___
“Aku bisa berlari sejauh mungkin, tapi kenyataan akan selalu mengejar, dan aku hanya bisa bersembunyi di balik rasa takutku sendiri.”
- Nazeea Edavane Mahendra
“Kadang, saat kita berusaha mengabaikan perasaan, perasaan itu malah menemukan cara untuk tetap ada.”
___
Setelah membantu kepala pelayan membersihkan pecahan kaca, Marie melangkah kembali ke dapur, meski masih merasa heran. Sesampainya di sana, ia meletakkan nampan di meja dan menatap kepala pelayan yang tampak lebih cemas dari biasanya.
“Kepala Pelayan,” panggilnya lembut. “Apakah Nyonya baik-baik saja?”
Kepala pelayan menghela napas, sebelum akhirnya menjawab. “Nyonya sedang menghadapi banyak hal, Marie. Tapi itu bukan urusan kita,” katanya pelan, matanya teralihkan ke luar jendela, seolah menghindari pandangan Marie.
Marie hanya diam, tak bertanya apa-apa lagi. Setelah itu, ia pergi untuk membuang pecahan kaca yang terbungkus plastik, namun saat melintas, ia melihat Nazeea berjalan pergi dengan langkah cepat, tak menyadari kehadirannya. Langkah Marie terhenti lalu berbalik ke dapur dan melaporkannya pada kepala pelayan.
“Kenapa sampahnya belum kau buang, Marie?” tanya kepala pelayan, kesal melihat Marie yang datang dengan berlari juga sampah yang belum di buangnya.
Marie menunduk. “Maaf kepala pelayan,” jawabnya. “Saya melihat Nyonya Muda pergi dengan langkah cepat, bukankah tadi katanya ia menunggu susu jahe di perpustakaan?” tanya Marie, bingung setelah mendengar Nyonya Nazeea mengatakan demikian saat mereka sedang membersihkan pecahan kaca bersama.
“Tidak usah terlalu mengkhawatirkan Nyonya Muda, Marie. Dia pasti punya alasan sendiri. Kau hanya perlu fokus pada tugasmu,” jawab kepala pelayan, menatap Marie dengan raut serius.
“Sudah, cepat buang sampah itu,” titah kepala pelayan dengan nada tegas, menghindari percakapan lebih lanjut.
Marie mengatupkan bibirnya, menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh. “Tentu, kepala pelayan,” jawabnya pelan, sebelum berbalik untuk membuang sampah yang masih tergenggam di tangannya.
“Apa pelayan lain mendengar suara pecahan kaca itu?” gumam Marie setelah melangkah cukup jauh dari dapur.
“Mereka harus tahu tentang masalah ini, aku rasa akan menjadi topik hangat,” pikirnya dengan senyuman kecil, membayangkan reaksi rekan-rekannya.
Setelah memastikan tugasnya selesai, Marie menyempatkan diri untuk mendekati beberapa pelayan lainnya yang sedang berkumpul di area dekat taman belakang.
Matanya melirik ke kanan dan kiri memastikan tidak ada kepala pelayan di sekitar sini. Beberapa pelayan menoleh, menatap Marie heran.
“Sedang apa kau, Marie? Seperti maling saja,” celetuk salah satu pelayan di sana tertawa, bernama Retra.
“Psst, kalian tahu tentang Nyonya Muda?” bisik Marie pelan, ia memulai.
“Tidak, kenapa memangnya?” tanya Retra bingung.
Luna melirik Marie, si pelayan yang suka menggosip dengan mata malas. Sudah paham dengan tabiat pelayan satu itu. “Apa lagi sekarang?” gumam Luna, menyilangkan tangan di depan dada.
KAMU SEDANG MEMBACA
GESTICULATE
Roman d'amourHidup dalam pernikahan yang dingin, di mana cinta dan kasih sayang tak pernah hadir. Itulah yang dialami Nazeea. Dia terjebak dalam rutinitas, tak pernah menghargai kehadiran Samuel, bahkan menganggapnya sebagai beban. *** Hingga pada suatu hari, sa...
