Ketika cerita kita telah usai, kupikir akan benar-benar selesai sampai di sana. Aku mencoba untuk melangkah seperti biasa, tapi gagal. Aku akan selalu kembali, sekedar untuk melihat kamu.
—Rafanendra Arsa Dirgantara.
°
°
"WOI KAS NGGAK LU SEMUA?!!"
Hari ini hari Senin. Masih pagi, begitu menduduki bangku kelas, sang bendahara langsung datang memalak dengan garang. Tak memperdulikan meski pagi ini gerimis mulai turun dan hawa dingin yang begitu terasa. Kas sudah harus menjadi kewajiban warga kelas.
"Eh neng geulis," Dilan yang baru saja meletakkan tas hanya cengar-cengir melihat Bu bendahara mendatangi sambil membawa buku catatan kas. Pemuda itu duduk di bangku samping Fandi yang asyik menyuap bekal yang ia bawa dari rumah.
"Dilanda banjir," gadis berambut sebahu dengan bet nama bertuliskan 'Ela Sindi' atau yang akrab dipanggil Ela kini melihat buku yang ia bawa. "Lu nunggak kas sepuluh kali. Seminggu lima rebu, jadi sekarang bayar 50 rebu. Nggak boleh kredit. Harus tunai!"
Fandi tertawa bagaimana Ela menyebut nama Dilan.
"Asw lu, Pan." Dilan melotot melihat temannya ini malah mengolok-oloknya. Berbalik pandang pada Ela yang berdiri menunggunya. "Eeee, gue nggak bawa uang receh."
Ela memutar mata malas. Dia menerima uang kas yang disodorkan anak lain dan mencatatnya.
"Kang Dilan, uang lu banyak. Tumpah-tumpah. Gausah ngeles lu!"
"Beneran atuh yank, " ucap Dilan sambil mengeluarkan dompetnya. Kini mengambil kartu berwarna hitam dan memberikan pada si gadis.
"Mau nggak? Gue cuma adanya ini."
Rizal yang melihat kartu itu langsung mengelus dada sabar dan tabah. Meski Dilan nggak pamer tapi keliatan jelas dah sekaya apa dia. Tiba-tiba Rizal ingin jadi babu Dilan aja deh, sapa tau tiap gajian bisa bisa Bentley.
Ela melotot. "Maaf, hanya menerima pembayaran tunai."
"Udah kayak ijab aja dibayar tunai." Fandi geleng-geleng melihat interaksi mereka.
"Gausah bacot kau Pandi!" giliran Ela yang menyemprot pemuda itu. "Lu anaknya bapak Dirgantara heh, nih, kas lu nunggak delapan, jadi bayar 40 rebu. Cepet sini duitnya!"
"Banyak amat?" Fandi mengernyit.
"Ho oh Beb," sahut Dilan membuat Ela hendak melempar penghapus papan tulis kearahnya karena memanggilnya 'Beb'.
"Lagian kan kita udah mau lulus, yakali masih bayar kas? Gak laik akang mah."
"Gue cuma narik kas buat yang masih ngutang kayak kalian!" jawab Ela mendengus. "Yang lain udah pada lunas tau. Kalian ini sultan malah suka banget nunggak kas. Nggak malu apa?"
"Ngapain malu?" Fandi menyimpan bekal yang sudah ia makan dan menatap Ela sambil mengernyit. "Toh juga kita bayar. "
"Yodah, ayok bayar!"
"Galak amat sih yank, " gerutu Dilan mencoba mencari uang pecah di saku celana. Hanya menemukan uang lecek berwarna kuning.
"E.... Ini mau nggak?" ucapnya ngenes. Sangat tidak elit sekali.
"DILAN!"
"Pan, pinjem duit lu sini!" melihat Bu bendahara yang semakin suangarr membuat Dilan ketar-ketir juga. Karena tak ada uang pecah, solusi akhir ya ngutang temen dulu.
Fandi menatapnya datar. Tak urung tangannya mengeluarkan uang seratus ribu dan memberikannya pada Ela. "Noh, bayar gue sama Dilan."
"Nah, gini dong!" Ela langsung mengambil uang itu dan mencatatnya. Menyerahkan kembalian sepuluh ribu. "Ngapa gak dari tadi coba? Sultan aja suka ngutang cuih!"
KAMU SEDANG MEMBACA
LAKUNA.
Teen Fiction"Yang ku abadikan dalam cerita ini. Untukmu, sebuah rindu yang tak pernah mampu meminta temu. Dalam uluran sang waktu." ©2024 - by Aksa
