"Ini alamat rumah yang dikunjungi orang yang Ibu minta untuk diselidiki, Bu."
Maya menerima secarik kertas bertuliskan nama jalan dan nomor rumah di daerah Kota Bandung.
"Saya sempat lihat orang itu keluar dari sana, tapi emang lingkungannya cukup sepi dibandingkan jalan sebelum masuk gang." Pria berjaket kulit itu mulai melaporakan hasil pengintaiannya selama dua hari di Bandung.
"Ceritakan semuanya." Maya membenarkan letak kacamatanya beserta kain yang menutup wajahnya. Khawatir jika tiba-tiba ada orang yang mengenalinya baik di luar maupun di dalam kafe kecil tempat mereka bertemu.
"Orang difoto itu baru datang ke rumah sore, Bu. Menjelang magrib sekitar jam setengah enaman. Dugaan saya, dia habis nemenin Neng Pinka di rumah sakit nengok ibunya. Saya berjaga semalaman di depan gang kalau-kalau dia pergi keluar, tapi dia enggak ada pergerakan sama sekali. Baru keluar pagi hari, setelah subuh. Sekitar jam enam kurang seper empat dan pulang ke Jakarta," lapor pria itu.
"Kamu enggak tahu apa yang ada di dalam rumah?" tanya Maya.
Orang itu menggeleng ragu. "Sepi banget, Bu. Hampir engga ada kehidupan. Jam 9 malam lampu rumah juga sudah dimatikan."
"Itu aja? Kamu enggak bisa ngasih saya informasi lain?"
Pria di depan Maya berdeham. Dan Maya paham akan isyarat itu.
"Saya tambahkan dua kali lipat dari biasanya kalau kamu bisa ngasih informasi yang saya mau," respons santai Maya.
"Ada dua gadis yang tinggal di rumah itu. Satu berumur hampir tiga puluhan, tapi saya yakin bukan dia orang yang mau dia temui. Satu gadis lagi saya engga bisa lihat atau dengar suara dia," lanjutnya, "Informasi yang saya dapatkan dari orang sekitar, mereka udah tinggal di sana dua tahun, tapi gadis yang saya maksud tadi memang hanya keluar sesekali dalam sebulan. Kata tetangga karena sakit dan keluarnya hanya buat berobat. Orang yang saya lihat itu, dia yang ngurus gadis yang lain dan rumah. Namanya Ida."
"Yang satunya?"
"Viola."
"Ketemu juga kamu," gumam Maya. Ia tak dapat menyembunyikan senyuman setelah sekian lama tidak mendengar nama perempuan itu, anak tirinya dari suami pertama.
"Remaja lelaki yang bersama Neng Pinka itu memang sudah biasanya ke sana dua minggu sekali. Engga ada yang kenal siapa nama dia. Mbak Ida yang saya ceritain tadi cuma bilang ke orang-orang anak itu yang punya rumah mereka. Adik dari Viola dan sekarang sedang sekolah di Jakarta, makanya hanya bisa pulang dua minggu sekali. Tapi belakangan ini enggak pasti. Kadang sebulan sekali, kadang malah bisa seminggu sekali."
"Ada yang kamu ketahui lagi dari Viola itu?"
Orang itu sedikit ragu. "Enggak banyak, Bu. Saya hanya dapat informasi dari tetangganya kalau mereka bahkan belum pernah berinteraksi. Dia punya depresi berat sampai kadang sering nangis atau teriak-teriak. Selebihnya saya belum dapat informasi lain."
Maya mengangguk-angguk. Informasi terkait tempat tinggal Viola dan keadaannya sudah cukup bagi Maya. "Jadi selama ini kalian kabur ke Bandung?" batinnya.
"Kamu stay dulu untuk beberapa waktu di Bandung. Nanti kalau saya ngasih kamu instruksi, kamu bisa langsung ke TKP," perintahnya, "Saya harap kamu mengerti apa yang saya maksud." Maya mengakhiri percakapan mereka dengan senyum senang.
***
Suasana cukup sepi ketika Nusa terbangun. Ia menyibak tirai UKS yang menjadi penyekat antarbrankar, lantas menemukan hanya ada penjaga UKS dan seorang siswa tak jauh darinya. Entah berapa lama ia tak sadarkan diri hingga kini sudah memasuki dua jam pelajaran terakhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nusa Sagara
Teen Fiction"Sa, gue butuh bantuan lo." Pinka tak pernah menyangka jika satu kalimat itu akan mengantarkannya pada kisah yang panjang. Pada sejuta sisi kelam yang tiada juga menemukan ujung. Pada rahasia semesta yang tidak pernah ia sangka akan seluas nusa-saga...
