Bagian 37

188 36 9
                                        

Ada banyak pesan yang Nusa terima setelah membuka kembali ponsel, tapi tak ada satu pun dari Pinka tertera di sana. Ia menggulir pesan yang hampir sepenuhnya berisi pertanyaan terkait kabarnya setelah kemarin tumbang di sekolah. Ia membalas sebagian besar dari pesan-pesan itu, lalu beralih membuka pesan yang diarsipkan. Ada beberapa pesan masuk dan satu pesan suara sekali lihat dari Evelyn. Lantas, Nusa memutar pesan suara tersebut.

"Pinka masih khawatir sama lo. Dia tadi sempat nanyain kabar lo juga, tapi ada yang aneh sama dia. Dia tiba-tiba nanya apa lo punya kembaran atau saudara yang mirip banget sama lo. Gue belum bisa menyimpulkan alasan kenapa dia ngejauhin lo. Tapi gue rasa dia lagi mencari kebenaran di balik pertanyaan yang dia bilang itu, tanpa nanyain hal itu ke lo. Intinya, dia lagi curiga ada sesuatu yang enggak beres di diri lo."

Nusa diam di sisi ranjang, mencoba mencerna kalimat-kalimat dari Evelyn dan menghubungkannya dengan sikap Pinka yang tampak aneh belakangan ini. Apa yang sebenarnya telah gadis itu ketahui? Apakah ia sempat melihat atau mendengar percakapan dengan Rossa saat di Bandung? Atau lebih buruk lagi, mungkinkah Pinka bertemu dengan Nusa yang lain?

Lelaki berkemeja biru itu sontak menutup semua pemikirannya terhadap Pinka setelah terdengar suara dari arah pintu kamar. Sosok Hadyan muncul dengan pakaian yang telah rapi. "Untung Papa bisa ngasih alasan buat Opa sama Oma enggak maksa ikut ke rumah sakit," ujarnya seraya mendekati Nusa.

Lelaki itu masih diam di tempat, menyimpan ponselnya di saku celana, dan menunggu kalimat selanjutnya dari Hadyan.

"Kamu nanti pergi sendiri aja. Papa ada rapat penting pagi ini. Ke dokter yang biasa. Pokoknya jangan sampai masalah ini terulang lagi. Minta obat atau apa yang bisa buat kamu bertahan. Besok udah harus masuk sekolah biar enggak banyak mengundang kecurigaan. Bertahan aja sampai semester ini karena bentar lagi juga ujian, kan? Habis itu Papa yang urus semuanya. Entah akan Papa kirim ke dokter mana pun buat berobat selama liburan, yang penting kamu bisa bertahan lebih lama seperti ini."

Nusa tak menjawab. Ia paham tapi enggan memberi tanggapan.

"Aku yang antar dia ke dokter," sahut Rossa kemudian. Wanita itu tiba-tiba saja menyusul masuk ke kamar dan menutup pintu.

"Rossa, aku udah—"

"Aku udah tahu apa yang kalian sembunyikan selama ini," potong Rossa.

Tak juga Hadyan, Nusa sama terkejutnya ketika Rossa akhirnya membuka suara terkait hal itu setelah selama ini Rossa bertindak diam-diam di belakang suaminya.

"Apa maksud kamu?" Hadyan masih berpura-pura bodoh.

"Aku tahu kalau dia sakit parah dan rencanamu yang menyembunyikan semua itu dariku," jelas Rossa, "sekarang biar aku yang urus dia."

"Sejak kapan kamu jadi peduli dengan anak ini? Bukannya kamu dulu menolak keras dia karena bersikeras untuk mempertahankan anak kita? Aku enggak mau kamu ikut-ikutan terbawa perasaan hanya karena dia sekarang sakit parah."

"No," Rossa menggeleng, "dokter bilang ada kemungkinan Nusa bisa kembali bangun." Kalimat itu keluar dari bibir Rossa dengan binar mata yang penuh dengan harapan.

Apa yang didengarnya saat ini seharusnya menjadi kabar yang baik, tapi entah mengapa ada perasaan berat yang tiba-tiba menyelinap ke rongga dada lelaki itu.

"Ada perkembangan cukup baik selama aku di Bandung beberapa hari. Dokter bilang masih ada peluang untuk dia sadar kembali," ulang Rossa.

Hadyan menghela napas berat dan Nusa dapat melihat ekspresi yang berbeda dalam raut pria itu. Seolah Rossa telah berulang kali mengharapkan hal yang sama, tapi hal itu tak pernah terjadi.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 14 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Nusa SagaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang