Hanya sekedar mengagumimu. Tanpa bicara. Tanpa kata. Tanpa perlu balasan rasa. Terkadang itu sudah lebih dari cukup.
Benar-benar cukup.
°
°
°
Suara tapak sepatu terdengar, memecahkan kesunyian koridor belakang kelas. Bergegas.
"Anjir si Pandi, gara-gara lu kita hampir kena setrap Suripto!"
"Alah siah, lu aja yang lama!" seorang pemuda jangkung dengan seragam SMA dikeluarkan itu menghentikan langkah. Mendongak, menatap tembok tinggi di depannya.
Sementara kawannya di belakang mengatur napas, ngos-ngosan.
"Lah, ngapa bengong? Ayok cepet!" serunya dengan napas patah-patah.
"Gue nungguin elu goblok!" si pemuda jangkung cekatan melompat, menggapai bibir tembok. Mudah saja, badannya sudah di atas. Dia mengulurkan tangan, "Gasss—"
"HEI, KALIAN MAU BOLOS LAGI HAH?! BALIK KE KELAS!!!"
"Anjir, Suripto!" temannya dengan bet nama 'Pratama Heksa' berseru panik. Fandi—yang sudah di atas— apalagi, pemuda itu batal mengulurkan tangan dan malah lompat ke sebelah. Meninggalkan kawannya begitu saja.
"Belegug juga tuh Pandi anjeng! Gue ditinggal!" Tama kalang kabut. Apalagi Pak guru killer yang hobi nyetrap muridnya itu semakin dekat. Tama bergegas melompat, melarikan diri.
"TAMA!!!"
o0o
Cabut. Bolos. Nongkrong di Warbet—Warung Bu Retno yang terletak di hadapan lapangan belakang sekolah. Basecamp-nya anak-anak Pilar Bangsa.
Sebuah rumah sederhana yang menjual aneka makanan khas anak sekolahan. Tempat ini selalu ramai anak SMA. Laki-laki. Bahkan warung Bu Retno menjadi tongkrongan favorit mereka.
Seperti saat ini.
Ada sekitar 4 cowok SMA tengah duduk melingkar di sebuah meja di halaman Warbet. Keberadaannya sedikit tertutup oleh rimbunnya pohon matoa di atasnya.
"Pandi anjeng!" Pratama yang baru datang langsung duduk dan menyambar es teh yang hendak diminum temannya.
"Atuhlah, anaknya Badrun minta dislepet ini mah." cowok dengan rambut cepak itu mendengus kesal saat minumannya diambil paksa. Ada nametag di seragam, bertuliskan 'Sananta Adilan Lim', Chindo asal Bandung yang menjabat sebagai Waketos SMA Pilar Bangsa.
"Baru tau lu, kalo si Tama emang nggak modal?" cowok bertindik di telinga kiri itu menoleh sambil menjauhkan rokok di tangannya. "Modal belagu doang sih!"
"Sianjing!" Tama melotot.
"Sabar Prat! Sabar! Orang sabar pantatnya kelap-kelip!" teman satunya, dia memakai dasi di lengannya, mencoba menenangkan. Namanya Saiful Abdurahman.
"Bacod lu, Pul!" Tama tambah emosi melihatnya. "Panggil gue Tama, bukan Prat! Lu kata gue kentut prat-prot prat-prot?!"
Tama mengalihkan pandang pada Fandi yang santai adem ayem menyeruput es guday sambil memainkan hp kentangnya.
"Apa?" pemuda itu menyadari tatapan Tama meski tidak melihatnya.
"Belegug lu Pan, kagak setia
kawan!" sembur Tama. "Ini kalo gue ketangkep Suripto, auto dijemur di lapangan depan kita tuh!" di tempat duduk mereka, bisa langsung melihat lapangan itu. Hanya di pisahkan jalan aspal saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
LAKUNA.
Jugendliteratur"Yang ku abadikan dalam cerita ini. Untukmu, sebuah rindu yang tak pernah mampu meminta temu. Dalam uluran sang waktu." ©2024 - by Aksa
