Bahasa Cinta

73 11 0
                                        

"Seminar itu hadiah ulang tahun untukku? Kau pasti bercanda!"

Rio mengambil piring basah dari tangan Iyes dan meletakkannya di rak piring. Pria itu tersenyum lembut dan menggeleng sebelum menjawab, "Tentu saja tidak. Aku merencanakan itu setahun, dibantu dengan jaringan dari teman-teman Pa, Ma, dan sahabat-sahabat terbaikku."

Iyes sendiri langsung mematikan keran air dan memandangi pria yang kini menemaninya mencuci piring itu dengan terheran-heran. Sebuah seminar internasional sebagai hadiah ulang tahun? Seminar dengan sponsor sebesar dan sebanyak itu? Pasti bercanda, kan?

Rio tentu hanya tersenyum sambil menikmati ekspresi takjub dari Iyes. Pria itu hanya melanjutkan pernyataannya dengan berkata, "Aku bisa melakukan apapun untuk perempuan yang aku cintai, apalagi ketika dia membuat janji menyebalkan hanya demi menjauh dariku."

"Oh, aku hanya mengingatkan, tapi janji itu keluar dari mulutmu sendiri, ya," balas Iyes.

"Kau memaksaku melakukannya, my honey bee," sanggah Rio.

"Bagaimana bisa? Yang aku inginkan cuma membatalkan perjodohan konyol itu."

"Kau bilang kalau aku menjauh darimu kau akan bahagia. Aku hanya ingin kau bahagia."

Iyes terdiam dan mengalihkan pandangannya ke wastafel, menunduk seakan merenungi sesuatu. Rio menatap sang pujaan hati, harap-harap cemas kalau pernyataan nya tidak membuat perempuan satu ini merasa bersalah.

Tapi karena perempuan itu terus diam, Rio akhirnya menambahkan pernyataannya, "Aku kira aku bisa menahan diri asalkan kau bahagia. Tapi ternyata itu terasa menyakitkan. Hari ketika pertama kali kau membalas teleponku adalah saat ketika sebagian bebanku terangkat. Aku merasa kau tidak sepenuhnya membenciku."

Namun, Iyes terus diam. Perempuan itu bingung untuk merespon apa atas pernyataan Rio. Mengaku kalau dia salah? Kalau dia selalu memikirkan Rio tiap malamnya? Setelah memaksa pria satu ini untuk menikah dengannya sambil menodongkan benda sekonyol ulekan bekas ngulek sambel terasi? Terlebih di depan calon mertuanya? Tidak, Iyes tidak bisa lebih banyak lagi kehilangan harga dirinya. Atau mungkin lebih tepatnya kewarasan untuk tidak bertingkah memalukan? Entahlah....

"Awalnya aku merancang seminar itu sebagai pancingan untuk membuatmu menemuiku dan membatalkan janji itu. Kau pasti tidak akan menolak seminar macam itu, apalagi menjadi moderatornya. Aku berencana akan datang jauh lebih awal hanya untuk itu dan bilang kalau seminar ini adalah hadiah ulang tahun untukmu. Meminta maaf, lalu aku akan memohonmu untuk memulai dari awal lagi sebagai teman."

Seketika, Iyes menoleh ke arah Rio sambil memelototkan matanya. Itu persis seperti apa yang dia rencanakan! Sejak awal, pria satu ini sudah merancang panggung dengan gila hanya untuk membatalkan janji konyol itu. Lebih lagi, Iyes tidak menyadarinya dan berniat melakukan hal sama.

Tapi, sebelum Iyes sempat berkata apapun, Rio kembali bilang dengan senyum terlembut yang pernah Iyes lihat, "Tapi hari ini kau datang menemuiku dan melamarku. Kau pasti tidak tahu seberapa bahagianya diriku, kan? Kalau saja malaikat-malaikatku tidak mengingatkanku untuk tetap mengontrol diri, maka aku akan menangis saat itu juga."

"Dari awal aku bercita-cita melamar suamiku sendiri. Kau boleh melakukannya lagi nanti, kalau kau merasa belum puas, tapi jangan di tempat publik atau kau memang ingin mati. Lagian aku hanya minta bapak memberikan list suami yang prospektif," jelas Iyes, "Kau tidak tahu betapa bencinya aku ketika bapak menodongkan calon tunggal yang juga sangat agamis."

"Spiritualis."

"Ntut, podo wae, ndes."

"Beda."

Iyes memutar bola matanya, tidak mau peduli. Dia lalu melanjutkan pernyataannya, "Tapi sebenarnya, aku tidak punya alasan apapun untuk menolakmu. Jadi, aku tanpa sadar membesar-besarkan ketidaksesuaian perspektif di antara kita. Padahal itu hanya untuk satu hal saja."

Rujak Duren dan Lebah MaduCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang