___
"Ketika kau menghindari seseorang terlalu lama, ada saatnya takdir akan memaksamu untuk melihatnya kembali."
- Moy Mamoy
___
Tanvi mengulurkan sebungkus tote bag makanan ke arah Nazeea. “Aku tahu kau pasti belum makan,” katanya, suaranya lembut namun tegas bersamaan.
Nazeea melirik tas itu sekilas, lalu kembali menatap layar ponselnya. “Aku tidak lapar,” jawabnya singkat.
Tanvi menghela napas. Ia sudah menduga jawaban itu. “Tetap saja, kau harus makan. Aku tidak mau melihatmu pingsan di sini.”
Nazeea tetap diam.
Tanvi lalu meletakkan tas itu di pangkuan Nazeea dengan paksa, seolah tidak mau menerima penolakan.
“Minimal ambil roti di dalamnya,” desaknya. “Aku tidak akan pergi sampai kau makan sesuatu.”
Nazeea menatapnya, ragu sejenak, sebelum akhirnya merogoh isi tas dan mengeluarkan sebungkus roti. Ia membuka plastiknya dengan gerakan malas, lalu menggigitnya pelan.
Tanvi tersenyum tipis. “Bagus.”
Meski tidak mengucapkan terima kasih, Nazeea tetap mengunyah dalam diam. Entah kenapa, ia merasa sedikit lebih tenang dengan kehadiran Tanvi di sisinya.
“Di dalamnya juga ada kopi kesukaanmu,” ujar Tanvi sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang. “Aku pulang dulu.”
Nazeea tidak langsung merespons. Ia hanya menatap Tanvi sekilas sebelum kembali fokus pada roti di tangannya.
Tanvi tersenyum kecil, seakan memahami sikap dingin adik iparnya. Ia tidak mengharapkan ucapan terima kasih atau respons hangat-cukup melihat Nazeea makan saja sudah melegakannya.
“Sampai ketemu nanti,” tambahnya sebelum melangkah pergi.
Namun, baru beberapa langkah, suara pelan Nazeea menghentikannya.
“Aku titip Papa dan Mama.”
Tanvi menoleh, sedikit terkejut mendengar nada lembut itu. Nazeea masih menunduk, jemarinya mencengkeram bungkus roti dengan erat.
Senyuman kecil kembali muncul di wajah Tanvi. “Tentu. Aku akan menjaga mereka.”
Nazeea tidak menjawab, tetapi bahunya sedikit lebih rileks. Tanvi mengerti. Itu mungkin bukan ucapan terima kasih yang eksplisit, tetapi untuk seseorang seperti Nazeea, itu sudah lebih dari cukup.
Tanvi melangkah keluar dari rumah sakit menuju basement parkir. Suasana di sana sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang terparkir rapi di bawah pencahayaan lampu redup. Udara dingin menyusup pelan, membuatnya merapatkan mantel.
Ia berjalan menuju mobil hitam yang sudah menunggunya di sudut. Dengan sopir yang segera membuka pintu begitu melihatnya datang mendekat. Begitu masuk, Tanvi melihat Mama duduk di kursi belakang, terdiam dalam renungan. Tatapan wanita itu kosong, seakan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Tanvi masuk perlahan dan duduk di sebelah Mama. “Mama ...” panggilnya hati-hati.
Wanita itu tidak langsung merespons. Matanya tetap menatap lurus ke depan, tetapi jemarinya yang bertaut di pangkuan sedikit mengencang.
“Apa dia sudah makan?” Suara Mama akhirnya terdengar, datar tapi mengandung kekhawatiran yang tak tersirat.
Tanvi menghela napas kecil. “Ya. Sedikit.”
KAMU SEDANG MEMBACA
GESTICULATE
RomansaHidup dalam pernikahan yang dingin, di mana cinta dan kasih sayang tak pernah hadir. Itulah yang dialami Nazeea. Dia terjebak dalam rutinitas, tak pernah menghargai kehadiran Samuel, bahkan menganggapnya sebagai beban. *** Hingga pada suatu hari, sa...
