Evandra Jehan Adiptya ditinggalkan oleh orang yang sangat ia cintai.
Perihal mengikhlaskan sudah ia coba, namun penyesalan karena tidak ada disaat kekasihnya akan pergi yang masih melekat pada dirinya.
Tepat satu tahun setelah ditinggalkan, Jehan te...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
—oOo—
"Siapa lo?" Tanya Cuya saat menoleh ke arah Jehan. Orang yang tiba-tiba berteriak dan merusak suasana Cuya saat dirinya sedang berada di sesi jaya. Emosinya masih sama.
Jehan berjalan santai menghampiri pelaku yang membuat kericuhan di dalam kelas IPA 3 itu, "Lo cewek apa bukan sih?"
Cuya mengangkat sebelah alisnya, lalu melipat kedua tangannya di depan dada, "kenapa? Nyari masalah lo sama gue?"
Tidak ada respon balik dari Jehan, pria berambut hitam sedikit tebal itu mengalihkan pandangannya dan melangkah ke arah Gena. Namun, belum sampai 2 langkah, Jehan tiba-tiba berhenti. Dilihatnya Gena sudah berdiri, Perempuan itu ternyata tidak lemah, tatapannyapun tidak kalah tajam dengan Cuya yang kini sedang bersedekap menghadap Jehan.
Satu tangan Gena yang bebas langsung meraih rambut Cuya, menariknya ke belakang hingga kepalanya terdongak ke atas. Cuya meringis kesakitan.
"Aaaaakkk"
Semakin kencang rambut Cuya ditarik. Jehan yang niatnya tadi ingin membantu Gena, malah jadi diam mematung dengan mata yang sedikit melotot.
"Cewek busuk! Sombong! Mentang-mentang Kaya, seenak jidat ngerusak barang orang!" Umpat Gena, urat dilehernya sampai kelihatan.
"Sakitttt!! Lepasiin! Genaaa! AaAaaaaA"
Gena tidak peduli. Ia tetap menarik rambut curly Cuya, Bila perlu dia akan mematahkan leher perempuan sok cantik itu sekarang juga seperti yang sudah dilakukan Cuya pada headphonenya.
Hingga akhirnya, Cuya mendapatkan kesempatan, ia memukul perut Gena, sangat kuat, membuat Gena sedikit melemah, Cuya ikut menarik rambut Gena. Masalahnya sekarang, Cuya adalah anak karate, dan Gena? Dia tidak punya bakat apa-apa dalam ilmu bela diri. Dia hanya membela dirinya dengan modal nekat dan berani. Mau bagaimana pun, pukulan Cuya pasti sangatlah kuat.
Tak berhenti sampai disitu, Cuya bahkan menendang dada Gena, hingga badannya terdorong ke belakang dan punggungnya membentur lemari yang ada di depan kelas, lalu jatuh.
Cuya mengepalkan sebelah tangannya, ancang-ancang ingin memukul Gena sekali lagi, namun dengan cepat ditahan oleh Jehan. Perkelahian ini sudah sangat jauh, Jehan mendorong Cuya, menjauhkan perempuan itu dari Gena yang kini sudah ambruk.
Jehan berjongkok, memeriksa keadaan Gena yang sudah terduduk karena pukulan kuat dari Cuya.
Nafas gadis karate itu memburu, ia masih tidak puas, dia harus menghabisi Gena sekarang juga.
"Cuya!! Apa apaan kamu!"
Mata Cuya membesar, dia tau itu suara siapa, gadis karate itu kemudian menoleh, dan benar, itu pak Norman, Guru agama SMA Ranajaya sekaligus Sensei Karate Cuya.
Di samping pak Norman ada Kenan yang berdiri dengan penuh amarah juga. Dia adalah orang yang melapor ke pak Norman.
Sejak masuk ke SMA ini, Kenan memang sangat membenci Cuya, apalagi dulu Cuya pernah membully Wanda—pacar Kenan, dikarenakan Wanda menjadi siswa terpilih dalam olimpiade karate tahun lalu, Cuya bahkan sampai membuat Wanda batal mengikuti olimpiade itu dan digantikan olehnya.