Seminar itu begitu megah, dengan lima pembicara ternama dan beberapa presenter research yang memaparkan temuan mereka. Iyes tidak henti-hentinya berterima kasih kepada Rio ketika keduanya pulang setelah semua rentetan acara hari itu selesai.
Bahkan, Iyes juga tidak berhenti merangkul lengan Rio yang tidak di gips kemanapun mereka berdua melangkah hari itu. Perempuan yang dulu bahkan tidak ingin tangannya disentuh, kini lengket seolah-olah keduanya sudah disemen.
Kalau dari awal Rio menyadari hal ini, dia pasti akan langsung membuat seminar ini sebelum sang pujaan hati mulai dengan sepihak membencinya. Tapi, tidak ada yang lebih manis ketimbang hasil dari jerih payah, bukan?
"Berterima kasihlah dengan memanggilku, Mas," Rio tersenyum ketika mendengar Iyes lagi-lagi berterima kasih malam itu.
Iyes mengerucutkan bibir dan menjawab, "Aku akan memikirkan proposalmu yang itu."
Sekarang, ia dan Iyes sudah berada di rumahnya setelah makan malam berduaan di restoran berkelas. Di sana, Rio melamar Iyes secara resmi. Tapi perempuan itu malah ketawa terbahak-bahak sambil memasangkan sendiri cincin lamaran itu ke jarinya. Bahkan, ketawanya belum juga mereda sampai keduanya tiba di rumah beberapa saat yang lalu.
"Kenapa? Kamu gak mau berlutut dan memohon aku buat manggil kamu pakai 'Mas', seperti tadi di restoran," ujar Iyes lalu kembali ngakak.
Rio membiarkan wajahnya memerah seketika, hanya tertawa kecil dan menawarkan segelas teh chamomile kepada Iyes yang duduk di sofa. Ia juga bergabung dengan sang dosen muda untuk menikmati tontonan favorit pujaan hatinya. Kamen Rider, apa lagi jika bukan itu?
Rumah kediaman Rio cukup luas, pria itu memang sedari awal mendirikan bangunan kayu ini untuk sebuah keluarga besar. Ada dua kamar tidur utama dan empat kamar lainnya. Belum termasuk ruang keluarga, ruang makan, ruang tamu. Ditambah bangunan kayu lainnya yang terpisah, digunakan sebagai bengkel untuk membuat produk-produk natural sehari-hari. Rio tahu betul kalau Iyes senang bereksperimen, bengkel itu untuk sang istri masa depannya.
Biasanya, Rio menjadi satu-satunya penghuni di rumah seluas ini. Tapi mulai beberapa hari lalu, Iyes akan mengunjunginya untuk menghabiskan waktu dengan Ria dan Genis. Lalu pulang sebelum jam sembilan malam.
Namun, hari ini Ria dan Genis pergi entah kemana, tentu saja berduaan. Katanya, mereka juga butuh berkencan. Lagipula, baik Iyes maupun Rio, tidak keberatan dengan hal itu.
Setelah cukup lama tertawa, akhirnya Iyes tenang dan kembali bertanya, "Apa benefit yang mau kau tawarkan jika aku memanggilmu dengan mas?"
Rio berpikir sejenak, menimbang-nimbang, lalu menjawab, "Aku akan melaksanakan seminar seperti itu setiap tahunnya."
"Benar?"
"Hu'um."
"Untuk hadiah ulang tahunku?"
"Untuk memperingati pernikahan kita."
"Persetan!" Iyes nyaris histeris, "Kenapa tidak untuk ulang tahunku?"
"Kamu gak suka?"
"Kalau begitu, aku akan memanggilmu Mas lagi kalau kau membiarkanku mencukur brewokmu!"
Rio langsung merinding. Syukur-syukur dia berhasil menyembunyikan alat cukurnya setiap Iyes ke rumahnya. Kalau tidak, entah apa yang terjadi pada dirinya.
"Tidak. Tidak akan. Kau bisa melukaiku dengan alat cukur dan itu sama sekali tidak lucu," jawab Rio dengan suara pelan.
"Kapan aku pernah melukaimu?"
"Kau melamarku sambil mengancamku dengan ulekan terasi, Yes. Benda itu menyentuh kulit leherku, Iyes, demi apapun, aku tidak pernah mau mengalami teror itu lagi."

KAMU SEDANG MEMBACA
Rujak Duren dan Lebah Madu
RomanceKiyesia Tarani yang agnostik tidak menyangka kalau dia dijodohkan dengan Rio yang sangat religius dan spiritualis. Karena trauma masa kecilnya, Rio terlihat tidak lebih baik dari rujak duren. Dia hanya belum menyadari kalau Rio Azriel Rayaan akan me...