Bagian 27 [Kilas Balik]

559 46 5
                                        

"Yan, lihat gue!"

Sian berdecak kesal ketika kaki sang kakak menyentuh betisnya. Membuat dirinya mau tak mau melepas pandangan dari game yang ia mainkan lewat ponsel. "Iya. Cantik," komentarnya.

"Lihat yang benar!" Tak puas dengan nilai sang adik akan penampilannya, Viola menangkup wajah sang adik. Memaksa remaja akhir SMP itu untuk memperhatikannya dari ujung rambut hingga kaki.

Untuk yang kedua kali, Sian berdecak. Lelaki itu mengantongi ponsel sebelum berdiri dan mengamati penampilan sang kakak dengan jeli. "Lo mau ke mana?" tanyanya. Alisnya bertaut mendapati Viola dengan mekap tebal, rambut cokelat kemerahannya digerai, bergaun merah, hingga memakai sepatu hak tinggi dengan warna senada. "Ngapain dandan semenor itu kayak tante-tante."

Satu pukulan keras mendarat di bahu Sian. Membuat lelaki itu meringis selagi melotot ke arah sang kakak dan mengusap-usap bagian tubuh yang menjadi sasaran kekesalan Viola.

"Enak aja lo ngomong! Makanya sekolah yang bener biar besok bisa kuliah kayak gue. Punya adab dan tata krama yang baik. Bukan ngegame mulu! Bosen di rumah, main ke warnet." Gadis itu mengomel selagi kini memasukkan ponsel dan barang-barang lain ke dalam tas.

Satu sudut bibir Sian terangkat mendengar cibiran sang kakak. Lantas setelahnya, tanpa berkata apa-apa berniat meninggalkan ruang tengah tempat mereka berbicara.

"Mau ke mana lo?"

"Warnet," jawabnya.

"Eh, dengar, ya, Bocil! Bentar lagi gue bakal jadi designer terkenal. Mama bakal ngenalin gue ke temannya untuk kerja sama di sebuah event besar. Ntar lo ikut datang biar bisa lihat Kakak lo yang membanggakan ini."

Gerakan Sian terhenti setelah mendengar celoteh sang kakak. "Lo pergi sama Mama?"

Tak terdengar suara dari Viola, tapi Sian yakin akan jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan. Lelaki itu mendengkus kesal. Mamanya hampir tak pernah ada di rumah. Melarikan diri dari para penagih utang yang hampir setiap hari datang. Terakhir kali pulang, Maya-mamanya-membuat pinjaman atas nama sang kakak. "Lo itu ... polos banget apa gob-" Sian tak melanjutkan kalimatnya. Percuma saja menasihati Viola yang memang dasarnya terlalu mudah percaya dengan orang lain.

Lelaki itu melangkah cepat menuju kamar sang mama dan mendapati wanita itu tengah mematut diri di depan cermin. "Punya rencana licik apalagi Mama ke Kakak?"

Maya sekilas melirik Sian yang berdiri di ambang pintu kamar. Namun, sama sekali tidak menanggapi pertanyaan putranya.

"Ma!" bentaknya, "Please .... Kita udah pusing banget ngadepin Mama. Utang Mama yang di sana-sini, Mama yang kabur-kaburan, nama Kakak yang ikut diseret-seret dan sekarang Mama mau ngapain lagi sampai Kakak sampai didandani kayak gitu?"

"Bukan urusan kamu." Maya beranjak dari depan cermin dan memangkas jarak di antara mereka.

"Ma-"

"Apa yang terjadi sama Viola atau Mama bukan urusan kamu, Sian," ucap Maya setengah berbisik. "Lakukan hal apa aja yang kamu mau. Mama enggak akan ngelarang apapun. Kamu mau main sepuasnya, mau nge-game, dan apa yang kamu lakuin di warnet juga Mama enggak peduli. Tapi kamu juga jangan pernah ganggu Mama. Nanti setelah Mama berhasil, kita bakal nikmati hasil jerih payah Mama berdua. Kamu jangan khawatir dengan masa depan kamu. Jangan khawatirkan orang lain, termasuk kakak kamu. Percaya kalau Mama lakuin ini semua untuk kita bisa bertahan hidup."

Sian memalingkah muka. Muak dengan bualan sang mama yang diberikan setiap sosok itu kembali ke rumah. Lalu tanpa banyak berkata, lelaki itu beranjak dari hadapan Maya. Berniat keluar rumah menjalakan pekerjaan malamnya di warung internet seperti biasa. "Kalau ada apa-apa, telepon gue," pesannya kepada Viola yang sudah duduk di ruang tamu. Menunggu sang mama selesai bersiap.

Sang kakak yang semula fokus ke ponselnya mengarahkan pandang ke arah sang adik, lantas terkekeh kecil. "Omo ... bocil gue ternyata sekarang udah gede."

"Termasuk kalau Mama mau pinjem duit atas nama lo, jangan mau."

"Iya."

"Jangan gampang percaya ke orang-"

"Iya, iya. Cerewet amat jadi orang," potong Viola.

Sian benar-benar berlalu setalah mendapat jawaban itu. Ia tak akan menyangka jika sore itu adalah kali terakhir ia terlibat pembicaraan dengan sang kakak. Kali terakhir mendapati binar penuh harapan di wajah sang kakak akan mimpinya menjadi designer terkenal. Kali terakhir ia mendapati Viola dalam keadaan baik-baik saja.

***

Hal pertama yang Sian ingat setelah kesadarannya benar-benar kembali adalah suara keputusasaan Viola yang meminta bantuan. Namun, ia terlambat. Tidak ada yang dapat ia lakukan untuk Viola di malam itu. Andai jika ia melarang keras sang kakak untuk pergi bersama mamanya, apakah peristiwa ini dapat dihindari? Jika kecelakaan itu tidak terjadi, masihkah Sian datang dalam waktu yang tepat?

Tidak ada kata yang mampu terucap saat Sian melihat sosok itu berada di sudut ruangan. Berbaju pasien dengan tatapan kosong dan penampilan yang berantakan. Sangat jauh berbeda dengan kali terakhir Sian mendapati Viola sore itu. Dokter yang merawat Viola telah bercerita tentang kejadian yang menimpa kakaknya selama Sian tak sadarkan diri. Bayangan Viola dibawa pergi oleh orang yang dikenalkan sang mama dan dilecehkan, terus berputar di kepalanya. Kemarahan mengusai dirinya, tetapi Sian tak punya sasaran untuk meluapkan perasaan itu.

"Sekarang kamu mengerti, mengapa harus menerima tawaran saya?"

"Bapak yang membuat saya dan kakak saya terjebak dalam situasi seperti ini, tapi dengan tidak tahu malu masih mau memanfaatkan saya?"

Hadyan terkekeh mendengar respons dari remaja itu.

"Kalau saja Bapak tidak menabrak saya malam itu, Kakak saya tidak akan berakhir seperti ini!" sentak Sian.

"Jadi karena kamu tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, kamu mencari pembenaran akan semua yang kamu lakukan dan menyalahkan saya?"

Hanya ada tiga orang di ruang rawat khusus itu. Viola yang tiada bereaksi sedikt pun, Sian, dan Hadyan. Meski berada dalam pemantaun pihak rumah sakit di luar ruangan, tetapi ia yakin jika pembicaraan yang mereka lakukan tidak turut terekam dalam kamera pemantauan.

"Dengarkan saya baik-baik, kamu pikir selama hampir sebulan tidak sadarkan diri, siapa yang mengurus semuanya?" Hadyan mulai berbicara dengan intonasi pelan, "Saya tahu apa yang terjadi dengan keluargamu, kejadian detail yang dialami kakakmu, utang-utang ibumu, hingga pekerjaan yang selama ini kamu jalani. Saya bisa dengan mudah lolos dari masalah jika kamu berniat melaporkan saya atas kecelakaan yang menimpa saya. Tapi yang perlu kamu ingat, saya bisa melaporkan kejahatan yang kamu dan ibumu lakukan. Dan saat itu terjadi, siapa yang akan membantu kamu?"

Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir Sian.

"Hanya saya yang bisa membantu kamu. Kamu hanya perlu menjalankan apa yang saya perintahkan dan saya akan memberi kamu kehidupan yang layak. Cukup hidup seperti kemauan saya. Kamu bisa sekolah dengan kehidupan baru dan mendapat upah dari itu. Anggap saya memperkerjakan kamu dan kita sama-sama mendapat keuntungan dari itu.

"Pisahkan kehidupanmu sebagai Sian dan Nusa. Saya punya rumah kosong di Bandung dan sudah ada orang yang saya persiapkan untuk merawat kakakmu. Kamu hanya tinggal menjalani kehidupan seperti yang saya perintahkan selagi memantau kakakmu."

Dan perjanjian itu yang mengantarkan Sian dalam kehidupan yang berbeda. Bagaimana ia harus menjadi dua orang dalam satu waktu. Berpura-pura sekeras mungkin menjalani kehidupan sebagai Nusa Sagara.

Bersambung ....

Sebenernya Sian itu setengah preman wkwk. Tapi harus rebranding jadi Nusa yang kalem.

Aslinya mau nulis lebih banyak. Tapi ternyata lebih enak dipotong di sini. Jadi lanjutannya kapan-kapan,ya ....

Thank you, All♡

Sleman, 12.11.23

Nusa SagaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang