___
"Kau bisa terus menyangkal, tapi hatimu selalu tahu ke mana ia ingin pulang."
"Aku menunggumu hingga lelah, kau menungguku hingga menyerah. Mungkin kita tidak pernah benar-benar ditakdirkan untuk bertemu di tengah."
- Moy Mamoy
___
Jam digital di dashboard mobil menunjukkan pukul 5 sore. Langit masih terang, matahari mulai condong ke barat, menyisakan sinar keemasan yang memantul di jendela-jendela gedung tinggi. Jalanan kota tetap ramai, tapi di dalam mobil yang melaju, suasana terasa begitu hening.
Nazeea masih diam. Pikirannya dipenuhi kata-kata Joanna yang terus berputar, mengusik sesuatu yang selama ini ia abaikan.
Kejam.
Dingin.
Bagaimana kalau keadaan berbalik?
Ia menarik napas panjang dan memejamkan mata sejenak. Tidak. Ia tidak boleh membiarkan dirinya terpengaruh. Ia sudah memilih sikapnya sejak awal, dan ia tidak akan berubah hanya karena satu percakapan.
Mobil berhenti di depan gedung apartemen mewah. Joanna melirik sekilas sebelum akhirnya berkata, “Kita sudah sampai.”
Nazeea membuka mata, lalu menoleh ke arah Joanna. “Besok jadwalku apa?” tanyanya, mengabaikan percakapan sebelumnya.
Joanna hanya tersenyum tipis, lalu mengambil ponselnya untuk mengecek jadwal. “Latihan untuk pemotretan jam 11, fitting baju jam 2, dan wawancara eksklusif dengan Vogue jam 5.”
Nazeea mengangguk. “Baik. Pastikan semuanya sudah diatur.”
“Seperti biasa.” Joanna mengangkat bahu.
Nazeea membuka pintu mobil, tetapi sebelum keluar, Joanna kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih santai.
“Oh, dan satu lagi.”
Nazeea menoleh.
“Samuel sadar sepenuhnya. Mungkin besok atau lusa dia bisa mulai bicara.” Joanna tersenyum kecil. “Siap-siap saja kalau dia akhirnya mencari istrinya.”
Nazeea tidak merespons. Ia hanya menatap Joanna dalam diam sebelum akhirnya turun dari mobil dan menutup pintunya.
Namun, alih-alih menyuruh sopir melanjutkan perjalanan, Joanna ikut keluar dari mobil dan mengekor Nazeea ke dalam lobi.
Nazeea meliriknya sekilas. “Kau ikut?”
Joanna mengangkat alis, seolah pertanyaan itu tidak perlu ditanyakan. “Aku tidak mau repot pulang. Lagipula, siapa tahu aku perlu memastikan kau tidak tiba-tiba kabur ke luar negeri.”
Nazeea mendengus pelan. “Omong kosong.”
“Tapi masuk akal, kan?” Joanna terkekeh ringan. “Lagi pula, lebih baik aku di sini daripada harus menembus kemacetan hanya untuk pulang dan besok pagi kembali lagi ke tempatmu.”
Nazeea tak menanggapi lagi. Ia melangkah menuju lift, dan Joanna dengan santai mengikutinya.
Begitu sampai di apartemen, Nazeea melempar tasnya ke sofa dan langsung melepas sepatu hak tinggi yang sejak tadi membuat kakinya terasa pegal. Ia menghela napas panjang, lalu menjatuhkan diri ke sofa.
Joanna ikut masuk dan menutup pintu, kemudian melirik ke arah dapur. “Aku ambil minum, ya?”
“Terserah.”
Joanna berjalan ke dapur, mengambil sebotol air mineral dari kulkas. Ia meneguknya sedikit sebelum kembali duduk di sofa, menatap Nazeea yang masih bersandar dengan mata terpejam.
KAMU SEDANG MEMBACA
GESTICULATE
RomanceHidup dalam pernikahan yang dingin, di mana cinta dan kasih sayang tak pernah hadir. Itulah yang dialami Nazeea. Dia terjebak dalam rutinitas, tak pernah menghargai kehadiran Samuel, bahkan menganggapnya sebagai beban. *** Hingga pada suatu hari, sa...
