”Kalian pernah satu sekolah waktu SMP?" tanya Lucy menoleh sekilas ke belakang, di mana anak bungsunya tercenung.
Lucy meraih tangan Mezza untuk menghangatkan situasi anak gadisnya itu. "Maafin mama karna nggak bilang sebelumnya kalau alasan mama memecat Bu Janet setelah tahu Gama-lah pelaku dibalik kematian Suha.”
Mezza hanya mematung meski Lucy terus mengajaknya bicara. Mau memikirkan sekeras apa pun, Mezza belum juga mempercayai kenyataan dan kebenaran tentang Gama. Dia bahkan tidak mendapatkan keterangan motif kenapa Gama melakukan itu pada Suha. Apa hubungan mereka? Sialnya dia tidak mengingat apa pun. Atau memamg sejak dulu diaselalu sibuk dengan dunianya sendiri. Sampai-sampai dia tak menyadari kalau Gama juga satu sekolah dengannya saat SMP.
Brahma yang fokus menyetir mobil lantas menyentuh pundak istrinya agar memberikan waktu untuk Mezza. Mengatakan banyak hal lagi pasti akan membuat Mezza makin terpuruk. Lucy pun melepaskan genggamannya dari Mezza. Ia kembali menghadap ke depan jalan raya mobil itu melaju pelan.
"Maaf, udah buat mama sama papa susah payah mengatasi semua masalahku," ucap Mezza tiba-tiba.
Perkataan Mezza membuat kedua orang tuanya terkejut. Mereka berusaha untuk diam agar tidak membebani pikiran Mezza, rupanya anaknya itu malah kembali membuka obrolan.
"Selama ini, kalian membantu tante Salma untuk menutupi semuanya, kan? Aku selalu merasa bersalah sama tante Salma, dia masih begitu baik sama aku meski aku menjadi kemungkinan besar penyebab kematian anaknya. Dia juga nggak pernah marah dan terlihat begitu ikhlas," jelas Mezza.
Brahma menghela napas panjang. Dia makin memelankan laju mobilnya. Setelah sekian lamanya tidak satu mobil bersama anak kandungnya membuatnya agak kikuk.
"Kamu benar, Mezzaluna. Orang tuamu ini terlalu egois," balas Brahma. Seketika suaranya menggetarkan jantung Mezza. "Mungkin awalnya itu seperti sogokan. Tapi Salma nggak pernah mau menerima bantuan apa pun dari mamamu. Dia lebih percaya kalau kamu nggak akan melukai anaknya daripada orang tuamu sendiri."
Air mata Mezza mengalir mendengarkan penjelasan Brahma. Dia pikir dia sudah kehilangan kepercayaan dari semua orang selama ini.
Lucy hanya memandang wajah Mezza yang begitu sayu. Mata anaknya itu hampir membengkak, tapi air matanya tidak juga berhenti menetes. Tahun-tahun yang ia benci ketika hanya bisa melirik keadaan Mezza. Apa anaknya itu sudah makan? Apa dia tidak pernah bolos? Dia selalu menanyakannya pada Janet. Rasa kecewanya yang begitu besar benar-benar menaikkan gengsinya untuk bergaul dengan anaknya.
"Aku meminta sesuatu ke papa sama mama, boleh?" pinta Mezza.
Brahma menghela napas pelan. Meski dia harus fokus menyetir mobil, telinganya masih terbuka lebar untuk mendengarkan keluhan Mezza. "Apa itu?" balas Brahma.
"Tolong tanyakan padaku, apa yang ingin aku lakukan?"
🍀🍀🍀
Dua hari Mezza tidak masuk sekolah. Dia pun kembali dengan penampilan khasnya. Namun kali ini dia hanya menguncir rambutnya ekor kuda, juga kacamatanya yang ganti berulangkali setelah banyak kejadian yang dia alami.
Tatapan semua siswa sangat berbeda semenjak mereka mendengar berita tentang kebenaran pelaku kasus pembunuhan gadis SMP yang bernama Suha. Meskipun pelakunya tidak di-publish, anak dari CEO Luciana Films itu dinyatakan tidak bersalah. Mereka malah merasa iba karna Mezza selama ini memiliki trauma setelah sahabatnya meninggal dengan dugaan bunuh diri.
Mezza duduk di kursi paling belakang seperti biasanya, lalu merenung sendiri menatap jendela kelas sembari menunggu kawanan burung terbang.
"Mezza," panggil Elsie langsung direspon oleh Mezza.
KAMU SEDANG MEMBACA
MEZZALUNA [TERBIT]✔
Fiksi Remaja{Cerita ini sudah terbit di Teori Kata Publishing. Bonus Chapter versi novel cetak) ••••••• *Cerita ini tentang anak-anak yang beranjak remaja, yang merasa kehilangan tempat untuk pulang, juga sebagian dari mereka yang sedang mencari jatih diri. Cer...
![MEZZALUNA [TERBIT]✔](https://img.wattpad.com/cover/344697961-64-k578623.jpg)