Meeting Her

48 12 0
                                        

"Are you free after this, Iyes?"

Iyes berhenti memasukkan beberapa laporan ke tasnya dan memandangi professor di hadapannya dengan tatapan bertanya-tanya. Tapi akhirnya, dia menjawab, "Oh, I don't have any plan, sensei."

"So, you will come with me to have lunch together, right?"

"I'm not sure.... But...."

Sanggahan Iyes terpotong ketika sang profesor kembali berujar, "I want to introduce my friend to you."

"Why?"

"You are both from Indonesia, I'm sure you'll be excited to meet her."

"Who?"

Sang professor menyeringai dan menjawab dengan nada mencurigakan, "Secret."

"Sensei, you must know that I hate any secret."

Si professor tertawa renyah dan bangkit dari bangkunya. Ia mengambil kunci mobilnya dan mengajak Iyes untuk mengikutinya ke parkiran.

Profesornya ini memang terlalu santai, Iyes bahkan pernah diajak ke rumahnya di desa untuk sekedar mempekerjakannya sebagai buruh kebun. Walaupun setelahnya Iyes mendapat bayaran dan daging panggang lezat, tapi itu juga diluar prediksinya.

Bahkan sebelum pulang ke Indonesia, si professor mengajaknya untuk bermain game online untuk channel youtube keponakannya. Alasannya karena Iyes selalu bereaksi lucu dan anak itu juga blo'on ketika bermain, jadi si professor bisa terlihat lebih jago.

Tapi hari ini, Iyes diajak untuk bertemu teman baik sang profesor, entah siapa. Pria paruh baya itu membawanya ke sebuah restoran keluarga di tengah kota Tokyo. Mereka harus menunggu sekitar 20 menit sebelum sang 'teman' datang.

Sosok perempuan paruh baya berdiri di samping meja mereka. Tersenyum lembut dengan garis keriput di sisi matanya. Kulitnya tan, rambutnya diikat kuncir satu dengan garis-garis surai yang sudah keputihan. Hidungnya mancung, bengkok ke bawah di bagian ujungnya –persis seperti seseorang yang Iyes kenal. Ibu itu berbicara sebentar dengan si professor, meninggalkan Iyes yang tiba-tiba gugup setengah mati.

Tentu saja dia akan gugup.

Ibu itu adalah Ria Harsanti! Ilmuwan yang menjadi idola Iyes sejak masih di pendidikan sarjana.

"So? Who is this girl?"

"My sweet student," si professor tertawa renyah, "She is so funny, you know!"

Iyes tiba-tiba merasa wajahnya panas dan bingung harus berkata apa!

"She also come from Indonesia, Ria," si professor kembali berujar.

"Hm, halo, I'm Iyes," ujar Iyes dengan terbata. Astaga, dia terlalu gugup untuk sekedar memperkenalkan diri.

"Mukai, can I speak with her in our language?"

"Oh, sure."

Ria tersenyum lebar dan menatap si gugup Iyes dengan lembut. Perempuan paruh baya berambut pendek itu kemudian berujar, "Kau pasti Kiyesia Tarani, kan?"

"Da, dari mana Ibu tahu?"

Ria tertawa dengan keras sambil menepuk meja. Tentu saja Iyes langsung terkejut dan bingung sejadi-jadinya. Dia tidak menyangka idolanya seekspresif ini.

"Anakku pasti sudah tidak waras ketika ia hanya bicara soal dirimu sejak berbulan-bulan yang lalu!" Ria mengambil jeda sebentar untuk kembali tertawa sebelum melanjutkan ujarannya, "Bagaimana bisa aku tidak tahu siapa dirimu!"

Rujak Duren dan Lebah MaduCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang