___
“Aku tidak meminta banyak, Nazeea. Hanya ingin kau jujur pada dirimu sendiri.”
- Joanna
___
Dalam dinginnya ruangan dan cahaya putih yang menyilaukan, suara-suara samar mulai menembus kesadarannya. Bisikan lirih, langkah kaki yang beradu dengan lantai, serta bunyi alat-alat medis yang berbunyi ritmis-semuanya perlahan menariknya kembali dari kegelapan yang begitu lama membungkusnya.
Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sedikit, lalu mengerjap lemah. Cahaya langsung menusuk pandangannya, membuatnya menyipit sebelum matanya terbuka lebih lebar, menampilkan sorot yang masih buram.
Begitu ia sadar sepenuhnya, rasa sakit segera menyergapnya. Pusing hebat menghantam kepalanya, membuatnya ingin memejamkan mata kembali. Namun, yang lebih menyiksa adalah rasa sesak di dadanya-seolah ada sesuatu yang berat menindihnya. Ia mencoba menarik napas dalam, tapi justru terasa nyeri, memaksanya mengerang pelan.
Jemarinya yang semula lemas bergerak sedikit, mencoba mencari pegangan. Detik berikutnya, suara lantang seorang perawat terdengar.
“Pasien sadar!” seru wanita muda berseragam putih, nada suaranya menunjukkan keterkejutan.
Dokter yang berdiri di sebelahnya segera mendekat, memeriksa detak jantung dan respons pasien. Sementara itu, perawat lain dengan cekatan mencatat setiap perubahan yang terjadi.
“Bagaimana perasaan Anda?” tanya dokter dengan nada tenang, meski matanya mengamati Samuel dengan penuh perhatian.
Samuel mencoba membuka mulut, tetapi tenggorokannya terasa kering. Pusing yang berdenyut di kepalanya semakin terasa, ditambah dengan napas yang terasa berat. Ia bahkan tak mampu untuk mengeluarkan sepatah katapun.
Samuel mencoba membuka mulut, tetapi tenggorokannya terasa kering seperti gurun yang kehausan akan hujan. Ia menelan ludah dengan susah payah, namun itu hanya memperparah rasa perih di tenggorokannya.
Pusing yang berdenyut di kepalanya semakin menyiksa, membuat penglihatannya sedikit kabur. Ia mencoba menggerakkan tangan, tetapi tubuhnya terasa berat, seolah-olah diikat oleh sesuatu yang tak terlihat.
Lebih buruk lagi, setiap tarikan napasnya terasa menyakitkan. Ada sensasi sesak di dada, seperti ada beban yang menekan paru-parunya, membuatnya sulit untuk bernapas dengan normal.
Ia ingin berbicara-bertanya di mana dirinya, apa yang terjadi-tetapi suara itu tak kunjung keluar.
Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah memejamkan mata kembali, berusaha menenangkan dirinya di tengah rasa sakit yang masih membelenggu tubuhnya.
Dokter mengangguk, memahami kondisi pasien yang masih terlalu lemah untuk berbicara. Dengan sigap, ia memberi isyarat kepada perawat untuk memeriksa kondisi Samuel lebih lanjut.
“Pastikan kadar oksigennya stabil,” ucap dokter dengan suara tegas namun tenang.
Perawat yang berdiri di samping segera mengecek monitor vital, memastikan semua dalam batas normal. Sementara itu, dokter mendekat, menatap Samuel yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan kesadarannya yang baru saja kembali.
“Tuan Samuel, jika Anda bisa mendengar saya, tolong berkedip,” kata dokter dengan nada lembut namun jelas.
Samuel, meskipun masih merasa berat, berusaha menggerakkan kelopak matanya. Ia berkedip satu kali-gerakan kecil yang cukup untuk mengonfirmasi bahwa ia sadar dan mendengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
GESTICULATE
RomanceHidup dalam pernikahan yang dingin, di mana cinta dan kasih sayang tak pernah hadir. Itulah yang dialami Nazeea. Dia terjebak dalam rutinitas, tak pernah menghargai kehadiran Samuel, bahkan menganggapnya sebagai beban. *** Hingga pada suatu hari, sa...
