19 - Belajar Menerima

13 2 2
                                        

"kak, itu tadi kak Riyan ya"

"iya, napa dah tanya-tanya"

"lu suka yak?"

"endak ogh, cuman nanya"

"dih lu gak sah ngeles deh"

"hehehe... kok sekarang tambah ganteng yak"

"kan dah ketebak watak lu Rim"

Rima hanya cengengesan gak jelas karena perkataan Azza emang fakta

~~

Setelah 5 hari menginap di rumah sakit Azza akhirnya dibolehkan untuk pulang. Rima dan Bu Zulaiqoh merapikan barang-barang Azza yang akan dibawa pulang. Pak Yahya mengurus pelunasan biayaya administrasi, setelah selesai Pak Yahya langsung menuju kamar Azza

"alhamdulillah sudah bisa pulang, nanti ke Bandung dulu ya. Kuliahnya udah bapak mintain ijin ke dosen matkulmu, biar pulih sempurna dulu"

"bapak emang kenal sama dosen-dosenku?"

"ya kenal lah, kan temen bapak itu"

"kok gak cerita pak"

"ya gapapa lah, nanti kalau kamu akrab dikira backingan orang dalam"

"oh iya juga ya pak, hehehe"

Setelah selesai beberes tiba-tiba Riyan dan Galih datang

"assalamualikum" ucap salam Riyan dan Galih secara bersamaan 

"waalaikumsalam" jawab Azza dengan keluarganya

"loh kita dah mau pulang, kalian disini ngapain?"

"ya kita mau lihat kamu Za"

"gua titip ke kalian bisa gak?"

"apa Za?"

"tolong liatin pembagian lokasi KKN ya di LPPM"

"Oh itu, gampang Za"

"yaudah aku mau pulang dulu, hati-hati kalian di kos"

"kalo kangen ngomong aja" senyum Azza dengan senyuaman nakalnya

"buk lihat Azza" ucap Galih dengan wajah sebelnya

"walah kalian ini, ibuk juga pernah muda"

seketika seisi ruangan tertawa bersama.

~~

Selama perjalanan ke Bandung seperti biasa, Azza memilih duduk di paling belakang sendirian, dengan posisi badan rebahan. Tidak lupa ditemanin dengan aerphone setianya. Azza sebenarnya tidak ingin pulang ke Bandung, karena Azza belum survey tempat yang akan ditempati untuk 2 bulan kedepan. Setelah beberapa jam perjalanan Azza merasakan lapar, karena selama di rumah sakit Azza tidak nafsu makan karena lidahnya pahit selama dirawat di rumah sakit. 

"Buk Azza lapar"

"mau beli apa Za?"

"nasi goreng biasanya ya bu"

"ibu kira kamu mau ganti menu yang lain, ternyata masih sama tetep nasi goreng"

"iya bu hehehe"

Akhirnya keluarga Pak Yahya mampir ke tempat nasi goreng biasanya. Menu andalan keluarga Pak Yahya adalah nasi goreng sepesial, dengan telur dadar. Selama menunggu pesanan tiba-tiba ibu bertanya

"Za diantara Riyan sama Galih ada yang masuk kriteria kamu nggak?"

"ibu, kok tiba-tiba tanya gitu"

"ya nggak papa lah, kali aja jodoh ya kan?"

Heart in SilenceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang