Evandra Jehan Adiptya ditinggalkan oleh orang yang sangat ia cintai.
Perihal mengikhlaskan sudah ia coba, namun penyesalan karena tidak ada disaat kekasihnya akan pergi yang masih melekat pada dirinya.
Tepat satu tahun setelah ditinggalkan, Jehan te...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
—oOo—
Jehan menggendong tubuh gadis mungil itu masuk ke dalam rumahnya. Tina, adik Jehan yang tengah asik menyantap cemilan sambil menonton tv itu tiba-tiba heboh dengan kedatangan Jehan dan seseorang yang sangat ia kenal.
"Ituu.. Bang Jehan! Kak Zizi kenapa?" Tanya Tina. Cemilan yang tadi ia pegang langsung dilepas begitu saja.
"Kak Zizi.." Tina berniat mengikuti kakaknya itu ke kamarnya, namun baru saja ingin melangkah, Tina langsung menyadari satu hal.
"Kak zizi kan udah..."
Tina menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mungkin dia salah lihat, ia akan menyusul kakaknya, untuk memastikan lagi siapa yang dibawa Jehan.
Sesampainya di kamar, Jehan membaringkan Gena di kasurnya,
"Itu kak zi-" Tanya Tina lagi setelah ia sudah benar-benar melihat siapa perempuan yang digendong Jehan tadi. Dan yaa, mulai dari wajah, hingga badan, semua sama persis.
"Kak Zizi masih...?"
Tina mengerjapkan matanya beberapa kali, bingung dengan apa yang dia lihat. Jehan melirik Tina sebentar dengan ekor matanya, sebelum akhirnya tangan Jehan bergerak memakaikan Gena selimut.
"dia bukan zizi" ucap Jehan pelan, namun kalimat itu mampu menyayat hati Tina, padahal ada sedikit rasa bahagia yang akan muncul, namun kenyataan tidak seperti yang diinginkan. Perempuan yang datang ke rumah bukanlah Zizi, tapi orang lain.
"untuk saat ini bukan, tapi gue yakin kalau dia memang zizi" lanjut Jehan dalam hati.
Tatapan Jehan bertahan beberapa detik pada wajah Gena yang pucat, tadi di dalam taksi, Jehan sudah membersihkan darah yang ada di hidung Gena.
Setelahnya, Jehan pergi ke dapur, untuk menyiapkan bubur. Sebelum itu, dia berpesan pada Tina, "Dek, Nanti kalau kak Gena sudah bangun, panggil abang, dan jangan sampai kamu manggil dia Zizi yaa.." Tina mengangguk pelan, lalu duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur.
Dejavu..
Jehan merasa dejavu, tahun lalu, dia selalu membuat bubur untuk Zizi. Tahun lalu, yang tidur di ranjangnya adalah Zizi, Jehan bingung, harus senang, atau sedih? kejadian hari ini, membuatnya semakin rindu..
***
Sudah sekitar 5 jam Raka duduk di depan ruang operasi. Karisa sudah pulang duluan, karena mendapat telepon dari ayahnya. Sebenarnya Karisa tidak tega meninggalkan Raka sendirian di sana. Namun Karisa juga tidak bisa melawan perintah ayahnya.
Makanan yang dibeli oleh Karisa tadi juga belum disentuh sama sekali oleh Raka, kantong kresek yang berisi makanannya itu juga masih terikat sempurna.
Raka berantakan, pandangannya kosong, ia sudah tidak bisa berharap apa-apa lagi, tadi, seorang perawat keluar memberitahu keadaan ibunya di dalam. Dan tidak seperti yang ia inginkan,