___
“Aku selalu mencari alasan untuk membenci, tapi yang kutemukan justru alasan untuk peduli.”
– Nazeea
“Kebenciannya padaku tidak pernah penuh, begitu pula perasaannya yang lain.”
– Samuel
___
Lima tahun bukan waktu yang singkat. Selama itu, Samuel tetap berada di sisi Nazeea, meskipun ia tahu betul bahwa keberadaannya tak pernah benar-benar diinginkan.
Ia mencintai Nazeea dalam diam. Ia menahan diri untuk tidak memaksa, tidak meminta lebih dari apa yang Nazeea rela berikan—meskipun yang ia terima hanya tatapan dingin dan kata-kata yang tak pernah menghangatkan.
Namun, lima tahun berjalan, dan kini Samuel mulai bertanya pada dirinya sendiri, sampai kapan ia bisa bertahan? Sampai kapan ia sanggup mencintai tanpa pernah dicintai kembali?
Samuel tahu bahwa mencintai seseorang yang tidak membalas perasaan itu melelahkan. Namun, ia juga tahu bahwa melepaskan Nazeea bukan perkara mudah. Ia sudah mencoba, berkali-kali, meyakinkan dirinya bahwa ia harus menyerah, bahwa mungkin lebih baik jika mereka berjalan di jalan masing-masing.
Tapi setiap kali ia melihat Nazeea, bahkan dalam sikap dinginnya, ada sesuatu dalam dirinya yang menolak untuk pergi.
Jika orang berkata ia menjadi bodoh karena terus bertahan dalam pernikahan yang hanya memberinya luka, mungkin mereka benar.
Lima tahun mencintai seorang diri tanpa pernah dihargai. Itu menyakitkan.
Dan dua hari yang lalu, ketika Nazeea menangis dalam pelukannya, semua yang ia coba kubur selama ini kembali muncul ke permukaan. Jemari perempuan itu mencengkeram bajunya erat, seolah takut kehilangannya. Air matanya membasahi dada Samuel, membakar luka yang selama ini ia pendam sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun. Apakah itu penyesalan? rasa bersalah? atau hanya luapan emosi sesaat?
Tapi saat tubuh Nazeea bergetar dalam dekapannya, ketika jemari perempuan itu mencengkeram erat bajunya seolah takut kehilangannya, Samuel merasakan kehangatan yang selama ini ia inginkan.
Namun, ia juga tahu bahwa berharap pada Nazeea adalah seperti menggenggam bayangan—ia bisa merasakan keberadaannya, tetapi tak pernah benar-benar memilikinya.
Hanya membiarkan Nazeea menangis, membiarkan tubuh perempuan itu bergetar dalam pelukannya, membiarkan jemari yang selama ini enggan menyentuhnya kini mencengkeram erat, seolah takut ia pergi.
Tapi itu hanya sesaat. Begitu kesadaran kembali pada Nazeea, genggamannya melemah. Ia mengendurkan pelukan, menjauh perlahan, dan dalam hitungan detik, jarak di antara mereka kembali terasa begitu jauh.
Samuel tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menatap Nazeea, mencari sesuatu di matanya—sesuatu yang bisa memberinya jawaban. Namun, yang ia lihat hanyalah kebingungan. Mungkin juga ketakutan.
Dan di saat itu, Samuel menyadari sesuatu.
Bukan hanya ia yang terjebak dalam kebodohan ini.
Nazeea juga.
Hanya saja, jika Samuel selama ini terjebak dalam perasaan yang terlalu dalam, Nazeea terjebak dalam penolakan yang terlalu kuat.
Tapi kemarin, wanita itu kembali datang. Menumpahkan kekesalannya saat ia tertidur—ah, tidak, lebih tepatnya berpura-pura tertidur.
Samuel mengingat jelas setiap kata yang diucapkan Nazeea malam itu. Suaranya terdengar penuh emosi, marah, kesal, tetapi di balik semua itu, ada sesuatu yang selama ini tidak pernah ia dengar dari wanita itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
GESTICULATE
RomanceHidup dalam pernikahan yang dingin, di mana cinta dan kasih sayang tak pernah hadir. Itulah yang dialami Nazeea. Dia terjebak dalam rutinitas, tak pernah menghargai kehadiran Samuel, bahkan menganggapnya sebagai beban. *** Hingga pada suatu hari, sa...
