___
“Langit yang mendung bukan akhir, ia hanya jeda sebelum mentari bersinar lebih terang.”
___
Nazeea menggenggam hairdryer yang baru saja dinyalakannya. Dengan gerakan lincah, ia menekan tombol untuk mengubah suhu udara menjadi dingin. Angin sejuk perlahan mengalir, menyapu rambutnya yang masih basah setelah mandi. Ia memiringkan kepala, memastikan setiap helaian rambut terkena hembusan angin.
Saat sedang sibuk dengan rambutnya, ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya membuat Nazeea menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah pintu. Ia mematikan hairdryer, lalu menyahutinya.
“Siapa?” tanyanya singkat, sedikit terganggu karena sedang menikmati momen merawat dirinya sendiri.
“Ini saya, Bu. Anna.” Suara seorang pelayan terdengar dari balik pintu, lembut dan sopan.
Nazeea menghentikan pekerjaannya sejenak, berdiri dan berjalan mendekati pintu. Benar saja, begitu pintu itu terbuka ia mendapati sosok seorang wanita berdiri di sana. Anna, pelayannya, tersenyum lembut. Wajahnya cantik dengan kulit kuning langsat yang bersinar dalam cahaya lampu, dan sebuah tahi lalat kecil di bibir bawahnya menambah keunikan parasnya.
“Anna.” Nazeea menyapa singkat. “Ada apa?”
Anna mengangkat nampan yang ia bawa, memperlihatkan secangkir teh hangat yang mengepul bersama sepiring camilan kecil. “Maaf mengganggu, Bu. Saya membawakan camilan malam juga Teh yang ibu minta.”
Nazeea menatap nampan itu sejenak, lalu mengangguk kecil. “Letakkan di meja,” ucapnya sambil melangkah ke meja rias, kembali ke kegiatannya yang tertunda.
Anna dengan tenang melangkah masuk, menaruh nampan di atas meja samping sofa. Gerak-geriknya cekatan namun penuh kehati-hatian. Ia sudah terbiasa melayani tuan rumah yang cenderung perfeksionis seperti Nazeea.
“Apakah ada yang ibu butuhkan lagi?” tanya Anna dengan suara lembut.
Nazeea hanya menggeleng tanpa melihatnya. Fokusnya kembali pada pengering rambut ditangannya. Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu dan mengangkat wajahnya. “Oh, Anna.”
“Iya, Bu?” Anna berbalik menghadapnya.
“Besok tolong siapkan ruang tamu lebih rapi dari biasanya. Akan ada tamu penting,” pinta Nazeea tegas.
“Baik, Bu.” Anna tersenyum tipis, sedikit membungkuk sopan sebelum akhirnya beranjak keluar.
Setelah pintu kembali tertutup, terdengar suara notifikasi pesan masuk tepat bersamaan dengan Nazeea yang baru saja selesai mengeringkan rambutnya. Diliriknya ponsel yang tergeletak di dekat cermin. Menghentikan lagu yang sedang ia putar.
Ya, kebiasaannya adalah memutar lagu dan menyalakan lilin aromaterapi saat sedang beraktivitas atau menjalani ritual merawat dirinya. Seperti sekarang.
Nama Samuel muncul di pop up pesan, lalu selang sedetik panggilan telepon masuk tiba-tiba dari pria itu. Nazeea terdiam, bingung dengan pilihannya. Antara membiarkan telepon hingga mati sendiri atau menjawabnya. Cukup lama Nazeea terdiam sembari memandangi ponselnya yang terus bergetar, nama Samuel terpampang jelas di sana.
Ia terdiam, bibirnya mengatup rapat, sementara pikirannya berputar. Haruskah ia menjawab, atau cukup membiarkan dering itu berlalu?
Detik demi detik berlalu, suara getaran dari ponsel terasa makin mengisi keheningan kamar. Nazeea menghela napas panjang, matanya tak lepas dari layar, tapi tangannya enggan bergerak untuk mengambil telepon itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
GESTICULATE
RomanceHidup dalam pernikahan yang dingin, di mana cinta dan kasih sayang tak pernah hadir. Itulah yang dialami Nazeea. Dia terjebak dalam rutinitas, tak pernah menghargai kehadiran Samuel, bahkan menganggapnya sebagai beban. *** Hingga pada suatu hari, sa...
