Bagian 36

467 47 22
                                        

Evelyn menoleh ke arah Pinka setelah pembayaran soda gembira tengah diproses oleh kasir. Gadis itu masih saja melamun di samping tumpukan tugas yang belum terselesaikan. Sejak pulang sekolah dan Evelyn mengajak Pinka mengerjakan tugas di sebuah kafe dekat sekolah, ia kerap mendapati Pinka melamun seperti ini. Sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Muka lo udah kayak orang mikirin utang, Ka," ujarnya seraya mendekat kembali ke meja mereka.

Pada saat itu juga Pinka beralih memperhatikan Evelyn. Sebegitu ramai pikirannya hingga ia tak sadar jika Evelyn baru saja pergi untuk memesan minuman baru.

"Lo lagi marahan sama Nusa, ya?"

"Enggak," sangkal Pinka.

"Masa sih?" goda Evelyn, "tadi pas dia pingsan lo bahkan enggak ke UKS. Cuma ke sana sebentar buat ngambilin tas dia," tambahnya.

Pinka tak menjawab. Ia memilih menyeruput minuman yang belum ia sentuh sejak satu jam lalu dipesan.

"Atau lo capek karena Cuma HTS-an terus?"

Pinka menatap Evelyn dengan pandangan serius.

"Enggak-enggak. Gue becanda doang." Evelyn mengklarifikasi. Namun, wajah Pinka masih saja begitu serius.

"Lyn ...." panggilnya ragu.

"Kenapa, Say?" tanggap Evelyn.

Jeda cukup lama. Begitu banyak hal yang Pinka pikirkan hingga ia bingung harus memulainya dari mana dan akhirnya ia memilih untuk menanyakan kabar Nusa terlebih dahulu. Ia tahu jika sahabatnya itu mendapat jadwal jaga UKS tadi. "Nusa baik-baik aja, kan tadi?"

"Pilih satu: lo mau khawatir atau marah ke dia?"

"Lyn gue serius," tegas Pinka.

"Hehe oke oke," Evelyn memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman. Mempersiapkan diri karena tampaknya Pinka setelah ini akan memulai perbincangan cukup lebar. "Aku enggak yakin sih, Ka. Dia bilangnya sih oke-oke aja. Pulang sendiri juga tadi naik ojol. Tapi masih pucet gitu mukanya."

Pinka menghela napas panjang.

"Dia punya sakit serius kah?"

Jujur Pinka pun tak tahu akan hal itu dan ia juga tak berani untuk bertanya. "Gue juga enggak tahu," jawabnya dengan nada sumbang. Gadis itu juga tengah bingung dengan perasaannya sendiri. Ia khawatir dengan kesehatan Nusa. Namun, di sisi lain dirinya juga takut. Pikiran buruk akan sosok itu menghantuinya sejak ia mendengar percakapan Nusa dan ibunya dua hari lalu.

"Menurut lo, mungkin enggak kalau Nusa punya saudara atau kembaran gitu?" tanya Pinka ragu.

Evelyn mengernyit. "Bukannya lo yang kenal dulu sama dia sejak TK, ya?" tanya balik Evelyn.

Pinka berbalik memikirkan banyak hal. "Gue cukup sering berinteraksi sih dulu. Tapi bukan yang temanan baik-baik kayak sekarang. Kita dulu musuh bebuyutan karena dia nyebelin parah. Makanya pas tahu kalau dia SD sampai SMP di luar negeri, gue ada bayangan dia bakalan jadi makin sombong dan nyebelin. Tapi pas ketemu dia lagi di kelas yang sama, gue merasa ... dia orang yang beda," tutur Pinka, "bahkan luka jahitan di atas alis dia bekas kita berantem pas kecil dulu juga ilang."

"Kan sekarang gampang, Ka, kalau cuma ngilangin bekas luka," jawab Evelyn.

"Iya sih ... tapi gue tetap ngerasa ada yang aneh sama Nusa. Kayak ada sesuatu yang disembunyiin dari gue," Pinka berkata setengah menerawang, "dari kita. Dari orang-orang,"koreksinya.

Evelyn tak lagi menanggapi. Suasana justru berubah menjadi hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

***

Nusa SagaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang