Tanpa mu

58 12 0
                                        

Beberapa bulan kemudian

Iyes membantingkan diri ke atas kasur dengan rasa puas setelah berendam lama dengan air hangat. Tesisnya berjalan dengan lancar, besok sekali dia akan sidang untuk memperjuangkan kelulusannya. Itu lah kebahagiaan bagi Iyes.

Tapi perempuan itu tidak sadar bahwa bahagianya kini bertambah satu lagi. Atau hanya pura-pura tidak sadar? Tidak mau peduli? Ya, apapun itu.

Iyes hanya tidak bisa berhenti tersenyum setiap malamnya ketika smartphone-nya berdering dan Rio meneleponnya tepat sebelum tidur. Mereka tidak berbincang lama, tidak lebih dari 10 menit. Tetapi itu saja lebih dari cukup.

Awalnya, telepon itu malah hanya bertahan untuk beberapa detik sebelum Iyes menutup panggilan tanpa peringatan.

Perempuan itu terlalu gugup untuk berkata panjang lebar. Dia tidak pernah membayangkan dirinya kini malah menikmati setiap alunan kata yang terdengar dari ujung panggilan.

Demi apapun, Iyes berani bertaruh, suara Rio terdengar bernada dan terkesan begitu lembut. Padahal dengan suara bariton seperti itu, Iyes tidak pernah bertemu orang lain dengan efek samping serupa.

Satu hal yang tidak bisa Iyes lewati tiap malamnya adalah saat Rio mengakhiri telepon dan bilang kalau pria itu sayang padanya. Semua setan di neraka bahkan akan menjerit histeris ketika tahu seorang Iyes kecanduan dengan hal seremeh itu.

Hanya saja, demi harga diri dan prinsip hidupnya, Iyes menjadikan itu semua rahasia untuk dirinya sendiri. Toh, perempuan itu sangat yakin, Rio tidak akan berpaling ke perempuan lain. Bahkan jika bintang porno di sodorkan di hadapannya sekali pun. Jadi, untuk apa dia repot-repot menjadikan pria itu satu-satunya pria baginya?

"Kamu lagi apa, Yes?"

Ah, tanpa sadar, Iyes kembali memuji alunan suara Rio. Empat kata dan pria itu berhasil membuat dirinya tenang, walaupun besok pagi dia akan sidang tesis. Tapi pujian itu hanya ada di dalam batinnya saja.

"Bacot!" Iyes menjawab dengan sok ketus, "Bukan urusanmu, Rujak Duren."

Suara tawa Rio terdengar dari kejauhan. Lagi-lagi sukses membuat jantung seorang Kiyesia berdetak tidak normal.

"Bahkan kamu marah pun aku tetap sayang, Yes. Jadi, percuma pura-pura ketus."

Iyes hanya bisa mangap-mangap, bingung bagaimana harus menanggapi pernyataan manis dari pria di ujung panggilan teleponnya ini. Tapi kemudian perempuan itu menyeringai, dia mendapat ide bagus untuk membalas Rio. Dia teringat rekomendasi dari Andro beberapa waktu lalu tentang bagaimana cara mengisengi seorang Rio Azirel Rayaan, yaitu: coba si Rio kamu goda pake hal-hal yang ambigu atau ajak dia ngomong dirty talk, Sis.

Jadi, setelah membenarkan posisi tidurnya di kasur, Iyes pun berdeham.

"Aku abis mandi," ujar dengan nada datar, "Tau gak, sepertinya dadaku tambah kecil karena sering olahraga."

Hening yang aneh pun menyelimuti keduanya. Iyes berani bertaruh bahwa kini Rio tengah membaca mantra atau doa-doa untuk menenangkan pikiran.

Tapi memangnya Iyes berbohong seperti itu hanya untuk sebuah keheningan? Tentu saja, tidak.

"Kamu cari cewek lain aja, yang lebih gede. Laki-laki kebanyakan suka yang gede-gede, kan?"

Masih hening.

Tapi Iyes bisa mendengar dengan samar suara lantunan doa dari ujung telepon. Perempuan itu tidak bisa menghilangkan senyumnya.

Setidaknya, dia mampu menahan tawa, bahkan untuk sekedar melanjutkan kejahilannya.

"Gimana? Kok, diam? Aku bisa kenalin kamu sama cewek Jepang yang pornstar. Aku kenal beberapa, kalau kamu mau. Cowok atau cewek? Atau yang trans?"

"Yes," akhirnya Rio berujar dengan suara parau.

"Hm? Kecewa sama punyaku yang kecil?"

"Astaga, Yes, aku sayang kamu untuk apapun dirimu. Jangan sekali-kali lagi mau kenalin aku ke cewek lain dengan maksud seperti tadi, karena itu melukai perasaanku."

"Hm? Astaga, kamu serius mau nungguin aku?" Iyes ketawa ngakak sejadi-jadinya, "Dengar, ya, Rujak Duren, jangan menjual kesetiaanmu dengan hal-hal tidak pasti. Aku, kan, sudah berkali-kali bilang kalau aku gak berniat serius untuk siapapun. Aku nyaman sendiri."

"Berarti," Rio mengambil jeda sejenak, "Kamu udah gak benci lagi sama aku, kan?"

"Kata siapa? Malaikatmu?"

"Menurutmu?"

Iyes dengan santai membalas, "Berhenti halu, Mas. Walau bagaimanapun perasaanku, aku gak bakal nikah sama siapapun. Kecuali kamu mau dimadu? Aku setuju sekali dengan ide punya lebih dari satu suami. Cita-citaku adalah punya sederet pria ganteng di rumah yang melayaniku."

Rio pun terdengar tertawa sebelum ia merespon, "Berarti aku cukup ganteng untuk menerima tawaranmu?"

"Yah, setidaknya tidak lebih jelek dari kuda laut."

Rio kembali tertawa dan kini senyum Iyes bahkan merekah lebih lebar. Tawa Rio berbahaya, Iyes mulai menandai hal ini dalam pikirannya sendiri, karena suara ketawa pria itu lebih menular dari pada virus apapun.

Untuk mencegahnya tertawa, Iyes pun tiba-tiba berkata, "Besok aku sidang, Mas."

"Besok banget?"

"Hu'um."

"Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menyertaimu dengan berkahnya. Aku akan doakan malam ini, besok semua pasti lancar."

"Astaga, tentu saja! Aku mempersiapkan semua ini selama lebih dari satu tahun!"

"Baiklah, sekarang waktunya tuan putri untuk tidur."

Iyes menyeringai dan baru akan memutus panggilan ini kalau Rio tidak tiba-tiba berteriak, "Tunggu dulu, Yes!"

"Apa?" ujarnya.

"Aku memang tidak masalah dipanggil dengan Rujak Duren. Tapi aku akan sangat senang jika dipanggil Mas Rio seperti barusan. Itu terdengar sangat manis, my beloved honey bee."

Tak sampai hitungan detik, jempol Iyes langsung mendarat di tombol merah dan menggesernya ke atas secepat mungkin. Wajah perempuan bersurai sebahu ini langsung merah merata. Dia secepat kilat membalikkan tubuhnya dan berteriak dengan ditutupi bantal di posisi tengkurap nya.

Bagaimana dia bisa lepas kontrol hingga memanggil Rio dengan sebutan Mas?

Oh, tentu saja karena dia sudah merasa nyaman. Apa lagi?

Iyes hanya merasa teramat malu karena Rio harus mempertegas itu dan membuatnya menjadi terdengar sangat romantis. Perempuan itu diam lagi beberapa saat sebelum dia kembali menjerit sambil menutupi mulutnya dengan bantal.

Rujak Duren dan Lebah MaduCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang