BAB 22 | WHAT MUST NOT BE SAID

927 24 40
                                        

___

“Cinta bukan tentang menemukan orang yang sempurna, tapi tentang melihat kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan.”

- Moy Mamoy

___

“Permohonan cutimu tidak bisa diterima, Nazeea. Kontrakmu penuh, jadwalmu sudah diatur berbulan-bulan. Semua brand menunggu wajahmu. Jika kau absen, kita kena penalti besar.”

Begitulah percakapan terakhir Nazeea dan Yvonne di telepon barusan. Kalimat itu masih terngiang jelas di telinganya, menusuk seperti gema yang enggan padam.

Ia menurunkan ponselnya pelan, menatap layar yang kini gelap. Di kaca mobil yang memantulkan bayangan wajahnya, ia melihat sorot mata sendiri—bukan lagi tatapan sang model papan atas yang selalu ditampilkan di depan kamera, melainkan mata seorang istri yang sedang dipaksa memilih antara cinta dan karier.

Jari-jarinya mengetuk pelan jok kulit, tanda pikirannya berputar cepat. Yvonne terdengar panik, tapi tetap tegas menyampaikan keputusan agensi. Itu berarti jalan untuk cuti resmi nyaris tertutup rapat.

Nazeea menarik napas panjang, lalu menyandarkan kepala ke kursi. “Aku harus bagaimana?” gumamnya lirih, bertanya pada dirinya sendiri.

Apa yang akan ia katakan pada Samuel nanti?

Mobil berhenti di depan rumah. Ia segera menegakkan badan, merapikan rambut, lalu melangkah masuk dengan senyum yang sudah ia latih berkali-kali di kaca jendela mobil.

“Selamat datang,” suara Samuel menyambutnya pelan dari sofa. Selimut menutupi setengah bagian tubuh bawahnya, tapi matanya berbinar seolah hanya kehadiran Nazeea yang ia butuhkan.

Ia mendekat, merapikan selimut di bahu Samuel, lalu menyelipkan bantal kecil di belakang punggungnya. “Begini lebih nyaman, kan?” tanyanya lembut.

Samuel mengangguk, kemudian meraih tangannya. “Duduklah, ada yang ingin aku tanyakan padamu.”

Nazeea menurut, duduk di sisi sofa. Jemari Samuel yang masih menggenggam tangannya erat, membuatnya menoleh dengan rasa penasaran. “Apa itu?” tanyanya.

Samuel menatap wajah istrinya cukup lama, seakan ingin menghafalnya sekali lagi. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya. “Aku ingin tahu, apa kau benar-benar tidak keberatan harus merawatku begini? Aku tidak bisa melakukan banyak hal sekarang, bahkan untuk hal-hal kecil.”

Nazeea terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. “Pertanyaan macam apa itu? Justru ini kesempatan untukku membalas semua perhatianmu. Kau tidak perlu merasa begitu.”

“Aku hanya tidak ingin kau terbebani,” balas Samuel cepat.

Nazeea menatapnya dalam, kemudian tersenyum tipis. “Kalau pun aku terbebani, itu bukan karena merawatmu. Justru sebaliknya, kau adalah alasanku untuk bertahan. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi.”

***

Ponsel Nazeea bergetar pelan di meja, nyaris terendam oleh suara detik jam dinding. Layar menyala, menampilkan nama yang hanya ia simpan dengan satu huruf.

Nazeea segera meraih ponsel itu dan melangkah ke balkon, memastikan pintu kaca tertutup rapat sebelum menekan tombol hijau.

“Ya.”

“Informasi awal sudah kami dapat, Madam,” suara berat di seberang terdengar formal. “Mobil yang menabrak Tuan Samuel terdaftar dengan plat resmi, tetapi kepemilikannya tercatat atas nama Orion Global Holdings Ltd.—sebuah perusahaan offshore yang berbasis di British Virgin Islands.”

Alis Nazeea mengernyit. Nama itu asing, tapi nada suara lawan bicaranya membuatnya paham ini bukan perusahaan biasa. “Dan perusahaan itu?”

“Cangkang, tanpa aktivitas nyata. Tidak ada kantor, tidak ada karyawan. Hanya alamat surat di sebuah gedung kosong. Namun kami menemukan aliran dana masuk ke perusahaan tersebut. Sebagian besar dari jaringan investasi yang berafiliasi dengan sponsor besar event fashion internasional di Milan bulan lalu.”

Napas Nazeea tercekat. “Kau ingin bilang, ada orang dari lingkaran industri mode yang terlibat?”

“Ada kemungkinan besar. Apalagi pola transfernya tidak wajar—puluhan ribu dolar dipindahkan dalam jumlah kecil, berulang kali, seperti upaya menyamarkan asal-usulnya. Seseorang sedang menutupi jejak, Madam.”

Nazeea menahan napas. Dadanya berdegup keras, rasa dingin merayap ke seluruh tubuh. “Dan mobil itu? Bagaimana bisa hilang begitu saja?”

“Mobil yang digunakan terdaftar atas Orion, tapi setelah kecelakaan, kendaraan itu dilaporkan dicuri sehari sebelumnya. Dengan begitu, seolah-olah tidak ada yang bertanggung jawab. Kami menduga, ini sengaja diatur.”

Nazeea menutup mata sejenak. Jadi ini bukan sekadar kecelakaan jalanan biasa—ini serangan yang direncanakan.

“Siapa?” tanyanya dengan suara rendah.

Ada jeda lama di seberang. “Kami belum punya nama tunggal. Tapi satu yang pasti: jika pola aliran dana ini ditarik lebih jauh, benang merahnya bisa mengarah pada seseorang yang sangat dekat dengan dunia Anda sendiri. Ini bukan hanya tentang Tuan Samuel, Madam. Ada indikasi, target sebenarnya adalah Anda.”

Nazeea terdiam. Tangannya bergetar halus, tapi matanya menajam. Aku?

“Teruskan. Gali sampai dapat. Aku ingin nama, wajah, dan motif. Dan ingat, jangan sampai orang lain tahu hal ini, termasuk Samuel. Tidak boleh ada yang tahu satu kata pun soal ini. Aku yang akan tentukan langkah selanjutnya.”

“Baik, Madam.”

Setelah sambungan terputus, Nazeea tetap berdiri kaku di balkon kamarnya sendiri. Angin malam menyapu gaun tipis yang ia kenakan, membuat kulitnya terasa dingin.

Ia menatap jauh ke arah lampu yang berkelip. Kau tidak boleh goyah, Nazeea, ia membatin. Kalau benar ada yang mengincar, mereka pasti tahu titik terlemahku.

Kalau ini memang peringatan pertama, pikirnya sambil melangkah pelan, maka aku harus bersiap sebelum yang kedua datang.

Ponselnya kembali bergetar. Pesan kedua masuk, lebih panjang dari sebelumnya.

| Kami telusuri lebih dalam. Kendaraan kedua yang mengikuti malam itu terdaftar atas nama individu, bukan perusahaan. Namun, identitas pemiliknya tidak tercatat jelas, menggunakan dokumen palsu dari Eropa Timur.

| Ada satu detail penting. Mobil itu pernah terlihat parkir di basement gedung Agency Anda dua minggu lalu.

Nazeea sontak merasakan perutnya mengeras. Kejutan apa ini?

Tangannya mulai lemas, tapi pesan belum selesai.

| Kami belum bisa menghubungkan langsung ke siapa pun, tapi ada jejak transaksi keuangan. Jumlahnya kecil, rutin, mengalir ke sebuah rekening pribadi.

Nama siapa? Siapa yang ada di balik rekening itu?

| Kami belum bisa menyebut nama dengan pasti. Data rekening menggunakan identitas ganda, sulit dipastikan apakah asli atau hanya boneka.

| Jika kami sebutkan sekarang tanpa verifikasi penuh, itu bisa menjebak Anda dalam kesalahan. Satu hal yang pasti—pemilik rekening itu punya akses langsung pada jadwal pribadi Anda.

Bersambung ...

***

haii sayang 👋🏻
akhirnya balik lagi nih! maaf ya udah lama nggak update 😔 kemarin sempat ada masalah sama akun jadi ceritanya harus berhenti dulu.

thank you banget buat kalian yang masih stay nungguin, bener-bener bikin semangat buat lanjut nulis lagi 💗 mulai sekarang ceritanya lanjut lagi, semoga kalian enjoy sama kelanjutan alurnya!

jangan lupa tinggalin komentar biar aku tau kalian masih pada ngikutin yaa💕

Sampai jumpa sayangkuu 💋


Written by Moy Mamoy

GESTICULATECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang