CHAPTER 3

79 22 25
                                        

—oOo—

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

—oOo—

Seperti biasa, saat jam kosong taman sekolah selalu menjadi tempat favorit seorang Taraka Galviano. Entah mengapa setelah duduk di kursi taman ini, akan membuat dirinya merasa sangat tenang.

Raka menaikkan kedua kakinya, mengambil posisi duduk bersila. Dia membuka novel yang sedari tadi ada digenggamannya, kemudian mulai membaca halaman yang belum sempat dibaca kemarin.

Sangat tenang. Raka sangat suka duduk di bawah pohon rindang dengan angin sepoi-sepoi yang sedari tadi meniup rambutnya yang tebal. Raka kemudian tersenyum, Novel yang ia baca benar-benar membuatnya hanyut dalam imajinasi, membayangkan dirinya adalah tokoh utama dari cerita yang ia baca.

"RAKA!"

Raka memejamkan mata, menghembuskan nafas kasar, baru saja dia menikmati ketenangan di tempat yang menurutnya sangat indah itu, tapi si nenek lampir sudah datang mengganggunya lagi.

"apa?" tanya Raka tanpa menoleh ke sumber suara, ia lalu melepaskan kacamatanya.

"DARI KEMARIN LO GAK JAWAB PERTANYAAN-PERTANYAAN GUE!!"

"JEHAN BENERAN PINDAH?"

"DIA KENAPA PINDAH?"

"PINDAH KEMANA???"

Bukannya menjawab pertanyaan memberundung si nenek lampir, Raka malah menyumbat kedua telinganya dengan earphone yang sejak tadi ia simpan di dalam saku kemeja. Kemudian mengeluarkan ponsel dan menyetel lagu. Nenek lampir itu sangat berisik, belum lagi suara nyaringnya yang menggema, membuat gendang telinga Raka seakan akan ingin pecah.

Karisa Dwi Ayunda, perempuan yang dipanggil nenek lampir oleh Raka. Bukan hanya suaranya yang nyaring. Sifat dari Karisa juga sering membuat Raka bahkan semua yang ada di SMA Fajar Bangsa tidak suka, bagaimana tidak? Karisa ini suka sekali mengganggu orang, padahal orang-orang tidak pernah membuat masalah dengannya. Itulah sebabnya dia disebut dengan Nenek Lampir.

Kesal dengan sikap Raka, Karisa dengan kasar melepas earphone yang sudah terpasang di telinga Raka.

"BANGS—" Raka menghentikan umpatannya, itu dia lakukan karena Karisa adalah seorang perempuan. Walaupun sangat rese, Karisa tetaplah seorang perempuan. Dan perempuan harus selalu dihargai.

Raka mengepalkan tangannya, menahan amarah yang sudah diujung tanduk. "Apa?"

"JAWAB PERTANYAAN GUE! JEHAN DIMANA?"

Raka menutup satu telinganya, "Bisa santai aja gak ngomongnya?"

"TINGGAL JAWAB AJA! GUE UDAH NUNGGUIN DARI KEMARIN-KEMARIN-KEMARIN!" Semprot Karisa dengan volume suara yang semakin tinggi.

"GUA CABUT MULUT LO YE!!" Geram Raka, ia kini menyamakan volume suaranya seperti Karisa.

"JAWAB! JEHAN. ADA. DIMANA?"

Ujung Halaman [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang