___
"Kadang kita tidak sadar bahwa yang selama ini kita lawan adalah perasaan kita sendiri."
- Moy Mamoy
___
Sejak sadar dari koma, Samuel lebih banyak diam. Kepalanya masih sering terasa berat, tapi kesadarannya cukup jernih untuk melihat apa yang terjadi di sekelilingnya. Yang pertama kali ia cari ketika membuka mata adalah Nazeea. Namun, seperti yang sudah ia duga, Nazeea tidak ada di sisinya.
Ketika akhirnya Nazeea datang, ekspresinya tetap sama-dingin dan acuh. Ia hanya berdiri di sudut ruangan, menggulir layar ponselnya sambil menunggu dokter selesai memeriksa Samuel.
Samuel menatapnya dalam diam. Bahkan setelah ia nyaris kehilangan nyawa, Nazeea masih bersikap seperti ini. Ia ingin tertawa, tapi itu hanya akan membuat dadanya semakin sakit.
Ia berpura-pura menutup mata, tapi sebenarnya ia sedang mencuri-curi pandang. Ada sesuatu yang berbeda dari Nazeea hari ini. Matanya sedikit lelah, wajahnya tampak lebih pucat. Samuel bertanya-tanya apakah itu karena dirinya atau karena sesuatu yang lain.
Saat perawat datang untuk mengganti infusnya, Samuel melihat bagaimana Nazeea tampak gelisah. Ia terus mengecek layar ponselnya seakan menunggu sesuatu. Apakah ia ingin segera pergi?
Tentu saja. Sejak awal, keberadaan Samuel hanya menjadi beban baginya.
Biasanya, Nazeea tidak pernah menunjukkan ketidaknyamanan yang mencolok di dekatnya. Ia selalu mampu menyembunyikan ekspresinya dengan sempurna, menjaga jarak tanpa benar-benar tampak gelisah.
Tapi sekarang, ada sesuatu yang tidak biasa dalam caranya menggenggam ponselnya, dalam caranya menarik napas sebelum mengetik sesuatu, dalam bagaimana ia sesekali melirik ke arah pintu, seolah mengharapkan seseorang masuk.
Samuel ingin mengabaikan perasaan aneh yang muncul di dadanya, tapi sulit untuk tidak memperhatikannya. Apakah Nazeea benar-benar gelisah karena dirinya? Ataukah ada alasan lain?
Sesaat kemudian, suara ketukan terdengar di pintu, membuat Nazeea refleks menoleh dengan cepat. Namun, yang masuk hanyalah seorang perawat.
Wajah Nazeea tampak kecewa.
Samuel yang melihat itu hanya bisa diam, tapi jemarinya mengepal di bawah selimut.
Jadi dia benar-benar menunggu seseorang.
Pertanyaan yang tidak pernah berani ia tanyakan kembali mengusik pikirannya. Siapa yang ada di hati Nazeea sekarang?
Siapa yang Nazeea tunggu?
Ia ingin menepis kemungkinan terburuk, tapi ekspresi kecewa di wajah istrinya barusan terlalu nyata untuk diabaikan. Jika dulu ia hanya menebak-nebak bahwa hati Nazeea tidak pernah menjadi miliknya, kini ia melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Nazeea masih berdiri di dekat pintu, menggulir ponselnya cepat, mengetik sesuatu, lalu menghela napas.
"Apa kau menunggu seseorang?" Suara Samuel akhirnya terdengar, serak dan pelan.
Nazeea hanya diam. Tak menoleh maupun menjawab. Wanita itu tetap sibuk pada ponselnya.
Samuel menatap langit-langit, menarik napas pelan. "Aku bertanya Nazeea."
Nazeea tidak membalas. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan merapikan pakaiannya.
"Aku pergi dulu," katanya, nadanya sama dinginnya seperti biasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
GESTICULATE
RomanceHidup dalam pernikahan yang dingin, di mana cinta dan kasih sayang tak pernah hadir. Itulah yang dialami Nazeea. Dia terjebak dalam rutinitas, tak pernah menghargai kehadiran Samuel, bahkan menganggapnya sebagai beban. *** Hingga pada suatu hari, sa...
