CHAPTER 26

21 13 26
                                        

—oOo—

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

—oOo—

Jehan meregangkan otot-ototnya yang sedari tadi tegang karena soal ulangan sejarah. Meskipun begitu, Jehan tetap selalu dengan mudah mengerjakannya. Jehan adalah anak yang pintar, tapi tidak terlalu pintar—Standar.

Waktu masih tersisa sepuluh menit lagi, tapi Jehan tidak mau mengecek kembali jawaban dan soal dari pelajaran meganthropus itu. Jehan sudah sangat yakin dengan seluruh isi dari lembar jawabannya yang ia taruh terbalik di atas meja dan menindih kertas jawaban dengan tangannya itu.

Merasa gabut, Jehan memperhatikan sekitarnya. Tidak ada suara yang tercipta. Padahal, Jehan dapat melihat dengan jelas bahwa semua orang saling memberi contekan, mengoper kertas kesana kemari dari satu tangan ke tangan yang lain.

Belum lagi ada yang saling memberi isyarat dengan gerakan tangan saja, seperti mengangkat jempol, jari telunjuk, kelingking, kepalan tangan, juga lima jari. Jehan tidak mengerti dengan maksud gerakan itu, tapi mungkin itu adalah salah satu trik saling memberi jawaban tanpa ketahuan.

Jehan menatap takjub, tidak ada suara yang ditimbulkan dari aktivitas mereka itu, ditambah guru yang mengawas hanya bermain game onet, membuat semua murid makin bebas melakukan berbagai cara untuk menyelesaikan ulangan mereka.

Tatapan Jehan beralih ke belakang, air mukanya nampak kesal saat melihat meganthropus jenis Jepang yang tertidur pulas saat sepuluh menit lagi jawaban ulangan dikumpulkan.

Jehan tidak peduli dengan ulangannya, selesai atau tidak itu bukan urusan dia. Tapi yang jelas, sepuluh menit lagi saat semua lembaran jawaban sudah dikumpul, Jehan akan melakukan perhitungan dengan megantropus jenis Jepang itu lagi.

"Waktu tersisa lima menit lagi, harap dicek ulang jawabannya, lima menit teng kumpulkan jawaban kalian."

"Baik ibu."

Kelvin bangun dari tidurnya saat mendengar perintah tersebut, ia menengok lembar jawabannya—kosong. Dengan malas, tangannya bergerak mengambil pulpen yang terlentang di atas meja, lalu mulai menyilang obsen a,b,c,d, dan e secara acak tanpa melihat soal. Setelah semua selesai, Kelvin kembali melipat tangannya lalu tidur lagi.

Ketua kelas mulai berjalan mengumpulkan lembar jawaban atas perintah guru pengawas.

"Udah yakin sama jawaban lo Vin?" Tanya Rio sembari melihat lembar jawaban Kelvin yang menurutnya Kok bisa begini?

"hm" jawabnya tanpa mendongak.

Rio mengedikkan bahunya. Kertas Kelvin adalah yang terakhir, setelah itu Rio memberikan semua lembar jawaban tersebut pada guru pengawas.

"Sekarang kalian boleh istirahat. Jadwal berikutnya setelah jam istirahat. Persiapkan diri kalian." ujar guru itu lalu pergi meninggalkan kelas.

Semua murid yang ada di kelas itu merentangkan tangan mereka, akhirnya satu mata pelajaran sudah selesai mereka lewati.

Ujung Halaman [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang