___
“Maaf bukan hanya tentang kata-kata, tapi tentang keberanian untuk mengakui dan memperbaiki.”
___
Nazeea merasakan sentuhan Samuel di kepalanya. Hangat. Lembut. Sesuatu di dadanya berdesir, perasaan asing yang lagi-lagi datang, saat ia sedang bersama Samuel.
Samuel masih menatapnya, seolah memastikan bahwa apa yang ia dengar barusan bukan sekadar ilusi. “Kau takut kehilangan aku?” tanyanya sekali lagi, lebih pelan kali ini.
Nazeea menundukkan wajahnya, menyembunyikan ekspresi yang tak ingin ia perlihatkan. Ia merasa bodoh. Ia bahkan tidak tahu kenapa ia bisa mengucapkan itu. Tapi di sisi lain, ia juga merasa lega.
“Aku—tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kau pergi,” bisiknya.
Samuel tersenyum tipis, lalu menurunkan tangannya, kali ini membiarkan jemarinya menggenggam tangan Nazeea. Ia tidak ingin memaksanya untuk bicara lebih banyak.
“Kalau begitu, jangan lepaskan aku.”
Nazeea mengangkat kepalanya, sementara Samuel mengeratkan genggamannya, seolah ingin meyakinkan. “Aku tidak pernah meminta lebih, Nazeea. Tapi jika kau takut kehilanganku, maka aku akan tetap di sini.”
Nazeea menggigit bibirnya, hatinya berdebar kencang. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi entah kenapa lidahnya kelu.
Samuel menunggu. Namun ketika Nazeea tak kunjung merespons, ia tersenyum kecil, kemudian melepaskan genggamannya perlahan.
“Kau pasti lelah. Kita kembali ke kamar, ya?” ucapnya dengan suara lembut.
Nazeea mengangguk pelan. Tapi saat Samuel hendak beranjak, jemarinya tiba-tiba bergerak, mencengkeram ujung pakaian pria itu.
“Jangan pergi.”
Samuel terhenti. Tatapannya jatuh pada tangan Nazeea yang menggenggamnya. Hatinya menghangat.
“Aku tidak akan pergi. Aku di sini,” katanya pelan.
“Tuan, Nyonya, hari sudah mulai senja. Mungkin sebaiknya kita kembali ke ruangan sebelum gelap?” Suara seorang perawat menyela kegiatan di antara mereka.
Nazeea segera melepaskan genggamannya, menarik tangannya kembali dengan canggung. Samuel meliriknya sekilas sebelum mengangguk pada perawat itu.
“Baik, terima kasih sudah mengingatkan. Kau bisa pergi lebih dulu.”
Perawat itu tersenyum sopan sebelum melangkah pergi, meninggalkan mereka berdua dalam diam.
Nazeea menunduk, menatap jemarinya sendiri. Dadanya terasa sesak dengan perasaan yang belum sepenuhnya ia pahami. Sementara itu, Samuel meraih roda kursi rodanya, berniat kembali ke kamar.
“Tunggu.”
Nazeea melangkah mendekat, tangannya terulur ke pegangan kursi roda. “Biar aku yang dorong.”
Samuel mengangkat alis, sedikit terkejut, tapi ia tidak menolak. Ia hanya diam, membiarkan Nazeea mengambil alih.
Mereka berjalan perlahan menyusuri koridor rumah sakit. Hanya suara langkah kaki dan roda kursi yang bergulir menemani mereka.
“Kau pasti lelah,” gumam Samuel setelah beberapa saat. “Aku bisa sendiri.”
“Tapi aku ingin,” balas Nazeea cepat.
Samuel menoleh ke belakang, menatapnya. Ada sesuatu dalam suaranya—sesuatu yang jarang terdengar. Ketulusan.
Nazeea sadar tatapan Samuel tertuju padanya, tapi ia memilih untuk tidak menanggapi. Ia hanya terus berjalan, mendorong kursi roda dengan hati-hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
GESTICULATE
RomanceHidup dalam pernikahan yang dingin, di mana cinta dan kasih sayang tak pernah hadir. Itulah yang dialami Nazeea. Dia terjebak dalam rutinitas, tak pernah menghargai kehadiran Samuel, bahkan menganggapnya sebagai beban. *** Hingga pada suatu hari, sa...
