Sesampainya Hyun Sik di apartemen, dia langsung menidurkan tubuhnya di atas sofa. Dia tidak pernah menidurkan tubuhnya di atas tempat tidur, pembully an di masa lalu selalu melintas saat dia tertidur disana. Jadi dia berusaha untuk tidak tidur, bayangan-bayangan dulu selalu membayanginya. Sebenarnya hidupnya tak seindah apa yang orang lain lihat, hidup mewah sebagai sekertaris di perusahaan besar.
Dering telfon terus berbunyi membuatnya bangun dari sofa untuk mengangkat telfon itu, tertera nama Aila di sana. "Yeoboseo, ne Agassi" Ucap Hyun Sik. "Oppa, bisa kita bicara sebentar. Aku akan datang ke apartemen oppa" Terdengar Aila sangat khawatir dengan dirinya. "Mianhae, aku mau sendiri, kita bicara saat aku udah masuk kembali ke kantor. Jangan lupa makan dan istirahat yang baik" Hyun Sik memutuskan sambungan telfonnya. Tingkahnya sudah membuat Aila di pandang sebelah mata oleh orang lain.
Hyun Sik mengambil beberapa botol soju dari kulkasnya, dia butuh minuman itu saat ini agar fikirannya sedikit tenang dan dengan minuman itu juga dia bisa tertidur, tanpa minuman itu tidurnya seakan dalam masalah yang sangat besar.
☘☘☘☘
Aila merasa sangat bersalah, dia tau Hyun Sik pasti marah padanya. "Tak apa sayang, oppa kamu butuh sendiri sejenak" Ucap Nasya saat memasuki kamar putrinya. "Tapi oppa ga mau bicara sama aku mah, aku tau aku salah, harusnya aku bicarakan semua ini padanya" Nasya menggenggam tangan putrinya yang terlihat sangat khawatir dan cemas. "Hyun Sik itu sayang banget sama kamu Ai, dari dulu dia selalu bilang ingin bertemu kamu, ingin menjaga kamu karna mamah selalu bilang kamu itu anak yang ceroboh".
"Tapi aku khawatir sama oppa" Nasya tersenyum melihat putrinya, dia senang Aila mau menerima Hyun sik. "Kalau dia udah tenang dia akan menghubungi kamu, sekarang kita makan malem dulu ya. Papah kamu udah nungguin di bawah" Aila mengangguk dan ikut keluar kamar dengan Nasya untuk makan malam.
☘☘☘☘
Isfan merasa sangat lelah, karna setibanya dia di Indonesia dia harus ke rumah sakit untuk melakukan operasi darurat dan itu membutuhkan waktu yang cukup panjang, alhasil dia sampai rumah tengah malam. Isfan berjalan perlahan menaiki tangga menuju kamar nya. "Sibuk banget ya ampe telfon mamah ga pernah di angkat selama di Korea" Isfan langsung menghentikan langkahnya dan berbalik ke sumber suara. "Malem mamah ku yang cantik, assalamu'alaikum" Isfan menuruni tangga untuk salim ke mamahnya.
"Gimana kondisi Aila, kamu tuh ga ada ngasi kabar ampe mamah nelfon Nasya" Omel Tania, dia kesal karna putranya terus mengabaikan panggilannya. "Aila baik-baik aja, dia punya pengawal sekarang mah, dia akan jaga Aila seperti aku jaga Aila" Tania menghampiri anaknya yang terlihat murung, dia tau kalau Isfan sangat cemburu akan kedekatan Aila dengan seseorang itu.
"Tetep kamu yang selalu jadi prioritas Aila, sekarang kamu istirahat ya, kita bahas besok lagi" Tania memeluk Isfan dan mendorong putranya agar berjalan menuju kamar.
☘☘☘☘
Pagi ini Aila mengantar kedua orang tua nya ke bandara, setelah masalah di kantor teratasi dia ingin memulai lagi sendiri tanpa bantuan papah dan mamahnya. Setelah mengantarkan nya ke bandara, Aila langsung menuju apartemen Hyun Sik, perasaannya tidak tenang karna Hyun Sik terus mengabaikan panggilan telfon nya.
Aila terus menekan bel apartemen Hyun Sik, cukup lama dia menunggu di depan pintu sampai pria itu membukakan pintu. "Agassi? Ada apa Agassi kesini?" tanya Hyun Sik saat melihat Aila berdiri di depan pintu sambil membawa beberapa kantong belanjaan. " Oppa mabuk?" Tanya Aila karna aroma alkoholnya sangat kuat saat Hyun Sik bicara. "Tidak, ayo masuk" Hyun Sik menyuruh Aila masuk ke dalam, tapi sebelum Aila sampai ruang tamu, dia langsung menyingkirkan botol-botol soju yang bejejer di mejanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aila Varisha
JugendliteraturTak semua apa yang terlihat baik-baik saja itu berarti benar baik-baik saja, Menyimpan rasa suka bertahun-tahun itu tidak mudah, Aila mencoba memendam semuanya dan terus membuat pria yang dia sukai behagia bahkan dia membantu untuk pria itu melamar...
