BAB 08 | DAYDREAMING AGAIN

3.9K 343 42
                                        

Nazeea duduk di ruang tunggu rumah sakit, menatap lurus ke depan dengan pikiran yang melayang jauh. Tubuhnya terasa lelah, bukan karena luka ringan akibat terbentur aspal-yang kini sudah diobati dan tak lagi menyakitkan-melainkan karena beban emosi yang terus menghimpit dadanya. Keputusannya untuk tidak langsung pulang, meskipun sudah diperbolehkan, adalah sesuatu yang bahkan dirinya sendiri sulit jelaskan.

Pakaian yang tadinya basah karena hujan kini sudah kering kembali, namun dinginnya masih terasa.

Ia sudah menyuruh Nirav dan Tanvi pulang lebih dulu, setelah memastikan mereka tak akan membuka mulut kepada kedua orang tuanya tentang apa yang baru saja terjadi.

Nirav sempat menolak permintaan itu, mengingat betapa keras kepala dan tertutupnya Nazeea selama ini, tapi Tanvi dengan lembut memintanya untuk mengalah. Seolah paham dengan perasaannya, Tanvi berkata, "Nazeea pasti punya alasan. Kita harus memberinya ruang." Akhirnya, Nirav hanya bisa pasrah, meski ada kekhawatiran di matanya saat ia pergi meninggalkan rumah sakit bersama istrinya.

Kini, hanya Nazeea yang tersisa di sini. Diam-diam, ia telah mendapatkan informasi dari Tanvi bahwa Samuel dirawat di rumah sakit yang sama.

Langit di luar jendela mulai gelap. Lampu-lampu ruang tunggu menyala, memantulkan cahaya hangat ke lantai marmer yang mengilap.

Nazeea duduk di ruang tunggu rumah sakit, dengan tubuh lemas yang ia paksakan untuk tetap tegak. Kakinya ia lipat anggun, mempertahankan postur tubuhnya tetap sempurna. Punggungnya kuat berdiri tanpa menyentuh sandaran kursi berlengan yang terbuat dari besi dingin. Jemarinya yang ramping meremas tali tas kecil di pangkuannya, seolah-olah benda itu bisa memberinya sedikit kekuatan.

Nazeea memandang kosong lantai, tapi pikirannya tak henti-henti mengulang kejadian tadi. Wajah Samuel yang bersimbah darah terus menghantuinya. Suara pintu terbuka membuyarkan lamunannya.

"Nazeea!" suara tajam seorang wanita membuat Nazeea mendongak.

Itu adalah ibu Samuel, yang datang bersama suaminya. Wajahnya sembab, mata merah dengan alis berkerut tajam. Langkahnya cepat, mantel hitam panjang yang ia kenakan melambai-lambai mengikuti gerakannya.

"Bagaimana bisa ini terjadi? Apa yang kau lakukan sampai Samuel terluka seperti ini?" Suara ibu Samuel meninggi. Ia menatap Nazeea marah.

Nazeea membuka mulutnya, tapi tak ada kata yang keluar. Semua terasa mengganjal di tenggorokannya.

"Apa kau tahu, Samuel itu selalu memikirkanmu? Dia bahkan ..." Suara ibu Samuel terhenti, tangisnya pecah. Ia memukul dadanya, mencoba menahan sesak.

"Aku ..." Nazeea akhirnya bersuara, tapi tak tahu harus berkata apa. Ia menggenggam erat jemarinya, menahan rasa bersalah yang membuncah.

"Cukup." Suara ayah Samuel terdengar tegas ia menengahi. Ia memegang bahu istrinya, mencoba menenangkannya. "Kita tidak ada di sini untuk mencari siapa yang salah. Fokus kita adalah Samuel."

"Tapi, Pah ..." Ibu Samuel menoleh dengan matanya berkaca-kaca, menahan emosi.

Pria itu menggeleng pelan, kemudian menatap Nazeea dengan sorot mata tajam tapi tak sekeras istrinya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya singkat. Memperhatikan beberapa bagian tubuh Nazeea dibalut perban.

Nazeea mengangguk lemah. "Samuel, bagaimana keadaannya?"

Sebelum jawaban keluar, seorang dokter mendekat. "Keluarga Samuel?"

Mereka bertiga serempak berdiri, menunggu dengan cemas.

"Luka-lukanya cukup parah, tapi kami berhasil menghentikan pendarahan. Saat ini ia masih dalam observasi intensif. Kami akan terus memantau perkembangannya dalam beberapa jam ke depan."

GESTICULATETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang