CHAPTER 17

38 17 15
                                        

—oOo—

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

—oOo—

Cewek berambut pendek itu menyelipkan rambutnya di sela-sela telinga. Ia berjalan santai sambil sesekali menatap ke arah langit.

Menikmati pagi cerah di hari minggu. Merilekskan jasmani dan rohaninya. Gena tadi pergi ke toko elektronik. Ingin melihat apakah ada headphone yang cocok untuknya. Namun karena mungkin terlalu pagi, jadi toko itu tutup dan akan buka saat menjelang siang, akhirnya Gena memilih untuk berjalan-jalan dan menuju taman sambil menunggu waktunya toko itu buka.

Saat sedang santai berjalan menuju taman, tiba-tiba ponselnya berbunyi, Gena segera membuka benda pipih itu, lalu melihat notifikasi.

Kedua matanya membulat seketika, saat melihat pesan dari nomor yang sama saat ia mendapat kado di kelas.

Cantik banget, mau kemana?

Begitulah isi pesan yang diterima Gena. Matanya lalu berkeliling, mencari keberadaan Jehan, laki-laki itu pasti ada di sekitarnya.

Sudah Gena katakan, dia tidak ingin Jehan ada dalam hidupnya. Tapi laki-laki itu terus saja mengganggu.

Gena tidak mau lagi berhubungan dengan laki-laki, siapapun itu. Jujur saja, kedatangan Jehan yang belum lama hadir dalam hidupnya itu membuat hati Gena seakan ingin terbuka lagi. Tapi tidak! Gena harus menahannya, apapun itu, membuka hati lagi adalah kesalahan besar.

Karena pada akhirnya Laki-laki hanya akan menyakiti.

Bola mata itu terus bergerak kesana kemari menyusuri seluruh tempat disekelilingnya yang kini sudah ramai dengan orang yang berlalu lalang melakukan aktifitas minggu pagi mereka. Juga deruman mobil dan motor yang mulai saling sahut-sahutan di jalan. Hal itu membuat Gena jadi susah untuk mencari dimana Jehan berada.

Karena tidak mendapati sosok laki-laki itu, Gena memutuskan untuk melanjutkan langkah kakinya lagi, masih butuh beberapa meter ke depan untuk sampai di taman kota.

Pikirnya, Jehan mungkin sedang bersembunyi entah dimana hingga indra penglihatan Gena tidak dapat menangkap dimana laki-laki itu berada.

Gena terus berjalan dan berusaha untuk tidak memedulikan Jehan. Namun baru beberapa langkah, Ponsel Gena kembali berbunyi.

Aku disamping,coba liat lagi.

Pesan itu seketika membuat Gena menoleh ke arah samping kanan, tapi tidak ada laki-laki di sana, hanya seorang perempuan yang terlihat sedang mengikat tali sepatunya.

Gena beralih ke samping Kiri, disana ada tiga orang perempuan, tidak ada laki-laki juga— tunggu.

Gena menajamkan penglihatannya, di belakang ketiga perempuan itu ternyata ada seseorang yang sedang berdiri sambil memegang ponselnya dan sedang melihat ke arah Gena.

Orang itu mengenakan sweater hitam juga dengan topi dan masker hitam yang menutupi wajahnya.

Itu bukan Jehan.

Ujung Halaman [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang