CHAPTER 1

112 24 8
                                        

—oOo—

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

—oOo—

Raka masih menatap heran teman disebelahnya, sudah hampir 20 menit dia menggigit kuku dan menggoyangkan satu kakinya. Tatapannya datar lurus kedepan.

"Han! Lo kenapa sih?"

Masih belum ada respon, sudah puluhan kali Raka memanggil Jehan, tapi laki-laki berambut hitam itu tetap saja tidak menghiraukan Raka, malah Jehan semakin larut dalam lamunannya.

~
"Kok tau nama saya?"

Tanpa menjawab apa-apa, Jehan langsung menarik perempuan yang baru saja dia panggil zizi itu ke dalam pelukannya. Ia memeluk dengan erat.

"Terimakasih Zizi" Jehan menjatuhkan air matanya, ia tidak menyangka, keyakinan yang selalu dia pegang benar adanya, dan sekarang zizi sudah berada di dalam pelukannya.

Sedangkan Zizi, yang kini sedang dipeluk, berusaha melepas diri dari pelukan jehan, dan berhasil, ia sudah lepas dari pelukan erat itu. Gadis itu merasa sangat tidak nyaman.

"Gak sopan!" Air wajah gadis itu terlihat sangat marah, ia lalu pergi begitu saja, meninggalkan Jehan.

Tentu saja Jehan tidak membiarkan Zizi pergi begitu saja,"tunggu zi," Jehan berhasil menggapai tangan Zizi, "kamu satu tahun kemana aja?" Sambungnya.

Dengan cepat, perempuan itu —zizi, melepaskan tangan Jehan. "Sekali lagi kamu nyentuh saya, saya akan teriak maling!" Zizi melototkan matanya.

"Kamu, udah lupa sama aku? Ini aku Jehan.."

Jehan menatap Zizi dengan mata yang berkaca-kaca, tidak percaya bahwa semudah itu zizi melupakan Jehan. Padahal Jehan sendiri selalu merindukannya.

"Saya gak pernah kenal sama kamu! Permisi," lagi-lagi, Zizi pergi berlalu.
~

" Jehann!!" Raka masih memanggil Jehan, tapi temannya itu masih seperti orang yang beban hidupnya sangat berat.

tidak ada pilihan lain, Raka harus menyadarkannya sekarang juga, sepertinya temannya itu sudah kemasukan roh halus.

Raka berdiri, sebelum itu, dia mengambil gelas yang ada di meja, masih tersisa sedikit air di dalam gelas tersebut,"kretektusewukintsksusk" seolah membaca mantra, Raka menutup mata dan bersikap seperti seorang dukun yang sedang melayani pasiennya.

"Ngapain lo?" semprot Jehan tiba-tiba.

Pupus sudah niat Raka menjadi dukun dadakan. Ternyata Jehan telah sadar. Pria bermata cipit itu lalu membuka matanya kemudian kembali duduk dan menaruh gelas yang ia ambil tadi.

"Harusnya gue yang nanya, lo ngapain? Mikirin beban hidup?" Ucap Raka, membalikkan pertanyaan pada Jehan.

"Gue mau pindah" Jawab Jehan.

Ujung Halaman [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang