BAB 10 | FEELINGS HELD BACK

3.1K 286 54
                                        

___

"Ada yang terjaga, tapi tidak benar-benar bangun. Ada yang menunggu, tapi enggan mengakui."

"Kehadiran seseorang baru terasa saat ada kemungkinan untuk kehilangan."
___

Nazeea tidak pernah menyukai rumah sakit. Udara di tempat ini terasa terlalu steril, terlalu sunyi, terlalu penuh dengan kenangan yang enggan ia sentuh. Namun, di sinilah ia sekarang— berdiri di depan pintu ruang ICU yang dijaga ketat.

Sudah beberapa hari sejak kecelakaan itu, dan Samuel masih belum sepenuhnya sadar. Ia telah melewati masa kritisnya, tetapi dokter mengatakan ia mungkin masih memerlukan waktu untuk benar-benar pulih.

Nazeea menggenggam ponselnya erat. Berita tentang kecelakaan Samuel berhasil ditutup rapat. Tidak ada satu pun media yang berhasil mencium kejadian itu— setidaknya untuk saat ini. Namun, bukan itu yang mengganggunya.

Yang mengganggunya adalah dirinya sendiri.

Kenapa ia masih di sini? Kenapa ia harus repot-repot datang hanya untuk melihat pria yang selama ini ia anggap beban? Kenapa pikirannya terus dihantui oleh wajah Samuel sejak hari kecelakaan itu?

Ia menghela napas, menekan semua pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya, lalu akhirnya mendorong pintu perlahan.

Ruangan itu sunyi. Hanya ada suara alat medis yang berbunyi pelan, seolah menjadi pengingat bahwa kehidupan Samuel masih bertahan di antara garis tipis kesadaran dan ketiadaan.

Nazeea melangkah mendekat, menatap wajah lelaki itu dalam diam. Rambutnya sedikit berantakan, ada bekas luka samar di pelipisnya, dan kulitnya lebih pucat dari biasanya. Tapi, ia masih Samuel. Masih lelaki yang selama ini ada dalam hidupnya—entah sebagai beban atau sesuatu yang lebih dari itu.

Jemarinya terangkat sedikit, hampir menyentuh tangan Samuel yang terbaring diam di atas selimut putih. Namun, tepat sebelum ia menyentuhnya, hatinya mencelos.

Ini salahmu.

Suara itu berbisik pelan di kepalanya, nyaris seperti gumaman hantu yang enggan pergi.

Jika saja ia tidak begitu dingin— Jika saja ia tidak pernah membiarkan Samuel mengurus segalanya sendiri— Jika saja ia tidak bersikap seolah pria itu bukan siapa-siapa. Apakah Samuel masih akan terbaring seperti ini?

Dadanya terasa sesak. Selama ini, ia selalu menganggap Samuel sebagai beban—seseorang yang tidak pernah ia inginkan, seseorang yang keberadaannya hanya membelenggunya. Tapi sekarang, melihat pria itu dalam kondisi seperti ini, ada sesuatu yang menggerogoti hatinya perlahan-lahan.

Rasa bersalah.

Bisa saja ia berpura-pura bahwa perasaan ini tidak ada, menepisnya seperti yang selalu ia lakukan. Tapi kali ini, rasanya lebih sulit.

Tatapannya jatuh pada tangan Samuel yang masih terbalut perban. Ia ingat bagaimana tangan itu pernah dengan sigap membukakan pintu untuknya, bagaimana jemari itu selalu menahan payung di atas kepalanya saat hujan turun, bagaimana pria itu selalu ada— bahkan ketika ia sama sekali tidak memintanya untuk ada.

Dan sekarang?

Sekarang, ia bahkan tidak tahu apakah Samuel akan bangun dengan keadaan yang sama.

Apakah saat ia membuka matanya nanti, ia masih akan menjadi Samuel yang selama ini ia kenal?

Atau justru seseorang yang berbeda?

Mungkin seseorang yang lebih asing baginya. Atau— seseorang yang akhirnya sadar bahwa ia tidak perlu lagi bertahan di sisinya.

GESTICULATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang