
Tessa menyilangkan tangan di dada, ekspresinya tetap sama. "Kamu tahu betul jadwal hari ini sangat ketat, Nazeea. Setiap menit sangat berharga. Klien sudah menunggu."
Nazeea menunduk sejenak, merasa bersalah, lalu mengangkat kepala menatap Tessa kembali. "Saya benar-benar minta maaf, saya akan berusaha lebih baik ke depannya."
Tessa mengangkat alis, tapi memilih untuk tidak memperpanjang masalah. Menghela napas, melunak sedikit, meski masih ada perasaan kecewa. "Lain kali, pastikan itu tidak terjadi lagi. Ayo, waktu berjalan cepat."
Nazeea hanya mengangguk, melangkah menuju ruang ganti. Diikuti oleh Joanna, asistennya di belakang.
***
Pemotretan dimulai beberapa saat kemudian. Nazeea berdiri di depan kamera, mengenakan gaun elegan berwarna merah dengan aksesori perhiasan yang berkilauan. Cahaya lampu sorot menyoroti wajahnya yang sempurna, seperti biasanya.
"Baik, kita mulai!" seru sutradara. "Nazeea, jangan lupa tonjolkan ekspresi percaya diri dan elegan. Klien ingin itu yang terlihat."
Nazeea mengangguk, memposisikan tubuhnya sesuai instruksi. Namun, di tengah-tengah pengambilan gambar, Miranda, rekan sesama model, terus membuat kesalahan kecil-gerakan yang terlalu cepat, atau ekspresi yang tidak sesuai.
"Cut!" teriak sutradara untuk kesekian kalinya. "Miranda, tolong fokus! Ini take keempat dan kita masih belum mendapatkan apa yang kita mau."
Nazeea memutar mata dengan kesal, tapi tetap mencoba menahan diri. Setelah pengambilan gambar kelima gagal lagi, ia akhirnya angkat bicara.
"Miranda, kamu bisa tidak lebih profesional sedikit?" ujarnya tajam, matanya menyipit menatap rekan kerjanya.
Miranda yang sudah tampak frustasi kini menoleh dengan wajah memerah karena emosi. "Aku sudah mencoba! Kamu pikir aku tidak profesional dalam menjalankan tugas?" Suaranya meninggi, mengagetkan semua orang yang ada di sana. "Kamu pikir kamu yang paling baik?"
KAMU SEDANG MEMBACA
GESTICULATE
RomanceHidup dalam pernikahan yang dingin, di mana cinta dan kasih sayang tak pernah hadir. Itulah yang dialami Nazeea. Dia terjebak dalam rutinitas, tak pernah menghargai kehadiran Samuel, bahkan menganggapnya sebagai beban. *** Hingga pada suatu hari, sa...
