12 November 2020
Bandara Internasional Yogyakarta, Kulon Progo
Iyes tidak suka traveling.
Apalagi bepergian antar negara, bahkan jika itu untuk pulang ke Indonesia sekali pun. Kalau bukan karena hal-hal berhubungan dengan studi, perempuan satu ini tidak akan repot-repot untuk berpergian jauh.
Tapi hari ini tiba saatnya si Kiyesia ini harus pulang.
Dengan kata lain, hari dia akan bertemu dengan cowok yang menjadi jodohnya secara sepihak.
Bahkan Iyes sampai menandai kalender di smartphonenya dengan 'Dino Kesungklep'. Tentu saja, 'Dino kesungklep' adalah istilah buatannya sendiri yang dia karang di otaknya, artinya: hari yang pingin di skip tapi gak bisa. Ya, hobi Iyes, selain membaca jurnal, adalah mengarang istilah aneh.
Walaupun sudah berjam-jam berusaha menenangkan diri, Iyes tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.
Bahkan perasaan tidak nyaman itu membuatnya mengurung diri di toilet bandara –sebelum dan sesudah penerbangan.
Saat ini pun perempuan itu sedang berdiam di dalam toilet Bandara Internasional Yogyakarta.
Dia belum siap untuk bertemu dengan keluarganya yang hari ini juga membawa serta seorang pria asing bernama Rio. Pria yang dipilihkan sang ayah sebagai suami untuknya.
Terlebih, pasca telepon satu minggu silam, ayahnya sama sekali tidak mengabari lebih lanjut. Bahkan setelah Iyes terus meminta untuk dikirimkan foto dari sosok bernama Rio, sang ayah hanya membalas chatnya dengan emoji dan stiker yang sama sekali tidak jelas.
'Teke, kalo mas e dekilan gondrong pie, jal! Irung e jembar, gigi ne tongos, duwe tompelan segede bakso neng pipi ne! Aku rak meh metu nganti silitku kering! Emoh!' geram Iyes dalam batin.
Tetapi, di saku celana, smartphonenya terus bergetar tanpa henti. Tanda kalau bapak dan ibunya sedang membombardir Iyes dengan telepon bergantian yang bagaikan teror.
Akhirnya, karena tidak tahan dengan teror dari orangtuanya, Iyes pun menyelesaikan ritual buang-buang waktunya dan beranjak keluar menuju daerah penjemputan. Begitu kakinya keluar dari pintu kedatangan, matanya langsung tertuju pada kepala sang ayah dengan ubannya yang sudah menyeluruh.
Tentu saja, sebagai anak rantau pada umumnya, Iyes langsung setengah berlari menuju keluarganya. Bagaimana pun, ini sudah nyaris dua tahun Iyes tidak berjumpa dengan sanak saudaranya ini.
Tetapi di tengah upayanya berlari, tiba-tiba Iyes jatuh kepeleset di lantai yang baru dipel. Dengan konyol, anak itu pun harus mencium lantai bandara dengan segala bakteri di sana, bekas cairan air pel, dan ditambah tatapan orang banyak.
"Huhuhu, asem," gumamnya sambil mencoba berdiri. Tetapi kemudian, tiba-tiba tubuhnya diangkat oleh seseorang pria asing.
Pria itu tinggi, cukup berisi, punya cambang tipis dan rambutnya pendek bergelombang disisir ke belakang. Hidungnya mancung, tetapi agak bengkok ke bawah di bagian ujung, manis. Ada tahi lalat kecil di samping hidungnya. Yang paling penting, kulitnya berwarna tan gelap –satu hal yang menurut Iyes terlihat sangat seksi. Sekilas, pria itu seperti orang India atau Bangladesh.
Anehnya, pria itu menatap Iyes dengan begitu intens. Sorotan dari iris kecoklatannya membuat Iyes merasa seperti tengah ditelanjangi. Tatapan itu memindainya bagaikan seorang pedagang emas yang meniti bongkahan logam mulia, membuat Iyes merasa begitu berharga.
Entah bagaimana caranya, tapi pandangan sang pria terasa hangat, melingkupi tubuhnya dengan getaran yang menggelitik. Walaupun Iyes merasa seperti sedang diselami, tetapi tidak juga perempuan itu keberatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rujak Duren dan Lebah Madu
RomanceKiyesia Tarani yang agnostik tidak menyangka kalau dia dijodohkan dengan Rio yang sangat religius dan spiritualis. Karena trauma masa kecilnya, Rio terlihat tidak lebih baik dari rujak duren. Dia hanya belum menyadari kalau Rio Azriel Rayaan akan me...
