BAB 06 | WHAT'S THE NEWS?

4.3K 424 44
                                        

Saat Nazeea sedang sibuk dengan kotak pesan dari email miliknya, suara bel pintu memecah konsentrasinya. Jemarinya berhenti sesaat, alisnya berkerut. 'Siapa yang datang sepagi ini?' pikirnya. Ia meletakkan laptop di atas meja, bangkit, dan melangkah menuju pintu.

Ketika pintu terbuka, seorang pria berseragam housekeeping berdiri di sana dengan tas peralatan di tangannya. Senyum sopan tersungging di wajahnya, dan badge kecil bertuliskan Aryan tersemat di dadanya.

“Selamat pagi, Bu Nazeea,” sapanya ramah. “Saya datang untuk membersihkan ruangan, sesuai jadwal.”

Nazeea memandangi pria itu beberapa detik sebelum mengangguk singkat. “Pagi Aryan, silahkan,"” balas Nazeea setelah membaca nama pekerja itu.

“Baik, Bu. Terima kasih,” jawab Aryan sambil melangkah masuk dengan sopan.

Jemarinya lincah menari di atas keyboard, sementara layar penuh dengan laporan dan email yang terus berdatangan. Bunyi notifikasi terdengar berulang kali, tetapi ia tampak tenang, sepenuhnya terfokus pada pekerjaannya.

Di sudut ruangan, Aryan mulai bekerja dengan cekatan. Ia membersihkan meja dengan kain lap, menyapu debu di rak buku, lalu mengambil penyedot debu untuk memberikan karpet. Suara alat pembersih sesekali terdengar samar, namun itu tak mengganggu konsentrasi Nazeea. Wanita itu bahkan hampir lupa bahwa ada orang lain di ruangan tersebut.

Tiba-tiba, dering telepon memecah kesunyian. Nazeea segera meraih ponselnya yang tergeletak di meja.

“Halo?†

Dari seberang telepon, suara manajernya terdengar. “Nazeea, bagaimana dengan klien kita? Apakah dia sudah memberikan konfirmasi?”

Nazeea melirik kalender digital di layar laptopnya, mengingat kembali pesan terakhir yang ia terima. “Oh, iya, Manajer. Kemarin malam dia membalas. Katanya akan datang pukul satu siang nanti.”

“Bagus. Pastikan semuanya sudah siap, ya. Kalau ada perubahan, segera beri tahu,” ujar sang manajer.

“Tentu, akan aku periksa lagi detailnya,” jawab Nazeea singkat namun lugas. Setelah panggilan itu berakhir, ia meletakkan ponselnya dan kembali menatap layar laptop.

Aryan yang sedang mengatur ulang vas bunga di meja ruang tamu, tanpa sadar melirik ke arah Nazeea. Pandangannya tertuju pada wanita itu, yang tengah sibuk mengetik di laptopnya. Jemari Nazeea bergerak cepat, seolah tak kenal lelah, sementara tatapan matanya fokus pada layar yang dipenuhi puluhan ribu pesan. Di balik sikapnya yang cuek, ada aura disiplin dan keteguhan yang membuat Aryan diam-diam terkesan.

"Pantas saja dia bisa membeli apartemen mewah ini," pikir Aryan sambil meluruskan posisi vas bunga dengan hati-hati. Ia tahu betul bahwa ruangan luas dengan dekorasi minimalis namun elegan ini tak mungkin dimiliki tanpa kerja keras.

Setelah selesai merapikan meja dan memastikan ruangan terlihat rapi, Aryan berdiri sejenak untuk memeriksa hasil pekerjaannya. Ia menatap ruangan yang kini bersih tanpa cela, lalu berjalan mendekati sofa tempat Nazeea masih sibuk dengan laptopnya.

“Bu Nazeea.” Aryan memanggil dengan nada sopan. “Pekerjaan saya hari ini sudah selesai. Apakah ada lagi yang perlu saya kerjakan?”

Nazeea mengangkat pandangannya sebentar, lalu menggeleng tanpa banyak bicara. “Tidak, itu saja untuk hari ini. Terima kasih, Aryan.”

Dengan sedikit ragu, Aryan kembali berbicara. “Maaf, Bu Nazeea,” katanya sopan, “Jika saya kurang sopan, tadi saya sempat lihat ada beberapa tumpukan piring kotor di dapur. Apa Anda ingin saya bersihkan sebelum saya pulang?”

GESTICULATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang