BAB 18 | WHICH CANNOT BE HIDDEN

881 113 12
                                        

___

“Kamu bisa mengabaikan seseorang, tapi bisakah kamu mengabaikan perasaanmu sendiri?”

"Melepaskan atau mempertahankan? Kadang, keduanya terasa sama sulitnya."

___

Pilar-pilar tinggi berdiri kokoh di beranda depan, mengapit pintu kayu mahoni besar dengan ukirannya yang rumit. Megah, besar, dengan arsitektur klasik yang menunjukkan kekayaan dan kekuasaan keluarga ini.

Lantai marmer yang begitu mengilap hingga bisa memantulkan bayangan, lampu kristal yang menggantung di langit-langit tinggi, dan aroma khas teh melati bercampur kayu cendana yang selalu memenuhi udara. Semuanya sempurna, tertata, seolah tak ada satu pun yang berani merusaknya.

Tapi bagi Nazeea, tempat ini lebih terasa seperti panggung sandiwara daripada rumah.

Lantunan musik klasik terdengar samar dari ruang tengah, mengisi keheningan rumah yang terlalu besar ini. Saat ia mencapai ruang tamu, matanya langsung menangkap sosok yang sudah menunggunya di sana.

Eleanor duduk anggun di sofa dengan secangkir teh di tangannya. Wanita itu tampak tenang, selalu. Rambutnya disanggul rapi, tetapi bukan dalam tatanan formal seperti biasanya. Pakaian yang dikenakannya kali ini lebih santai, setelan rumah berbahan sutra lembut berwarna krem dengan potongan elegan.

Nazeea tidak bergerak saat Mama Eleanor menariknya ke dalam pelukan singkat, mencium kedua pipinya dengan gerakan anggun yang nyaris otomatis. Aroma lembut mawar dan melati dari parfum wanita itu menyelimuti udara di antara mereka.

“Kau datang lebih pagi dari dugaanku,” kata Eleanor sambil melepaskan pelukan dan kembali duduk.

Nazeea ikut duduk di sofa seberangnya, tetapi punggungnya tetap tegak. “Aku ingin bertanya sesuatu.”

Eleanor mengangkat sedikit alisnya, isyarat bahwa ia mendengar.

“Apa mama tahu, apa yang terjadi kemarin di rumah?”

Eleanor meletakkan cangkir tehnya dengan gerakan anggun, lalu menatap Nazeea dengan ekspresi tenangnya.

“Tentu saja,” jawabnya lembut. “Aku selalu tahu apa yang terjadi di kediaman Morales.”

Nazeea mengepalkan jemarinya di pangkuan. “Lalu, siapa yang memperbaiki foto itu?”

Eleanor tersenyum kecil. “Aku.”

Nazeea menelan kekesalannya. “Kenapa?”

“Karena seharusnya memang begitu. Semua yang sudah terpasang, tertata di kediaman Morales tidak boleh ada yang memindahkannya. Termasuk merusaknya.”

Nazeea menghela napas, menatap lurus ke arah wanita di hadapannya. “Tapi aku tidak pernah memindahkannya,” katanya, berusaha menahan nada emosinya tetap datar.

Eleanor menyandarkan tubuhnya ke sofa, masih dengan ekspresi yang sama—tenang. “Tidak secara langsung, mungkin. Tapi membiarkan sesuatu yang seharusnya tetap rapi menjadi berantakan adalah bentuk lain dari pengabaian.”

Nazeea menegang. “Itu hanya foto,” ujarnya.

Eleanor tersenyum tipis. “Tidak, sayang. Itu bukan hanya foto. Itu simbol.”

“Simbol dari apa? Pernikahan yang tidak pernah kuinginkan? Hubungan yang bahkan tidak bisa disebut sebagai pernikahan?” sela Nazeea ketus.

Eleanor mengangkat cangkirnya lagi, meniup uapnya sebelum menyesap pelan. “Simbol dari siapa dirimu sekarang, Nazeea. Bukan siapa dirimu sebelum ini.”

GESTICULATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang