Semalam Aila meminta Risha dan Putra untuk menginap di rumahnya. Mereka tidak ngobrol banyak karna Aila merasa sangat lelah dan bahkan dia tertidur di sofa saat Putra dan Risha sedang melihat referensi foto prewedding untuk mereka, Hyunsik pun disana memeriksa berkas untuk meeting. "Morning cantik" Sapa Risha saat Aila ke dapur untuk mengambil air. "Morning kak, kakak udah bangun jam segini?" Tanya Aila yang ikut bergabung di meja makan dengan Risha.
"Kakak abis sholat subuh ga tidur lagi, emang kamu malah tidur lagi" Saut Risha, Dia menyiapkan berberapa makanan dan tentu juga di bantu sama ahjumma. "Ngantuk kak, oiya yang bawa aku ke kamar siapa? Oppa?” tanyanya, karna seinget Aila dia tertidur di sofa. " Oppa oppa, opak noh ada. Kakak yang gendong kamu, berat tau". Putra tiba-tiba saja datang dan duduk di samping Aila. Tapi sebelumnya dia mendekati Risha dan mengecup pipi wanitanya. "Kakak aja yang lemah, aku kan kurus". Sautnya yang tak mau kalah.
"Morning" Sapa Hyungsik yang juga ikut bergabung di meja makan untuk sarapan bersama. HyunSik mendekat kesisi Aila dan mengusap lembut kapala Aila.
"Jal jasseoyo?" Tanya HyunSik sambil menatap Aila, sedangkan Risha dan Putra menatap keduanya. "Eung, maeu pyeon-anhada" Bukan Aila yang menjawab, Tapi Risha dan itu membuat semuanya menatap ke Risha. "Astagfirullah anak bapak Slamet, yang di tanya Aila kenapa kamu yang jawab sambil senyum-senyum. Laki lu depan mata ini ya Risha". Wajah Risha benar-benar merah dia malu dengan tingkahnya sendiri.
"Sayang, abis aku berasa kaya di drama korea" Putra memeluk wajah Risha. "Awas ya kalo ampe genit lagi, aku depan muka kamu ini. Kamu ga boleh salting sama cowok lain selain aku". Putra menutupi wajah Risha agar tidak melihat ke arah Hyunsik, sedangkan HyunSik mengalihkan pandangan Aila agar tidak melihat kemesraan keduanya. "Aku dapet info kalo kamu harus ke lokasi shooting, karna hari ini para member mau make baju formal dari brand kita" Ucap HyunSik, dia sengaja membicarakan pekerjaan agar Aila fokus kepadanya. "Okee,,, kita akan kesana sebelum ke lokasi pemotretan".
"We're having breakfast, let's not talk about work" Saut Putra dengan tegas. Hyunsik hanya mengangguk dan mereka memulai sarapan pagi dengan beberapa candaan keluar dari mulut Putra. Hyunsik melihat Aila tak henti-hentinya tersenyum ke arah Putra, dia senang melihat senyuk adiknya tapi juga sedih karna adiknya menutupi luka dengan senyum manisnya.
☘☘☘☘
Fera memutuskan pulang ke rumah karna dia merasa sudah baikkan. Tidak ada Lena disana, Fera meminta wanita itu pulang untuk siap-siap bekerja. "Mau pulang?” tanya Isfan yang kini berjalan sejajar dengan Fera. " Iya, aku udah mendingan jadi mau pulang aja. Disini bau obat aku jadi pusing" Jawab Fera, Isfan sudah tidak mengenakan pakaian dokternya. "Aku juga mau pulang, aku anter kalo gitu" Fera merasa sangat senang, tapi dia berusaha mengontrol dirinya agar tidak terlihat berlebihan didepan Isfan. "Kita ga searah loh fan, nanti kamu muter kalo nganter aku dulu".
"Gapapa muter bentar doang, sekalian beli sarapan, Laper nih lagi pengen makan bubur deket kampus" Alasan Isfan ingin makan bubur dekat kampusnya karna dia sedang merindukan Aila, biasanya dia selalu sarapan bubur itu walau weekend. Fera mengangguk dan mereka berjalan kemobil menuju kampusnya. Mereka memang sudah lulus dan terkadang mereka rindu suasa kampus.
Saat sampai di tukang bubur Fera dan Isfan memesan bubur versi mereka masing-masing. "Kangen Aila ga sih kalo makan bubur di sini" Ucap Isfan tiba-tiba saat mereka tengah menyantap bubur. "Kangen banget, dia paling duluan pasti datengnya takut buburnya abis. Trus dia request minta banyakin kuah sama ayamnya" Jawab Fera, dia sambil membayangkan kejadian saat mereka kumpul bersama. "Oiya Fer, hari ini jangan masuk kerja dulu ya. Usahain badan kamu bener-bener sembuh abis itu baru masuk kerja".
"Siap pak dokter" Fera menjawab dengan senyum. Walau hanya sebatas teman, Fera senang bisa berada di dekat Isfan bahkan ini hal yang baru baginya, sebelumnya mereka tidak pernahh makan berdua seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aila Varisha
Roman pour AdolescentsTak semua apa yang terlihat baik-baik saja itu berarti benar baik-baik saja, Menyimpan rasa suka bertahun-tahun itu tidak mudah, Aila mencoba memendam semuanya dan terus membuat pria yang dia sukai behagia bahkan dia membantu untuk pria itu melamar...
