"Aku tahu patung adalah seni mengabadikan kenangan, tetapi haruskah aku memahat Ibu? Mengabadikan kejahatannya?"
⁕⁕⁕
WATTYS 2023 SHORTLIST
⁕⁕⁕
Tersesat dalam kampus seni mempertemukan Cedric dengan Vincent -- "Sang Dewa Roma" -- dan Ronald, simbol k...
Di penghujung musim gugur yang dingin sepuluh tahun lalu, kami mengunjungi Museum Roth di Italia. Letaknya di Roma, dan kadang-kadang seringkali tertukar menyebutnya. Museum Roma? Museum Moth? Dan Ibu bakal selalu bersabar membetulkanku sambil tertawa.
Aku juga kadang-kadang menyebutnya Museum Moth—Museum Ngengat.
Semula aku agak kecewa karena kami tidak jadi ke The Louvre. Namun Ayah tidak suka berdesakan, dan kami sudah sering liburan ke Perancis, jadilah kami ke Museum Roth di Italia. Walau aku agak rewel selama perjalanan menuju ke sana, aku seketika bungkam tersihir saat tiba.
Museum Roth megah, menakutkan, dan mengingatkanku pada mansion berhantu. Kubah-kubah bundarnya dari kaca dan patung-patung dewa-dewi Roma di lobi tampak seperti hantu yang terperangkap dalam tatapan Medusa. Pikirku, sehebat apa patung-patung di dalam sehingga patung-patung dewa dewi saja di taruh di lobi?
Saat kami memasuki aula, kami disambut lukisan-lukisan raksasa yang indah, serta janggal. Ayah mengernyit pada lukisan-lukisan mengerikan yang gelap. Kenapa semua lukisan di sini tragis? Lalu Ibu bakal menjawab bahwa tragedi Roma tidak kalah dengan mitos Yunani yang menyayat.
Namun semua patung-patungnya tidak kukenal. Bukan patung dewa-dewi, patung pahlawan atau semacam itu. Ibu bahkan tidak tahu. Namun kurator museumnya, seorang pemuda yang tidak kuingat wajahnya selain impresinya yang mengingatkanku pada mawar (aku menyebutnya Mr. Rose, sebab kemejanya yang selembut kelopak mawar), bersabar menjelaskan dalam bahasa Inggris beraksen kental.
Sebagian patung adalah untuk mengabadikan anggota keluarganya, dan orang-orang yang unik. Aneh, untuk apa dipamerkan di museum? Namun Ibu lantas bilang bahwa keluarga seniman Rose memang sangat melegenda di bumi Italia. Pengunjungnya saja sekelas mahasiswa seni dari berbagai penjuru dunia atau seniman-seniman jalanan yang mendamba popularitas sejenis. Lalu ada patung-patung kriminal terkenal yang pernah mengguncang Italia. Setiap patung yang diceritakan Mr. Rose membuatku tertarik karena setiap kisah mereka menggigit.
"Kami tidak memamerkan patung karya tokoh terkenal. Biarkan semua museum seperti itu, termasuk The Louvre," kata Mr. Rose, yang kuingat selalu. "Kami memamerkan patung-patung orang dengan kisah unik menggugah, sebab esensi patung adalah mengabadikan wujud yang sementara. Patung menjadikan kenangan sepintas menjadi tak lekang oleh waktu maupun cuaca."
Saking terinspirasinya aku langsung berputar kepada Ayah dan Ibu. "Ibu, ayo janji! Kita harus mengabadikan liburan ini jadi patung! Aku mau senang-senang terus kayak begini, bersama Ayah dan Ibu!"
Ayah mengernyit, sementara Ibu tergelak. "Itu akan menjadi patung yang abstrak, Sayang."
"Tapi Mr. Rose pasti bisa." Aku, yang masih berusia delapan tahun, menoleh kepada Mr. Rose dengan mata membulat. "Bisa kan, Paman?"
Mr. Rose terlalu muda untuk kupanggil Paman, tapi bagiku di usia delapan tahun, semua adalah Paman atau Bibi.
Mr. Rose tersenyum. "Bisa," katanya, sambil melirik ke arah Ayah dan Ibu. "Sangat bisa."
Aku merasakan Ayah menggamit tanganku dengan agak gugup. "Mari lihat-lihat lukisan lagi saja."
Itu memang keinginan polos seorang bocah berusia delapan tahun, tetapi aku tidak main-main. Itu bukan euforia sepintas. Itu adalah keinginanku, yang semakin kuat saat aku menyaksikan Ibu berselingkuh dan membunuh Ayah dalam hatinya. Aku ingin mengabadikan keceriaan Ibu semasa berlibur di Roma, dan kegugupan Ayah yang selalu menjadi bahan candaan kami secara rahasia di rumah, saat Ayah terbiasa selalu dijunjung dan dibanggakan di depan khalayak.
Sehingga, ketika Vincent Roth mengatakan patung sebagai wujud mengabadikan kenangan ... kukira semua seniman berpikir seperti itu.
Tidak. Dia memang kurator yang mengatakan itu. Walau kedatangannya ke Amerika memanglah sebuah ketidaksengajaan. Namun dia bersikeras bahwa pertemuan kami adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan. Bahwa seorang bocah Amerika usia delapan tahun dahulu memang bakal memiliki peran besar di kehidupannya sepuluhan tahun lagi. Bahwa, atas kebetulan yang sangat indah ini, ia tidak akan pernah melepaskanku.
Dan, bahwa, dia akan membantuku mewujudkan masa-masa kebahagiaanku lagi, meski itu berarti ia harus membuat tangannya kotor.
Itu seni, begitu dalihnya. Rasa cinta tulus seseorang untuk melindungi yang terkasih—baik keluarga, sahabat, atau harta benda—membuatnya rela melakukan apa pun. Dan itulah seni mencintai. Seni berkehidupan.
Aku tidak membantah, tetapi bukan berarti aku setuju.
Dalam lubuk hati terdalam, aku masih meyakini itu bukanlah sebuah bentuk seni.
Kecintaan yang berlebihan itu bukan seni, melainkan obsesi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.