A few months ago ...
Nazeea memasuki rumahnya dan langsung melepaskan sepatu hak tinggi di dalam rak sepatu. Pandangannya teralihkan kala salah satu pelayan wanita menyapa kepulangannya dengan semangat.
“Selamat malam, Nyonya Nazeea.” Suara ceria menyambut kepulangannya. Ia menoleh dan melihat Luna, salah satu asisten rumah tangga mereka, berdiri di dekat pintu dengan senyuman lebar.
Nazeea memberi senyum tipis sebagai balasan. “Selamat malam, Luna,” jawab Nazeea sekenanya, lalu melanjutkan langkahnya ke ruang tamu tanpa banyak bicara.
Luna tetap tersenyum sambil menambahkan. “Nyonya, makan malam sudah disiapkan. Jika Nyonya ingin makan atau istirahat dulu, saya bisa antarkan ke kamar.”
Nazeea meliriknya sejenak. Tidak ada minat untuk berbicara lebih banyak. “Tidak perlu, aku ingin langsung ke kamar. Terima kasih,” jawabnya.
Nazeea melangkah pelan memasuki ruang tamu yang luas dan rapi, dengan aroma kayu dan sedikit wangi citrus yang menyeruak lembut. Di tengah ruangan, duduklah Samuel, tenggelam dalam sebuah buku tebal yang ada di tangannya. Penampilannya tetap rapi, bahkan setelah seharian bekerja. Kemeja putih dan jas abu-abu yang ia kenakan tidak tampak kusut sedikit pun, seolah menggambarkan betapa tertatanya hidup pria itu.
Samuel menyadari kehadiran Nazeea, tanpa mengangkat kepala. Ia tetap fokus pada bukunya, suaranya terdengar tenang saat bertanya, “Kau sudah pulang?”
Nazeea hanya mengangguk singkat sebagai jawaban, bahkan tak menoleh atau mengucapkan sepatah kata pun. Dengan anggun, ia melangkah menuju anak tangga, menaikinya satu per satu dengan gerakan yang tenang. Gaun kerjanya yang indah jatuh sempurna mengikuti gerak tubuhnya.
Samuel memperhatikan sosoknya yang perlahan-lahan menaiki tangga, menghela napas pelan setelah Nazeea menghilang di balik sudut. Setiap hari, mereka berinteraksi seperti dua orang asing yang tinggal di bawah satu atap.
Samuel hanya bisa menatap punggungnya yang menghilang di ujung tangga, merasa seolah-olah ada dinding tak terlihat yang membentang di antara mereka, sulit ditembus.
Samuel menggumam pelan pada dirinya sendiri. “Aku tidak tahu, sampai kapan kita bisa bertahan seperti ini.”
Begitu Nazeea memasuki kamarnya, ia menutup pintu dengan perlahan. Suasana kamarnya yang tenang dan damai mampu mencairkan suasana hatinya. Wanita itu perlahan berjalan ke arah meja riasnya, membuka laci-laci kecil berisi perhiasan yang biasa ia gunakan. Melepaskan perhiasan dan meletakkannya pada tempatnya, gelang tangan, cincin, anting - antingnya ia tata dengan rapi, satu per satu. Tak lupa, hal yang sudah menjadi rutinitas harian para wanita— waktunya untuk membersihkan wajah dan memakai rangkaian urutan skincare.
Pertama, ia mengambil kapas lembut dan meneteskan cairan pembersih di atasnya. ia mengusap wajahnya, menghapus foundation, bedak, dan riasan mata dengan hati-hati. Setiap usapan membuat wajahnya semakin polos, menyingkap wajah asli yang terasa lebih ringan. Ia mengulangi gerakan itu hingga semua jejak make up benar-benar hilang, membiarkan kulitnya kembali bernapas.
Setelah wajahnya bersih, Nazeea meletakkan kapas terakhir di meja, lalu berjalan menuju kamar mandi yang terletak di samping kamarnya. Kamar mandi itu berdesain modern, dengan lantai marmer dingin yang menyentuh telapak kakinya saat ia melangkah masuk. Ia membuka keran shower, membiarkan air mengalir hingga suhunya hangat, lalu mulai melepaskan gaun yang ia kenakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
GESTICULATE
RomanceHidup dalam pernikahan yang dingin, di mana cinta dan kasih sayang tak pernah hadir. Itulah yang dialami Nazeea. Dia terjebak dalam rutinitas, tak pernah menghargai kehadiran Samuel, bahkan menganggapnya sebagai beban. *** Hingga pada suatu hari, sa...
