CHAPTER 27

23 10 19
                                        

—oOo—

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

—oOo—

Karisa mondar mandir keluar masuk kamar mencari dompetnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 6.40 pagi, dan sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Kalau bukan karena Ulangan Semester, Karisa mungkin tidak akan sepanik sekarang.

Ayah Karisa sudah pergi ke kantor sejak tadi, namun jika ayah Karisa masih ada di rumah pun, ia tetap tidak akan berani meminta bantuan ayahnya.

Uang jajan serta transport selama satu minggu sudah Karisa terima dari ayahnya, dan jika Karisa mengatakan kalau dompetnya hilang, mungkin ayahnya akan menembak dirinya dengan senapan AK47 saat itu juga.

Karisa membongkar semua tempat di kamarnya, tetap tidak ada.

"Perasaan tadi pagi gue liat masih ada di meja deh? Apa diambil tuyul?"

"KELUAR LO BOTAK! BALIKIN DOMPET GUE!" Teriak Karisa seakan akan memang benar ada tuyul di rumahnya.

Setelahnya, Karisa menabok kepalanya sendiri, mana mungkin di rumahnya ada tuyul, lagipula emang tuyul bakal balikin lagi duitnya? enggak kan?

Karisa kemudian berjalan menuju kamar abangnya, ia mengetuk kuat pintu kamar kakak pertamanya itu. Namun tidak ada respon, pun dengan pintu yang tak kunjung dibuka.

"Apa Bang Sam dah pergi?"

Sekarang Karisa bingung, dia ke sekolah naik apa? Jalan kaki? No! Karisa mungkin suka jogging, tapi untuk pergi ke sekolah dengan jalan kaki adalah hal yang tidak akan pernah Karisa lakukan—kecuali kalau memang sudah sangat terpaksa.

Naik motor? Ya tidak bisa, motor Karisa ada di bengkel, perempuan itu tidak pernah mengecek kesehatan motornya. Menurut Karisa, selagi bensin masih penuh berarti motornya baik-baik saja.

Naik ojek? Naik bus? Pesan taksi? Jangan bercanda, Dompet Karisa ilang.

Karisa memijit keningnya yang terasa pegal karena memikirkan cara untuk pergi ke sekolah. Dan akhirnya, Karisa tiba-tiba terlintas dipikirannya untuk ke sekolah dengan mobil yang selama ini disimpan di dalam garasi.

Rumah Karisa terdapat 2 garasi, garasi luar dan garasi dalam. Dan di garasi dalam, ada sebuah mobil, motor, dan sepeda. Ketiganya adalah kendaraan yang memang sudah tidak dipakai lagi. Motor dan sepeda tersebut sudah rusak, sedangkan mobil yang ada di dalam garasi itu tidak boleh dikendarai oleh siapapun, bahkan Karisa dan Abang Sam juga tidak boleh, itu kata Ayah mereka.

Karisa menggelengkan kepalanya kuat-kuat, wajah ayahnya yang sangat seram itu muncul tiba-tiba dalam otaknya, Karisa ragu untuk menjadikan mobil itu sebagai solusi terakhir, "Masa gue harus jalan kaki sih?" Keluh Karisa kemudian.

Terpaksa. Mau tidak mau, suka tidak suka, Karisa harus berjalan kaki. Menurutnya, lebih baik dimarahi oleh Guru karena terlambat daripada dia harus kena omelan dari ayahnya karena sudah menyentuh mobil itu.

Ujung Halaman [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang