Hidup dalam pernikahan yang dingin, di mana cinta dan kasih sayang tak pernah hadir. Itulah yang dialami Nazeea. Dia terjebak dalam rutinitas, tak pernah menghargai kehadiran Samuel, bahkan menganggapnya sebagai beban.
***
Hingga pada suatu hari, sa...
"Lucu, bagaimana aku selalu ingin lepas darinya. Tapi sekarang, aku bahkan tidak tahu apakah aku benar-benar bisa."
___
Setelah memastikan kondisi Samuel, Nazeea memutuskan untuk pulang. Sebelum pergi, Mama Eleanor sempat menariknya ke dalam pelukan.
Sebentar saja, namun cukup membuatnya merasa aneh.
Rasanya canggung. Mungkin karena mereka belum pernah sedekat ini?
Sejak awal, hubungannya dengan keluarga Samuel berjalan biasa saja. Tidak buruk, tapi juga tidak akrab. Bukan karena mereka tidak menerimanya, melainkan karena Nazeea sendiri yang menjaga jarak.
Karena Ia tahu, semakin sering bertemu dan bersentuhan, semakin besar kemungkinan terjalinnya ikatan emosional. Dan Nazeea tidak menginginkan itu.
Di dalam mobil, ia menyumbat telinganya dengan earphone, membiarkan jemari lentiknya sibuk menggulir layar ponsel. Sosial media menjadi pelariannya malam ini, meskipun pikirannya tetap saja berkelana ke tempat lain.
Notifikasi berdatangan, sebagian besar dari grup agensi dan beberapa pesan pribadi yang belum sempat ia baca. Namun, bukannya membalas, Nazeea justru terus menggulir layar tanpa henti.
Berita tentang pernikahannya masih berseliweran di berbagai platform, lengkap dengan foto-foto dirinya dan Samuel. Potongan-potongan gambar dari acara tertentu, spekulasi tentang hubungan mereka, hingga komentar dari warganet yang mencoba menebak-nebak seperti apa kehidupan rumah tangga mereka.
Nazeea mendengus pelan. Media memang selalu punya cara untuk membuat sesuatu terlihat lebih dramatis dari kenyataan.
Dari sudut layar, notifikasi baru muncul. Kali ini dari nomor tak dikenal.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alisnya bertaut. Siapa?
Jarinya nyaris menekan pesan itu sebelum ponselnya tiba-tiba bergetar, panggilan masuk dari Yvonne. Nazeea menghela napas sebelum mengangkatnya.
“Halo?”
“Kau ada di mana?” Suara Yvonne terdengar serius, tanpa basa-basi.
“Di jalan pulang,” jawab Nazeea, menatap lampu kota yang berkelebat di balik jendela mobil.
“Jangan pulang dulu. Wartawan sudah menunggu di apartemenmu.”
Nazeea menutup mata sejenak, menghela napas panjang. Tentu saja.
Sejak berita pernikahannya tersebar, wajar jika media mulai mengejarnya. Mereka pasti haus akan klarifikasi atau sekadar ingin menggali sesuatu yang bisa mereka jadikan bahan gosip.