BAB 23 | THE UMPTEENTH TIME

189 21 3
                                        


___

"Bertemu dengan seseorang yang tepat di waktu yang salah itu menyebalkan ya?"

___


Nazeea berdiri mematung beberapa saat setelah membaca pesan terakhir itu. Akses langsung pada jadwal pribadinya. Artinya lingkaran itu mengecil.

Bukan orang luar. Bukan juga kebetulan. Melainkan orang dalam.

Tangannya perlahan mengepal. Ia memaksa napasnya kembali stabil sebelum membuka pintu balkon dan masuk ke dalam rumah.

Di ruang tamu, Samuel masih duduk di sofa, punggungnya ia sandarkan, selimut menutupi kaki yang belum sepenuhnya pulih.

Samuel menoleh ketika Nazeea masuk. Dengan tatapan matanya yang tenang dan hangat yang menyambutnya selalu. Dan justru itulah yang membuat dada Nazeea terasa semakin berat.

"Udara di luar dingin?" tanya Samuel lembut.

Nazeea mengangguk singkat. Suaranya terasa tertahan di tenggorokan. Ia berjalan mendekat, merapikan selimut yang sedikit bergeser di lutut Samuel. Gerakan kecil ini mampu membuat jari-jarinya bergetar halus.

Jika mereka tahu titik terlemahku ...

Maka mereka akan menyentuh orang ini.

"Sudah minum obat?" tanyanya pelan.

"Sudah," jawab Samuel, menatapnya dengan senyum tipis. "Aku menunggumu."

Kalimat itu.

Menunggumu.

Berapa kali pria ini menunggunya pulang larut malam?

Berapa kali ia tidur sendirian di rumah besar ini?

Berapa kali ia menahan diri untuk tidak bertanya ke mana istrinya pergi?

Samuel menggenggam tangannya.

Nazeea menunduk menatap genggaman itu. Rasa sesak perlahan memenuhi dadanya.

Jika target sebenarnya adalah aku ...

Ia menelan napas—

Bayangan hujan malam itu kembali menampar ingatannya. Tubuh Samuel yang terpental, darah yang mengalir di kemeja putihnya, dan namanya yang ia teriakkan dengan suara yang bahkan tidak ia kenali sebagai miliknya sendiri.

Ia tidak pernah takut kehilangan Samuel sebelumnya.

Tidak pernah.

Dan kesadaran itu, terasa seperti dosa yang baru saja ia pahami.

"Kamu terlihat banyak pikiran."Suara Samuel menarik kesadarannya kembali.

Nazeea mengangkat wajahnya, memasang senyum tipis. "Hanya lelah," jawabnya.

Samuel tidak sepenuhnya percaya. Tatapannya bertahan lebih lama, seolah mencoba membaca sesuatu yang Nazeea sembunyikan.

Nazeea segera mengalihkan pandangan. "Istirahatlah. Dokter bilang jangan terlalu lama duduk."

Samuel mengangguk, membiarkan Nazeea membantunya berdiri. Tubuh pria itu bertumpu sebagian pada bahunya, dan beban berat itu terasa lebih berat dari apa pun yang pernah ia pikul.

Bukan karena berat badannya. Melainkan karena rasa bersalah yang menekan dadanya. Seharusnya dia tidak berada di jalan malam itu.

Seharusnya dia tidak terluka. Seharusnya dia tidak menanggung akibat dari hidup yang bukan miliknya.

Ya, seharusnya Samuel tidak mengalami ini semua. Semua kejadian menyakitkan yang disebabkan oleh dirinya.

Samuel menikahinya dengan cinta yang ia pikul sendirian, sementara ia menerima pernikahan itu dengan hati yang belum sempat pulih.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 12 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

GESTICULATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang