BAB 16 | BE HONEST WITH HIM

1.1K 141 41
                                        

___

"Terkadang, jawaban yang kau cari sudah ada di depan mata—kau hanya belum siap untuk menerimanya."
___

Nazeea membuka pintu dengan perlahan, dan aroma khas maskulin langsung menyambutnya. Cahaya lampu redup di dalam kamar perawatan membuat suasana terasa lebih sunyi dan intim.

Di sana, Samuel terbaring dengan mata terpejam. Wajahnya terlihat lebih tenang dibanding terakhir kali ia melihatnya. Napasnya teratur, tetapi infus masih terpasang di tangannya. Beberapa alat medis di sekitarnya mengeluarkan bunyi pelan, menandakan bahwa kondisinya masih dalam pemantauan ketat.

Nazeea melangkah masuk dengan ragu. Ia berdiri di samping tempat tidur, menatap pria itu dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Samuel yang selama ini ia benci, pria yang selalu membuatnya kesal, kini terlihat begitu rapuh.

Ia menghela napas pelan.

“Kenapa kau terus membuat masalah untukku?” gumamnya lirih. “Aku sudah cukup muak dengan semuanya, dan sekarang aku masih harus mengkhawatirkanmu juga?”

Samuel tidak merespons. Ia tampak tertidur, wajahnya terlihat lebih damai dibanding terakhir kali Nazeea melihatnya.

Nazeea mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya.

“Kau pikir ini mudah untukku?” lanjutnya, kali ini suaranya sedikit bergetar. “Aku ingin membencimu, Samuel. Aku ingin tidak peduli. Aku ingin hidup tanpa harus memikirkanmu.”

Ia tertawa kecil, tapi suaranya terdengar getir.

“Lucu sekali, ya? Aku bahkan tidak pernah benar-benar menyukaimu, tapi kenapa setiap kali sesuatu terjadi padamu, aku yang malah merasa terganggu?”

Tatapannya jatuh pada tangan Samuel yang tergeletak di atas selimut. Jemarinya yang biasanya terlihat kuat dan kokoh kini tampak lebih lemah.

Dalam keadaan sadar, ia meraih tangan itu.

Begitu jari-jarinya menyentuh kulit Samuel, ia dikejutkan oleh sensasi hangat yang mengalir dari sana. Jemari pria itu terasa lebih dingin dari biasanya. Refleks, ia meremasnya sedikit, seolah berharap bisa memberikan sedikit kehangatan.

“Kau ini menyebalkan,” bisiknya pelan, suaranya nyaris serak matanya masih terpaku pada tangan mereka yang bersentuhan. “Kau selalu ada di hidupku, meski aku tidak pernah menginginkannya. Kau selalu menunggu, meski aku tidak pernah memintamu untuk bertahan."

Ia menarik napas dalam, lalu mengeratkan genggamannya pada tangan Samuel.

“Tapi sekarang, aku yang menunggumu, Samuel.”

Hening.

Tak ada jawaban.

Nazeea menatap wajah Samuel yang tetap tenang dalam tidurnya. Ia menarik napas dalam, lalu perlahan melepaskan genggamannya.

“Selamat malam, Samuel,” ucapnya hampir tanpa suara, sebelum akhirnya ia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan.

Pintu tertutup dengan pelan di belakangnya.

Di dalam kamar yang kembali sunyi, Samuel masih berbaring di tempatnya. Matanya tetap tertutup, tetapi napasnya sedikit berubah.

Tanpa sepengetahuan Nazeea, sejak tadi ia tidak benar-benar tertidur.

Ia mendengar semuanya.

***

Nazeea berjalan keluar dari kamar perawatan dengan langkah pelan. Kepalanya sedikit menunduk, pikirannya masih dipenuhi kata-kata yang baru saja ia ucapkan. Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya. Apa yang sebenarnya ia rasakan?

GESTICULATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang