Evandra Jehan Adiptya ditinggalkan oleh orang yang sangat ia cintai.
Perihal mengikhlaskan sudah ia coba, namun penyesalan karena tidak ada disaat kekasihnya akan pergi yang masih melekat pada dirinya.
Tepat satu tahun setelah ditinggalkan, Jehan te...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
—oOo—
"MAS GALIH SAKIT, LEPASIN"
Rumi menjerit kesakitan lantaran lengannya yang dicengkram kuat oleh Galih—suaminya—yang sedikit lagi mungkin akan berdarah.
Rumi sedikit memberontak, berusaha melepaskan cengkraman Galih dari tangannya itu, tapi tak mempan. Galih semakin mencengkram tangan Rumi, lalu menarik istrinya, membawanya masuk ke dalam kamar.
BRAKK!!
Tubuh Rumi terdorong hingga menghantam kuat meja rias miliknya.
"Arghh" Rumi berbalik, ia memegang perutnya, sakit. "Mas Galih, perut aku..anak kita.."
"BUKA LACINYA!" Bentak Galih tanpa merespon perkataan Rumi.
"Gak ada apa-apa di laci.." perempuan berumur 40 tahun itu menggelengkan kepalanya. Meyakinkan sang suami kalau tidak ada yang ia simpan di dalam laci meja riasnya itu.
"AAHHHH BOHONG KAMU! AWAS" Teriak Galih lalu mendorong tubuh Rumi hingga terjatuh, "KUNCINYA MANAA??"
"Di.." Tak mampu berkata kata lagi, Rumi masih menahan rasa sakit di perutnya. Pasalnya kini Rumi tengah hamil tua, sudah 7 bulan.
"DIMANAAA?" Galih berteriak, Ia geram dengan sang istri yang tak kunjung memberinya jawaban.
Rumi pasrah, satu tangannya naik, menunjuk bagian lemari pakaian paling atas. Bola mata Galih mengikuti arah tunjuk Rumi, lalu dengan cepat membongkar seluruh pakaian yang ada di bagian atas. Dapat! sebuah kunci laci meja rias, Galih tersenyum lebar.
Setelah mendapat apa yang ia mau, Pria tinggi dengan penampilan kacau dan bau minuman keras yang masih menempel pada tubuhnya itu kemudian membuka laci. Matanya berbinar tatkala melihat segepok uang seratus ribu tertata rapi di dalam laci itu. Belum puas, Galih masih membongkar-bongkar isi laci, berharap masih ada uang yang Rumi simpan.
Tapi tak seperti yang diharapkan. Galih tidak menemukan uang lagi di dalam sana. mata merah karena pengaruh minuman alkohol itu kembali menatap tajam sang istri yang masih kesakitan diatas lantai dingin.
"SIMPAN DIMANA?"
Rumi menggeleng tak percaya dengan apa yang diucapkan suaminya itu, "Simpan apa lagi mas?"
"MASA SEGINI DOANG? MANA YANG LAIN?"
"Udah gak ada. Itu juga buat bayi kita mas."
"Bayi kita, bayi kita, bayi lo doang! UDAH, MANA? CEPETAN!"
"gak ada!!!"
"BANGSAT!"
Murka, Galih kembali menarik istrinya, ia menyeret Rumi sampai keluar rumah. Rumi lemas, ia tidak punya tenaga untuk memberontak. Dari ambang pintu, Galih mendorong tubuh Rumi keluar dari rumahnya. Rumi tersungkur ke tanah, lagi-lagi, perutnya terkena benturan keras, entah sudah berapa kali, tapi yang pasti, Rumi hanya bisa meringis, merasakan sakit yang luar biasa.