BAB 05 | APOLOGY

4.7K 417 29
                                        

“Aku ingin kita mulai dari awal, Zee. Bukan sebagai dua orang asing yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama, tapi sebagai pasangan. Pasangan yang saling mengerti dan menerima. Aku tahu ini tidak mudah, tapi aku yakin kita bisa mencoba.”

Nazeea terdiam. Kata-kata Samuel masih terngiang di kepalanya, meski ia tak menunjukkan apa pun selain wajah datarnya.

“Aku sadar aku bukan pilihanmu. Mungkin aku tidak akan pernah bisa menjadi alasan dibalik senyummu. Tapi, bagiku, kamu adalah bagian dari hidup yang selalu ingin ku jaga. Kalau aku punya kesempatan, aku ingin membuatmu bahagia, Zee.”

Nazeea memalingkan wajah, menghindari tatapan Samuel yang terasa begitu tulus-terlalu tulus, hingga membuat hatinya bergetar. Saat itu, ia memilih untuk tak menjawab apa pun.

***


Dari jendela apartemen, Nazeea memperhatikan mobil Samuel yang perlahan meninggalkan halaman. Lampu belakangnya kian mengecil hingga akhirnya hilang di kejauhan. Hembusan napas panjang lolos dari bibirnya. Kata-kata Samuel kembali memenuhi benaknya, seperti kaset yang diputar berulang-ulang.

"Aku ingin kita mulai dari awal ..."

Nazeea meremas jemarinya sendiri, mencoba melawan perasaan yang tiba-tiba muncul dan mengacaukan pikirannya.

“Tidak. Aku tidak boleh seperti ini, aku tidak boleh lemah hanya karena dia,” elak Nazeea.

Ia memijit pelipisnya, berusaha mengusir rasa bimbang yang menyergap. Namun semakin ia mencoba, semakin kuat suara hati itu bergema.

“Apa iya aku benar-benar tidak peduli padanya?”

Nazeea menggeleng cepat. “Tidak. Itu tidak mungkin.”

Nazeea bangkit dari sofa, ia berjalan meninggalkan jendela. Menjauh dari pemandangan yang seolah menyeretnya pada perasaan yang tak ingin ia akui.

“Aku bisa, aku tak butuh cinta seorang Pria. Aku hanya butuh uang dan kesuksesan.”

Kata-kata itu meluncur dari bibirnya begitu saja, seperti mantra, meski jauh di lubuk hatinya, ada keraguan kecil yang sulit diabaikan. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa kebahagiaannya tak bergantung pada siapa pun. Baginya, cinta hanyalah gangguan. Sesuatu yang tak ada dalam rencana sempurnanya.

Namun, meski ia terus menyangkal, bayangan wajah Samuel dan kata-kata lembutnya tak juga lenyap dari pikirannya.

Nazeea adalah wanita yang pandai menutupi perasaan, menyangkal kebenaran demi mempertahankan citra diri yang kokoh. Baginya, menjadi lemah adalah sebuah kekalahan.

Namun, apa yang sebenarnya ia takuti? Perubahan? Atau perasaan yang pelan-pelan mulai ia sadari?

Samuel. Suami yang selama ini ia abaikan, ia jauhi, dan bahkan ia anggap sebagai beban. Lelaki yang sekarang menjadi pusat dari kekacauan pikirannya.

“Bagaimana kalau aku salah selama ini? Bagaimana kalau Samuel memang tulus?”

Pertanyaan itu terus menghantuinya, membuatnya memikirkan ulang jalan yang selama ini ia pilih. Padahal, jika saja ia mau membuka hati, mungkin semua hal baik yang ia impikan selama ini akan mendekat padanya.

Tapi keberanian itu terasa seperti sesuatu yang masih terlalu jauh untuk diraih. Membuka hati untuk Samuel?

Nazeea tersenyum miris. “Apa gunanya?” gumamnya lirih. “Membuka hati hanya akan membuatku lemah. Aku sudah terlalu jauh berjalan untuk kembali dan berharap pada sesuatu yang tidak pasti.”

Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang terus bergolak. Samuel memang pria yang sabar, selalu ada meski tak diminta. Tapi apa itu cukup? Baginya, cinta adalah hal yang rumit, dan ia tak yakin Samuel, atau siapa pun, mampu mengerti dinding yang telah ia bangun di sekeliling hatinya.

GESTICULATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang